
Indonesia dan Jepang telah mencapai kesepakatan kerja sama ekonomi senilai USD 23,63 miliar atau sekitar Rp 401,71 triliun. Kesepakatan ini melibatkan 11 Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani oleh kedua pihak. MoU tersebut mencakup berbagai bidang seperti pengembangan proyek hilirisasi berbasis energi bersih, produksi metanol dari emisi karbon, eksplorasi dan pengembangan sektor minyak serta gas, pengembangan energi panas bumi, hingga penguatan ekosistem keuangan inklusif dan investasi strategis.
Rosan Roeslani, CEO Danantara, menyampaikan bahwa kesepakatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan internasional terhadap Indonesia tetap besar. “Ini membuktikan bahwa kepercayaan pemerintah Jepang maupun para pengusaha di sana terhadap Indonesia masih kuat dan komitmen mereka bahkan semakin meningkat. Proyek yang akan segera dilaksanakan ini bisa menjadi salah satu yang terbesar,” ujarnya dalam acara di Jepang, Senin (30/3) malam.
Salah satu MoU yang menarik perhatian adalah kerja sama dengan SMBC. Dalam hal ini, terdapat dua entitas SMBC yang terlibat, yaitu SMBC Aviation Leasing dan SMBC Bank. Nilai investasi dari MoU ini mencapai ratusan juta dolar.
“Ada penandatanganan antara SMBC Aviation Leasing dan Danantara untuk investasi sekitar USD 800 juta. Selain itu, Pegadaian juga mendapatkan pendanaan dari SMBC Bank sebesar Rp 5 triliun atau sekitar USD 300 juta,” tambah Rosan.

Di sektor produk kecantikan, terdapat MoU antara PT Nose Herbal Indo dan 2Way World dalam bentuk Indonesia-Japan Strategic Beauty Partnership. Investasi yang terlibat mencapai USD 500 juta.
Sementara itu, di bidang energi, terdapat kerja sama strategis antara PT Pertamina (Persero) dan INPEX untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Indonesia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa total investasi mencapai USD 20,9 miliar.
“Nilai awalnya USD 20,9 miliar. Namun, kemungkinan besar akan meningkat karena situasi geopolitik yang tidak pasti. Setelah implementasi nanti, nilai investasi bisa lebih tinggi,” katanya.
Selain itu, terdapat MoU tentang Hululais Geothermal Power Plant Project antara Pemerintah Indonesia dan JICA. Menurut Bahlil, proyek ini selaras dengan rencana transisi energi ke depan.
“Kita sedang mendorong penggunaan semua potensi energi non-fosil yang kita miliki. Alasannya adalah karena situasi geopolitik yang tidak bisa diprediksi. Kita akan mendorong penggunaan energi panas bumi, air, matahari, dan angin selama teknologinya efisien,” ujarnya.

Berikut daftar MoU yang disepakati Indonesia dan Jepang:
- MoU tentang produksi metanol dengan memanfaatkan emisi CO2 dari PKT di Bontang, Kalimantan Timur antara PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT. Kaltim Methanol Industri;
- MoU tentang kerja sama di bidang perdagangan, niaga, dan investasi antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) dan Japan Chamber of Commerce and Industry;
- Kerja sama strategis untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Indonesia antara PT Pertamina (Persero) dan INPEX;
- MoU untuk peluang kemitraan potensial di sektor hulu minyak dan gas di Indonesia dan Asia Tenggara antara PT Pertamina Hulu Energi dan INPEX;
- MoU tentang Pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia dan Jepang; desain dan manufaktur chip elektronik serta kecerdasan buatan antara PT Eblo Teknologi Indonesia dan Hayashi Kinzoku Co., Ltd.;
- MoU terkait berbagai kajian menuju realisasi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Rajabasa antara PT Supreme Energy Rajabasa dan INPEX;
- MoU antara SMBC Indonesia dan Pegadaian untuk berkontribusi pada ekosistem emas Indonesia serta inklusi keuangan antara PT Pegadaian dan PT Bank SMBC Indonesia;
- MoU tentang Indonesia-Japan Strategic Beauty Partnership antara PT Nose Herbal Indo dan 2Way World;
- MoU tentang Mandiri Aviation Leasing Fund antara Danantara dan Mandiri Investment Management dan SMBC Aviation Capital;
- MoU tentang Penguatan hubungan kerja sama antara JETRO dan PT Danantara Investment Management.
- MoU tentang Hululais Geothermal Power Plant Project antara Pemerintah Indonesia dengan JICA.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











