Isu Kenaikan Harga BBM Memicu Antrean di SPBU Jakarta
Beberapa isu mengenai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan berlaku pada 1 April 2026 mulai muncul. Hal ini dipicu oleh gejolak konflik di kawasan Timur Tengah yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Meski begitu, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah terkait kebijakan tersebut.
Pantauan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta menunjukkan adanya antrean, namun secara umum masih tergolong normal. Antrean tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh panic buying, melainkan aktivitas rutin masyarakat yang membutuhkan bahan bakar untuk keperluan harian.
Antrean di Beberapa SPBU Jakarta
Di SPBU Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, terlihat antrean yang cukup panjang baik untuk BBM bersubsidi maupun non-subsidi seperti Pertamax. Hedi, seorang warga Tebet, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa ia baru saja mengisi bensin di SPBU tersebut. Ia mengaku belum mengetahui pasti tentang isu kenaikan harga BBM tersebut.
“Kalau soal isu BBM naik sih udah baca-baca di media sosial ya dampak itu (konflik timur tengah). Tapi kalau soal antrean, di pom sini emang antre terus,” kata Hedi ketika ditemui, Senin malam.
Ia rela mengantre karena ingin memastikan dirinya tidak kerepotan saat berangkat bekerja esok hari. Apalagi, jalur kerjanya jarang ditemui SPBU.
Selain itu, penulis juga mencoba mengamati SPBU Pertamina di kawasan Mampang, Prapatan, Jakarta Selatan. Di sana, antrean juga terlihat mengular khususnya di bagian sepeda motor. Ada belasan pengendara yang terlihat mengantre untuk mengisi bahan bakar sepeda motornya.
Namun, sama dengan di SPBU Jalan Gatot Subroto, mayoritas pengendara mengatakan jika pom bensin itu memang selalu antre.
Berbeda dengan SPBU lainnya, di SPBU Pertamina di Jalan Raya Pasar Minggu, tepatnya di dekat Monumen Patung Dirgantara atau Patung Pancoran, Jakarta Selatan, terpantau sepi tanpa adanya antrean yang mengular. Hanya ada beberapa sepeda motor yang menunggu gilirannya untuk mengisi bahan bakar jenis Pertamax.
Seorang petugas SPBU, Sugeng, pun belum bisa mengamini soal isu kenaikan harga BBM tersebut saat ini. Harga, disebutnya masih disesuaikan dengan harga yang lama.
“Sekarang sih (harga) masih sama kayak kemarin. Namanya isu kan bisa bener, bisa enggak. Coba aja tunggu sampai besok malam (Selasa malam)” ucap Sugeng.
Perubahan Harga BBM Non-Subsidi
Pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah produk BBM non-subsidi di Indonesia mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 menjadi Rp12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.
Untuk jenis solar non-subsidi, harga Dexlite naik dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter.
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih ditahan masing-masing di harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Respons Pemerintah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan sinyal mengenai arah kebijakan harga BBM subsidi menyusul lonjakan harga minyak dunia yang menembus 115 dolar AS per barel.
Bahlil menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto sangat mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah sebelum mengambil keputusan. Jawaban ini sekaligus merespons isu akan potensi kenaikan harga per 1 April mendatang.
Bahlil meminta publik untuk memercayakan keputusan tersebut kepada Presiden Prabowo selaku kepala negara. Dia meyakini Eks Danjen Kopassus itu punya hati untuk memperhatikan nasib rakyat kecil.
“Insyaallah atas arahan Bapak Presiden untuk BBM subsidi sampai dengan sekarang saya pikir Bapak Presiden punya hatilah untuk memperhatikan rakyat kecil. Percayalah nanti tunggu tanggal mainnya Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” ujar Bahlil saat ditemui di lokasi penginapan Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).
Bahlil memahami tekanan geopolitik global membuat harga minyak mentah melonjak tinggi. Akan tetapi, pemerintah tetap mengupayakan stabilitas di dalam negeri.
“Harga sekarang sudah mencapai 115 dolar. Di dalam negeri masih stabil. Bapak Presiden kita ini kan tiap hari memikirkan tentang bagaimana pembangunan negara tapi juga bagaimana memperhatikan kebutuhan dan kondisi masyarakat kita di bawah,” tambahnya.
Terkait dengan rencana kenaikan harga, Bahlil menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah melindungi golongan masyarakat yang berhak menerima subsidi. Ia pun meminta doa agar proses komunikasi internasional yang sedang dilakukan berjalan lancar.
“Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya insyaallah saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan tentang kondisi masyarakat. Insyaallah baik nanti tunggu tanggal mainnya ya,” tegasnya.
Di sisi lain, Bahlil menjelaskan bahwa untuk BBM non-subsidi atau sektor industri, harga akan tetap mengikuti fluktuasi pasar sesuai regulasi yang berlaku. Menurutnya, kelompok masyarakat mampu tidak seharusnya menjadi tanggungan negara dalam hal konsumsi bahan bakar.
“Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, 98 itu kan orang-orang yang mampulah seperti mohon maaf contoh Pak Rosan, Pak Seskab masa pakai minyak subsidi ya kan? Dan selama mereka mau jalan banyak selama ada uang untuk bayar monggo tugas negara menyiapkan yang membayar mereka itu tidak ada tanggungan negara sama sekali,” katanya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











