Perjalanan Nuril Hudiya: Dari Buku ke Prestasi Akademik
Buku menjadi salah satu kunci utama yang membawa Nuril Hudiya meraih berbagai prestasi akademik selama masa sekolahnya. Mulai dari MIN 14 Banjar, MTs Hidayatullah Martapura, hingga SMKN 1 Martapura, ia selalu menunjukkan dedikasi dan semangat belajar yang luar biasa.
“Bagi saya, prestasi bukan hanya tentang penghargaan, tetapi tentang proses belajar, kedisiplinan, dan doa yang menyertai setiap usaha,” ujarnya. Kebiasaan membaca yang terus dipelihara sejak kecil memberinya wawasan dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dalam pendidikan.
Kini, ia sedang menjalani studi di Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam (IAI) Darussalam, Martapura. Hobi membacanya tidak pernah surut, bahkan semakin berkembang. Ia mulai benar-benar suka membaca sejak masa pandemi. Waktu itu lebih banyak di rumah dan aktivitas terbatas. Awalnya hanya karena bosan memainkan ponsel, akhirnya mencoba membaca novel yang ada di rumah. Dari situ, ia pelan-pelan menjadikannya kebiasaan.
Lingkungan keluarga juga turut memengaruhi minat baca Nuril. Ayahnya adalah seorang profesor di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat buku di rumah. Meskipun awalnya belum memahami sepenuhnya, suasana tersebut membuatnya merasa buku bukan sesuatu yang asing.
Nuril juga memiliki hobi menyanyi dan traveling. Ia tertarik pada novel dengan tema kehidupan, perjuangan, dan cinta yang mengajarkan kedewasaan. Selain itu, ia senang membaca buku sastra yang menggambarkan realitas sosial dan nilai sejarah, karena dari sana ia belajar memahami sudut pandang yang lebih luas.
Selain itu, ia juga menyukai buku motivasi dan pengembangan diri yang membantunya membangun pola pikir positif. Buku-buku bertema nasihat Islami dan pendidikan juga menjadi bagian dari bacaannya, karena memberikan penguatan nilai dan prinsip dalam menjalani kehidupan sebagai perempuan dan pelajar.
Bagi Nuril, buku yang baik adalah buku yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi pelajaran dan membuat kita merenung. Beberapa koleksi bukunya antara lain:
- Alias
- Ingkar
- Tak Sempurna
- 11.11 Fiersa Besari
- Bumi Manusia
- What’s So Wrong About Your Life
- Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa
- Dilan 1990
- 55 Nasihat Bagi Wanita Sebelum Menikah
- Guru Gokil Murid Unyu
- Bila Kau Cinta Datanglah pada Orang Tuaku
- Al-Tahrir
Buku-buku tersebut menemani prosesnya belajar memahami kehidupan, cinta, pendidikan, serta perjalanan menjadi pribadi yang lebih dewasa. Buku yang paling berkesan baginya adalah Bila Kau Cinta Datanglah pada Orang Tuaku. Buku ini mengajarkan bahwa cinta bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang tanggung jawab dan keseriusan.
“Saya belajar bahwa sesuatu yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. Nilai tentang menghormati orangtua, menjaga diri, dan menempatkan hubungan dalam bingkai adab sangat terasa dalam buku ini,” paparnya.
Jadinya, buku bukan sekadar bacaan, tetapi pengingat bahwa dalam setiap langkah kehidupan, terutama dalam urusan hati dan masa depan, kita harus tetap memegang prinsip dan nilai yang benar.
Tips Menghabiskan Waktu dengan Membaca
Nuril juga punya tips agar betah membaca. Menurutnya, supaya betah membaca kita harus punya alasan sendiri dulu kenapa ingin membaca. “Jangan sampai terasa seperti beban. Anggap saja itu sebagai kebutuhan untuk diri sendiri,” katanya.
Lanjutnya, mulai saja dari bacaan yang ringan dan sesuai dengan minat, nanti kalau sudah nyaman bisa pelan-pelan mencoba yang lebih menantang. Baca di tempat yang bikin tenang dan usahakan jauh dari hal-hal yang bisa mengganggu fokus. Tak perlu lama, yang penting rutin.
“Kalau sudah terbiasa, membaca itu bakal terasa ringan dan tanpa sadar jadi bagian dari keseharian,” pungkasnya.











