My WordPress Blog
Budaya  

Barian Apem, Tradisi Warga Sukodono Jepara Saat Syawal

Tradisi Unik Barian Apem di Desa Sukodono, Jepara

Masyarakat Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara memiliki tradisi yang unik dalam merayakan momentum Lebaran dengan nama “Barian Apem”. Tradisi ini menjadi cara masyarakat untuk menyampaikan rasa syukur, saling memaafkan, serta menjaga kerukunan antar warga.

Barian Apem merupakan ritual tahunan yang dilaksanakan setiap Jumat Pon pada bulan Syawal. Acara ini biasanya digelar setelah salat Subuh di Kantor Kepala Desa setempat. Pada momentum Syawal 1447 H/2026, Barian Apem Sukodono digelar pada Jumat (27/3/2026).

Sejak pukul 05.00, warga laki-laki dari Desa Sukodono mulai berdatangan ke balai desa sambil membawa bakul berisi kue apem. Mereka berkumpul di aula balai desa sejak pagi buta, layaknya mengikuti kegiatan halal bihalal. Setiap penduduk membawa cangkingan kue apem jumbo dengan diameter sekitar 20 sentimeter.

Kue apem khas Sukodono ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan kue apem pada umumnya. Meski tidak diketahui pasti kapan tradisi ini dimulai, masyarakat percaya bahwa Barian Apem adalah tradisi leluhur yang terus dijaga secara turun-temurun.

Jenis makanan yang dibawa adalah kue apem yang diproduksi langsung oleh warga sendiri. Berbeda dengan tradisi Syawalan di tempat lain yang biasanya menggunakan lontong opor atau kupat lepet, kue apem menjadi makanan utama dalam acara ini.

Kata “apem” berasal dari bahasa Arab “afwan” atau “afuwwun” yang berarti ampunan atau memaafkan. Tradisi ini melambangkan permohonan maaf kepada sesama dalam bentuk silaturrahim atau halal bihalal, serta memohon ampunan kepada Tuhan Semesta Alam.

Setelah semua berkumpul di balai desa, apem yang dibawa warga dikumpulkan dalam satu tempat. Selanjutnya, doa-doa khusus dalam bahasa Jawa dipanjatkan untuk memohon keselamatan, rizki yang lapang, dan ampunan bagi seluruh warga Sukodono.

Tahapan ini merupakan bagian dari ritual selamatan yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Sukodono. Doa-doa dilantunkan dengan khidmat, dipimpin oleh tetua desa setempat, lengkap dengan penghormatan kepada leluhur, Nabi dan Rasul, serta tokoh spiritual yang diyakini memberikan berkah.

Apem yang telah dikumpulkan ditutup dengan daun pisang selama doa-doa dipanjatkan. Setelah itu, apem disantap bersama-sama dengan tambahan juroh atau kuah campuran gula dan santan agar lebih nikmat.

Kepala Desa Sukodono, Sagiman, menjelaskan bahwa Barian Apem adalah tradisi turun-temurun yang masih dijaga hingga kini. Menurutnya, tradisi ini sudah berlangsung cukup lama dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut Sagiman, apem berukuran jumbo bukan tanpa sebab. Ukuran besar menandakan tekad besar warga Sukodono dalam meminta maaf, bersyukur, dan menjaga kerukunan satu sama lain. Kue apem khas Sukodono juga bisa dipesan untuk kegiatan khusus seperti selamatan.

Saat ini, ada sekitar 15 perempuan di Desa Sukodono yang memiliki keterampilan khusus dalam membuat kue apem jumbo. Mereka menjaga kualitas dan rasa yang khas, yaitu manis dan gurih. Karena ukurannya yang besar, satu kue apem bisa dinikmati 2-3 orang. Terkadang, satu orang bisa menghabiskannya dalam keadaan lapar.

Dalam rangka pelestarian tradisi budaya, masyarakat Sukodono juga menggelar Festival Suguh Apem secara berkala. Tradisi ini menjadi bagian dari upaya melestarikan makanan tradisional berupa kue apem, yang digelar setiap dua tahun sekali. Festival ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kue apem khas Desa Sukodono.

“Kami akan terus berupaya menjaga tradisi yang dimiliki masyarakat Desa Sukodono agar tetap terjaga dan lestari,” ujarnya.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *