Penetapan Tersangka Korupsi di Sulsel: Peran Kajati Didik Farkhan Alisyahdi yang Menarik Perhatian
Didik Farkhan Alisyahdi, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan (Sulsel), mendadak menjadi sorotan setelah mengungkap kasus dugaan korupsi yang melibatkan Eks Pj Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin. Dengan hanya 5 bulan menjabat sebagai Kajati Sulsel, ia langsung mengambil langkah tegas dengan menahan tersangka dalam kasus tersebut.
Kasus ini terkait dugaan korupsi pengadaan bibit nanas yang merugikan negara hingga Rp50 miliar. Didik Farkhan Alisyahdi memimpin penyidikan dan akhirnya menetapkan Bahtiar Baharuddin sebagai tersangka. Langkah cepat dan tegas ini menunjukkan komitmennya terhadap penegakan hukum.
Latar Belakang Karier Didik Farkhan Alisyahdi
Sebelum menjabat Kajati Sulsel, Didik Farkhan Alisyahdi pernah menjabat sebagai Inspektur Keuangan II pada Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejaksaan Agung. Tugasnya mencakup pemeriksaan kinerja dan akuntabilitas di lingkungan kejaksaan serta pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di berbagai bidang.
Didik lahir di Desa Sumbertlase, Kecamatan Dander, Bojonegoro, Jawa Timur, pada 18 Oktober 1971. Ia menamatkan pendidikan di SMAN 2 Bojonegoro pada tahun 1989, lalu melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan lulus pada tahun 1993. Selama menjadi jaksa, ia juga menempuh pendidikan S2 di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan lulus pada tahun 2005. Pada tahun 2021, ia meraih gelar doktor dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga.
Perjalanan Karier di Berbagai Daerah
Didik Farkhan Alisyahdi pernah menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) di kampung halamannya, Bojonegoro, kemudian di Malang dan Surabaya. Di Surabaya, ia menjabat bersamaan dengan Tri Rismaharini yang menjabat Wali Kota Surabaya. Setelah itu, ia diangkat sebagai Asisten Penyidik Khusus (Aspidsus) Kejati Jawa Timur.
Pada 2025, Didik Farkhan Alisyahdi ditunjuk sebagai Kajati Sulsel. Ia mulai bertugas menjelang ulang tahunnya yang ke-54. Salah satu kasus pertama yang ditangani adalah dugaan korupsi pengadaan bibit nanas senilai Rp60 miliar. Lima bulan setelah bertugas, ia menahan Bahtiar Baharuddin, yang sebelumnya menjabat sebagai Pj Gubernur Sulsel dari 5 September 2023 hingga Mei 2024.
Modus Operandi Kasus Korupsi Bibit Nanas
Dalam penyidikan kasus ini, penyidik menemukan banyak indikasi perbuatan melawan hukum. Mulai dari perencanaan yang tidak sesuai ketentuan, seperti tidak adanya proposal awal. “Bibit nanas seharusnya diberikan secara hibah, tetapi tidak ada proposal yang disiapkan terlebih dahulu,” ujar Didik Farkhan Alisyahdi.
Lahan untuk penanaman bibit juga tidak disiapkan sejak awal. “Lahannya pun tidak ada. Tidak ada perencanaannya sehingga ketika bibit datang jumlahnya 4 juta itu tidak bisa ditaruh di PTPN,” tambahnya. Akibatnya, sekitar 3,5 juta bibit mati, menyebabkan kerugian negara hingga Rp50 miliar lebih.
Riwayat Jabatan Didik Farkhan Alisyahdi
Berikut adalah riwayat jabatan Didik Farkhan Alisyahdi selama karier kejaksaannya:
- Kepala Sub Seksi Sosial dan Politik Kejaksaan Negeri Bojonegoro, 1998–2000
- Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Martapura, 2000–2002
- Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Kepanjen, 2002–2003
- Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, 2003–2005
- Kepala Seksi Pra Penuntutan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, 2005–2008
- Kepala Seksi Ekonomi dan Moneter Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, 2008–2009
- Kepala Sub Bagian Pengadaan Pegawai Kejaksaan Agung, 2009–2011
- Koordinator pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, 2011–2012
- Kepala Kejaksaan Negeri Sangatta, 2012–2014
- Kepala Bagian Pengembangan Pegawai Kejaksaan Agung, 2014–2015
- Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, 2015–2017
- Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, 2017–2019
- Koordinator pada JAM Intelijen Kejaksaan Agung, 2019
- Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, 2019–2020
- Kepala Pusat Daskrimti Kejaksaan Agung RI, 2020–2023
- Kepala Kejaksaan Tinggi Banten, 2023–2024
- Inspektur II Jamwas Kejagung, 2024–2025
- Kajati Sulsel, 2025
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











