Eskalasi Tegang Antara Amerika Serikat dan Iran
Situasi yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat tajam. Pada hari ini, Selasa (24/3/2026), waktu yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk Iran membuka akses Selat Hormuz telah habis. Hal ini menandai peningkatan ketegangan yang luar biasa antara kedua negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Minggu (22/3/2026) mengunggah ultimatum melalui media sosial Truth Social miliknya. Dalam unggahan itu, Trump secara terbuka memberi waktu kepada Teheran hingga Selasa (24/3/2026) agar membuka akses Selat Hormuz untuk pelayaran global. Trump menggunakan sumber listrik Iran sebagai ancaman jika permintaannya tidak dipenuhi.
“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!” tulisnya.
Menanggapi ultimatum ini, Iran bergeming dengan ancaman yang sama. Iran sebelumnya juga sudah memperingatkan lawan-lawannya agar tidak mengganggu fasilitas energi apapun milik mereka, jika hal ini dilanggar maka Iran menjadikan semua fasilitas Amerika di kawasan teluk sebagai target yang sah.
“Menindaklanjuti peringatan sebelumnya, jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, maka semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS serta sekutunya di kawasan akan menjadi sasaran,” kata komando operasional militer Iran, Khatam Al-Anbiya, seperti dilaporkan AFP.
Pernyataan IRGC
Mengutip PressTV, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap Iran akan dibalas secara proporsional dan bersifat pencegahan. Dalam pernyataan pada Senin (23/3/2026), IRGC menanggapi klaim terbaru Donald Trump yang menuduh bahwa mereka bermaksud menargetkan pabrik desalinasi regional dan mengganggu layanan bagi penduduk setempat.
“Pertama, tentara Amerika yang agresif dan tidak manusiawi-lah yang memulai perang ini dengan membunuh anak-anak, termasuk 180 siswa sekolah dasar, serta menargetkan lima lokasi infrastruktur air, termasuk pabrik desalinasi di Pulau Qeshm,” bunyi pernyataan tersebut.
Pernyataan itu merujuk pada serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari, saat AS dan Israel memulai serangan terbaru terhadap Iran, serta serangan lanjutan di wilayah selatan Iran selama konflik tersebut.
“IRGC tidak melakukan tindakan seperti itu,” tambahnya.
Pernyataan itu juga menyebutkan sejumlah serangan lain yang diklaim dilakukan pihak lawan, yang disebut tidak dibalas oleh IRGC.
“Anda menyerang rumah sakit kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang pusat bantuan kami. Kami tidak membalas. Anda menyerang sekolah kami. Kami tidak membalas.”

Pernyataan itu kemudian menanggapi ancaman Trump untuk menargetkan fasilitas listrik Iran, serta menjanjikan pembalasan setimpal.
“Namun, jika Anda menyerang rantai pasokan listrik kami, kami akan menyerang rantai pasokan listrik Anda.”
IRGC juga menyatakan bahwa pembalasan Iran akan menargetkan pembangkit listrik yang melayani pangkalan AS, serta lokasi ekonomi, industri, dan energi yang terkait dengan kepentingan Amerika.
Pernyataan tersebut diakhiri dengan penegasan kemampuan militer Iran.
“Kami bertekad untuk menanggapi setiap ancaman secara setara untuk menciptakan efek jera yang seimbang, dan kami akan melaksanakannya.”
“Amerika Serikat tidak mengetahui kemampuan kami; mereka akan menyaksikannya di medan perang.”
Penutupan Selat Hormuz
Sejauh ini, IRGC mengklaim telah menyerang sejumlah target strategis Amerika dan Israel di kawasan sebagai bagian dari Operasi True Promise 4.
Mengutip NDTV, Iran menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas pelayaran, terutama bagi negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran sejak 28 Februari 2026.

Sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut. Penutupan ini memaksa negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut untuk mencari rute alternatif dan memanfaatkan cadangan energi.
Kondisi ini juga mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang berpotensi memicu inflasi global jika konflik terus berlanjut. Sejumlah negara seperti Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Korea Selatan, Australia, UEA, dan Bahrain telah mengutuk penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, sebelumnya memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak akan segera kembali ke kondisi normal sebelum perang.
“Bahkan dalam skenario terbaik, untuk kembali sepenuhnya dibuka membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada amunisi yang belum meledak yang mengambang di sekitar. Mungkin juga terdapat ladang ranjau, serta ketegangan tinggi dari pasukan keamanan di kedua sisi,” kata Luckyn-Malone.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











