Penyerangan Air Keras terhadap Aktivis Andrie Yunus: Tanda Tanya yang Membesar
Kasus penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, masih menjadi perhatian publik. Kejadian ini terjadi pada Kamis (12/3/2026), ketika Andrie menjadi korban penyiraman air keras. Saat ini, masyarakat dan berbagai pihak mulai mempertanyakan siapa pelaku sebenarnya serta siapa di balik aksi brutal tersebut.
Selain itu, kejanggalan dalam pengambilalihan yurisdiksi penyelidikan oleh TNI dari tangan Kepolisian juga menjadi sorotan. Publik menginginkan aparat untuk dapat mengungkap sosok aktor intelektual di balik serangan ini.
Analisis dari Ubedilah Badrun
Analis Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Aktivis 98, Ubedilah Badrun, menyoroti kemiripan pola penanganan kasus ini dengan tragedi yang pernah menimpa mantan senior penyidik KPK, Novel Baswedan. Ia meragukan bahwa kasus ini akan menyentuh dalang utama jika aparat hanya berhenti pada eksekutor lapangan dengan merekayasa dalih “dendam pribadi”.
Ubedilah menegaskan bahwa serangan ini merupakan imbas dari ketersinggungan kelompok tertentu atas kritik keras Andrie Yunus terhadap wacana penguatan militerisme dalam Undang-Undang TNI. Menurutnya, ini adalah pertarungan nyata antara demokrasi dan militerisme.
Tiga Dugaan Siapa Dalangnya
Terkait siapa dalang di balik peristiwa nahas ini, Ubedilah memaparkan tiga analisis dugaan yang saling beririsan:
-
Analisis pertama mengarah pada logika komando di dalam tubuh Badan Intelijen Strategis (BAIS). Dalam struktur militer, sangat mustahil prajurit aktif melakukan tindakan fatal dan berisiko tinggi tanpa adanya perintah langsung dari atasan. Oleh karena itu, dugaan kuat mengarah pada pimpinan di institusi tersebut, mengingat keempat terduga pelaku yang diamankan berasal dari BAIS.
-
Dugaan kedua menyoroti keterlibatan oknum tentara aktif yang menduduki jabatan strategis di lingkaran Istana. Posisi ganda ini memungkinkan adanya inisiatif pribadi untuk “menunjukkan jasa” pengamanan kepada pimpinan tertinggi negara, atau justru bertindak murni atas perintah petinggi.
-
Hipotesis ketiga mengindikasikan adanya campur tangan kekuatan politik besar yang sedang berseteru. Dalam skenario ini, para eksekutor lapangan tergiur oleh dukungan finansial untuk melakukan pembusukan institusi di tengah ketegangan faksi politik elite, misalnya perseteruan antara kekuatan politik Jakarta dan Solo.
Langkah Instan TNI Dikritik
Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, mengkritik keras langkah instan TNI yang tiba-tiba mengambil alih penyelidikan, padahal polisi telah memegang bukti kuat berupa 2.610 gambar dari 86 titik CCTV. “Dua pelaku yang terekam CCTV itu jelas-jelas tidak memakai atribut militer, melainkan sipil. Peristiwanya juga terjadi di jalan umum, jauh dari wilayah militer. Lalu berdasar apa tiba-tiba TNI melakukan penyelidikan?” kata Ray dalam diskusi yang sama.
Investigasi Independen TAUD
Empat orang sudah diamankan terkait kasus penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus. Namun hingga kini belum ada keterangan terbaru dari Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI.
Investigasi independen Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengidentifikasi adanya belasan orang pelaku yang diduga kuat saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian. Informasi itu didapat dari kamera pengawas milik Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Pemotor Berseragam Ojek Online
TAUD juga mendapati pelaku penyiraman yakni pengendara motor yang membuntuti Andrie di TKP menggunakan helm biru, terlihat di sekitar Gedung YLBHI beberapa jam sebelum kejadian mengenakan jaket atribut ojek online (ojol) berwarna hijau.
Operasi Terencana, Tolak Peradilan Militer
Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, menduga kuat serangan ini adalah operasi terencana yang berkaitan erat dengan rekam jejak Andrie Yunus sebagai tim pencari fakta dalam kerusuhan Agustus 2025. Koalisi Masyarakat Sipil secara resmi menolak proses peradilan militer yang kerap menjadi ruang impunitas. Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen bersama Komnas HAM, serta menuntut agar para pelaku, beserta aktor intelektualnya, diadili di peradilan umum.
Korban Masih Di RSUP Cipto Mangunkusumo
Saat ini, korban Andrie Yunus masih terbaring lemah di RSUP Cipto Mangunkusumo usai menjalani operasi cangkok kulit akibat luka bakar 24 persen dan kerusakan sel punca kornea mata akibat cairan korosif.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











