My WordPress Blog

ISI Yogyakarta buka jalur RPL 2026, seniman bisa lanjutkan studi tanpa mulai dari awal

ISI Yogyakarta Membuka Jalur RPL untuk Penerimaan Mahasiswa Baru 2026

Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kembali membuka jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 2026. Jalur ini bertujuan untuk memberikan akses pendidikan tinggi seni yang lebih luas, terutama bagi para pelaku seni yang memiliki pengalaman profesional tetapi belum memiliki latar belakang akademik formal.

Tujuan dan Manfaat RPL

RPL memungkinkan pengalaman profesional di bidang seni diakui sebagai bagian dari pendidikan tinggi. Dengan demikian, calon mahasiswa tidak perlu memulai seluruh proses studi dari awal. Proses ini juga menjadi langkah kampus untuk mengakui berbagai bentuk pembelajaran yang diperoleh masyarakat di luar jalur pendidikan formal.

Rektor ISI Yogyakarta, Irwandi, menjelaskan bahwa banyak pelaku seni memiliki pengalaman panjang dan kompetensi profesional, tetapi belum memiliki kualifikasi akademik. Melalui RPL, pengalaman tersebut dapat dinilai sebagai capaian pembelajaran akademik.

Regulasi dan Persyaratan

Penyelenggaraan RPL di lingkungan ISI Yogyakarta telah diatur melalui Peraturan Rektor Nomor 4 Tahun 2025 tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau. Regulasi ini memberikan dasar hukum bagi pengakuan capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja.

Calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur RPL diminta menyusun evaluasi diri terhadap capaian pembelajaran yang telah dimiliki, disertai bukti pendukung seperti portofolio karya, pengalaman profesional, sertifikat pelatihan, maupun dokumentasi kegiatan seni. Seluruh dokumen tersebut kemudian diverifikasi oleh tim asesor dari masing-masing program studi.

Program Studi yang Terbuka

Pada tahun akademik 2026, jalur RPL dibuka untuk sejumlah program studi sarjana, yaitu:

  • Seni Murni
  • Fotografi
  • Tari
  • Etnomusikologi
  • Desain Interior
  • Film dan Televisi

Program-program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan para praktisi seni yang selama ini aktif berkarya tetapi belum memiliki latar belakang akademik formal.

Melalui mekanisme RPL, pengalaman kreatif seperti produksi karya, pameran, pertunjukan, hingga keterlibatan dalam industri kreatif dapat dikonversi menjadi pengakuan akademik setelah melalui proses asesmen yang sistematis.

Fakultas Seni Rupa dan Desain

Di Fakultas Seni Rupa dan Desain, jalur RPL dibuka pada Program Studi Seni Murni dan Desain Interior. Program Studi Seni Murni memberi peluang bagi pelukis, pematung, pegrafis, kurator seni, maupun pengelola kegiatan seni untuk mengembangkan kapasitas akademik mereka, dengan profil lulusan yang diharapkan mampu berperan sebagai seniman, peneliti seni rupa, kurator, hingga creativepreneur.

Sementara itu, Program Studi Desain Interior membuka kesempatan bagi praktisi desain yang telah bekerja di bidang konsultan interior, furnitur, visual merchandising, maupun industri kreatif untuk memperoleh pengakuan akademik sekaligus memperdalam metodologi desain dan penelitian.

Program Studi Fotografi dan Film dan Televisi

Selain itu, jalur RPL memberi ruang bagi praktisi fotografi dari berbagai bidang, mulai dari fotografi komersial, fashion, dokumenter, hingga jurnalistik untuk mengembangkan kemampuan artistik dan konseptual melalui pendekatan riset artistik di Program Studi Fotografi.

Program Studi Film dan Televisi juga membuka jalur RPL bagi para praktisi industri audiovisual. Koordinator Program Studi Film dan Televisi, Latief Rakhman Hakim, menyampaikan bahwa pengembangan jalur ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus memberikan pengakuan akademis bagi praktisi film dan televisi.

Program Studi Tari dan Etnomusikologi

Di bidang seni pertunjukan, Program Studi Tari membuka kesempatan bagi penari, koreografer, maupun penggiat seni pertunjukan untuk memperdalam pemahaman teoritis dan metodologis mengenai seni tari, tidak hanya dalam praktik artistik tetapi juga dalam kemampuan analisis dan penelitian.

Sementara itu, di bidang musik tradisi dan kajian budaya, Program Studi Etnomusikologi memberikan kesempatan bagi praktisi musik etnik, komposer, maupun peneliti musik untuk mengembangkan pendekatan riset etnografi dalam memahami keragaman musik Nusantara dan dunia.

Pendidikan yang Lebih Inklusif

Koordinator Program Studi Etnomusikologi, Dr. Citra Aryandari, mengatakan pembukaan jalur RPL merupakan wujud komitmen untuk menghadirkan pendidikan tinggi seni yang lebih inklusif. “Melalui program ini, pengalaman belajar yang telah ditempuh, baik melalui jalur nonformal, informal, maupun pengalaman kerja di bidang musik dan budaya, dapat diakui dan disetarakan dengan capaian akademik, sehingga tidak perlu memulai dari nol.”

Keunggulan RPL

Salah satu keunggulan jalur RPL adalah kemungkinan pengakuan sebagian besar capaian pembelajaran yang telah dimiliki peserta. Dalam program sarjana yang mewajibkan total 144 SKS, sebagian SKS dapat diakui melalui proses rekognisi. Pada beberapa program studi di ISI Yogyakarta, sekitar 90 hingga 100 SKS dapat diperoleh melalui pengakuan pengalaman belajar sebelumnya, sementara sisanya ditempuh melalui perkuliahan reguler di kampus.

Dengan mekanisme tersebut, mahasiswa tetap memperoleh pengalaman akademik secara utuh sekaligus dapat mempercepat masa studi.

Kebijakan Nasional dan Hubungan Akademik

Pembukaan jalur RPL juga sejalan dengan kebijakan nasional pendidikan tinggi yang mendorong pembelajaran sepanjang hayat. Bagi ISI Yogyakarta, program ini sekaligus menjadi cara untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dengan praktik seni di masyarakat.

Melalui skema ini, pengalaman para praktisi tidak hanya diakui sebagai perjalanan profesional, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipertukarkan di ruang akademik.

Ia berharap semakin banyak pelaku seni dan industri kreatif dapat mengembangkan potensi mereka melalui pendidikan tinggi sekaligus memperkuat ekosistem seni dan budaya Indonesia.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *