My WordPress Blog

Ekonomi India Terancam Akibat Krisis Energi Global dari Perang AS-Israel Lawan Iran

Dampak Konflik AS-Israel melawan Iran terhadap India

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu krisis energi global, dengan dampak yang dirasakan oleh banyak negara. Salah satu jalur pelayaran strategis yang menjadi fokus adalah Selat Hormuz, yang mengangkut sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Penutupan efektif jalur ini menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam, mengganggu pasokan energi global, dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.

India, yang sangat bergantung pada energi dari kawasan Teluk dan remitansi dari jutaan pekerja migrannya di kawasan GCC, disebut sebagai negara yang berpotensi mengalami dampak paling besar. Lebih dari 80 persen gas dan sekitar 60 persen minyak India diangkut melalui Selat Hormuz. Kini, jalur tersebut berada di pusat ketegangan setelah Iran menggunakan ancaman terhadap pelayaran sebagai bagian dari strategi balasan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel.

Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas membuat jalur tersebut praktis tidak dapat digunakan. Banyak perusahaan asuransi pelayaran juga telah membatalkan perlindungan risiko perang bagi kapal tanker yang melintas di wilayah itu. Situasi semakin memanas setelah sebuah kapal Thailand yang menuju India diserang, yang kemudian menuai kritik dari pemerintah India.

Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap pasokan energi mulai terasa. Sejumlah hotel dan restoran mempertimbangkan untuk menutup operasional sementara. Sementara masyarakat mulai mengantre untuk membeli tabung LPG karena khawatir terjadi kelangkaan. Pemerintah India menyatakan bahwa negara tersebut masih memiliki cadangan energi sekitar satu bulan. Namun kepanikan masyarakat membuat pemerintah terpaksa mengambil langkah darurat untuk mencegah penimbunan LPG.

Harga minyak dunia sempat melonjak hingga hampir 120 dolar AS per barel sebelum turun ke sekitar 100 dolar AS per barel, yang masih sekitar 40 dolar lebih tinggi dibanding sebelum perang dimulai. Korps Garda Revolusi Islam Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak bisa mencapai 200 dolar AS per barel. Langkah International Energy Agency yang melepaskan 400 juta barel cadangan minyak global belum mampu menstabilkan harga pasar.

Ketergantungan Energi India

Pengamat kebijakan luar negeri dari Observer Research Foundation, Harsh V Pant, mengatakan ketergantungan India pada energi dari Timur Tengah membuat negara tersebut rentan terhadap gejolak konflik. “Keamanan energi India akan sangat terdampak karena negara ini bergantung pada Timur Tengah untuk sebagian besar kebutuhan energinya. Pasar energi sudah sangat volatil dan kenaikan harga dapat memicu tekanan ekonomi dan inflasi,” ujarnya.

Selain energi, India juga menghadapi ancaman terhadap remitansi dari jutaan warganya yang bekerja di negara-negara Teluk. Sekitar 9,1 juta warga India bekerja di negara-negara anggota Gulf Cooperation Council, yaitu Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Oman, Kuwait, dan Bahrain. Mereka mengirim sekitar 50 miliar dolar AS per tahun ke India. Jika perang berkepanjangan, para analis memperingatkan bahwa hilangnya remitansi tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekonomi India.

Mantan duta besar India untuk Arab Saudi, Talmiz Ahmad, menyebut setiap pekerja India di kawasan Teluk biasanya menopang kehidupan empat hingga lima anggota keluarga di tanah air. Artinya, sekitar 40 hingga 50 juta orang di India secara langsung bergantung pada penghasilan para pekerja migran tersebut. Sejumlah pekerja India di sektor konstruksi dan energi di negara Teluk juga mulai khawatir kehilangan pekerjaan karena beberapa perusahaan minyak dan gas menghentikan operasi akibat serangan Iran.

Tantangan Evakuasi Warga

Jika konflik meluas, India juga akan menghadapi tantangan besar untuk mengevakuasi jutaan warganya dari kawasan Teluk. Jumlah warga India di kawasan tersebut merupakan komunitas ekspatriat terbesar. Dari sekitar 35 juta pekerja asing di negara-negara Teluk, lebih dari 9,1 juta berasal dari India, jauh lebih banyak dibandingkan Pakistan yang berada di posisi kedua dengan sekitar 4,9 juta pekerja.

Menurut Ahmad, hampir tidak mungkin mengevakuasi jutaan orang dalam situasi perang. “Tidak ada negara yang mampu mengevakuasi sembilan atau sepuluh juta orang dalam kondisi perang,” ujarnya. Namun ia mengingatkan bahwa India memiliki pengalaman dalam evakuasi besar-besaran, termasuk saat Perang Teluk 1991 ketika hampir 200.000 warga India dipulangkan dari Kuwait setelah invasi Irak pada 1990.

Saat ini, Kementerian Luar Negeri India telah membuka pusat kendali khusus serta hotline 24 jam di kedutaan besar dan konsulat untuk membantu warga negara yang berada di kawasan konflik.

Dilema Kebijakan Luar Negeri India

Konflik ini juga memicu perdebatan politik di dalam negeri India. Partai oposisi Indian National Congress mengkritik pemerintah karena dinilai terlalu diam terkait perkembangan perang, termasuk pembunuhan pemimpin tertinggi Iran. Ketua fraksi parlemen partai tersebut, Sonia Gandhi, menilai sikap diam pemerintah dapat menimbulkan keraguan terhadap arah kebijakan luar negeri India.

Di sisi lain, pemerintah Narendra Modi dinilai berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai pihak. India memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan negara-negara Arab sekaligus menjadi pembeli senjata terbesar dari Israel. Para analis menilai kepentingan India di Timur Tengah saat ini lebih dipengaruhi oleh hubungan dengan negara-negara Arab dan Israel dibandingkan dengan Iran. Meski demikian, pemerintah India tetap menjajaki alternatif sumber energi lain, termasuk meningkatkan impor minyak dari Rusia dan Amerika Serikat jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *