My WordPress Blog

Harga minyak naik, pemerintah tak rencanakan kenaikan BBM subsidi



JAKARTA — Pemerintah saat ini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi meskipun terjadi tren kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan koalisi Israel-Amerika Serikat (AS).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa wacana penyesuaian harga energi domestik masih terlalu dini untuk dilakukan. Hal ini karena asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih mengacu pada harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel.

“Belum. Kan APBN kita kemarin di US$70 ICP. Jadi kita tunggu saja. Too early,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Sementara itu, pada Desember 2025, harga rata-rata ICP berada di level US$61,10 per barel. Namun, menurut data Bloomberg, harga minyak acuan global Brent telah mendekati US$78 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$71 per barel.

Menanggapi pertanyaan mengenai seberapa jauh rentang toleransi pemerintah dalam menjaga harga BBM bersubsidi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, Airlangga mengatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasi. Meski demikian, ia menilai durasi perang sangat sulit diprediksi.

Di samping itu, Airlangga mengingatkan bahwa pemerintah pernah menghadapi situasi serupa ketika perang Rusia-Ukraina meletus pada 2022. Berdasarkan pengalaman tersebut, dia menyatakan pemerintah akan kembali memaksimalkan peran APBN sebagai peredam kejut (shock absorber).

“Di satu sisi, subsidi kita jaga, dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi kita akan lanjutkan. APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Tapi di lain pihak tentu ada kenaikan tambahan penerimaan kalau komoditas itu naik. Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call, masih terlalu pagi,” tutup Airlangga.

Harga Minyak Merangkak Naik

Biaya pengiriman minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) ke Asia mencetak rekor tertinggi akibat meluasnya konflik di Timur Tengah. Meski beberapa transaksi mulai dibatalkan karena lonjakan tarif sewa kapal yang semakin mahal.

Berdasarkan data Baltic Exchange yang dilansir dari Bloomberg, Kamis (5/3/2026), biaya menyewa kapal tanker raksasa (supertanker) untuk mengangkut 2 juta barel minyak dari wilayah Pantai Teluk (Gulf Coast) AS ke China mencapai lebih dari US$29 juta, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Angka ini sekitar dua kali lipat dibandingkan dua pekan sebelumnya.

Tarif tersebut setara sekitar US$14,50 per barel, atau hampir 20% dari harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak di kisaran US$75 per barel pada hari yang sama.

Harga WTI dan minyak acuan global Brent melonjak pekan ini setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang negara-negara tetangganya di Timur Tengah. Konflik tersebut secara efektif menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur pelayaran utama pengiriman minyak dunia.

Terganggunya pasokan dari Teluk Persia mendorong pembeli Asia beralih ke minyak asal AS. Di saat yang sama, pasokan dari kawasan Atlantik menjadi lebih mahal dengan lonjakan premi harga.

Kondisi ini turut meningkatkan harga minyak jenis AS seperti Mars Blend, dengan premi terhadap WTI menyentuh level tertinggi sejak 2020, menurut data General Index.

Meski demikian, keberlanjutan momentum tersebut masih belum pasti. Sejumlah pemesanan supertanker untuk memuat minyak dari Gulf Coast AS yang beredar di pasar pekan ini mulai batal dalam 24 jam terakhir, menurut Tankers International.

Kilang asal Thailand, PTT Public Company Limited, sempat memesan kapal dengan tarif sekitar US$29 juta, menurut pialang kapal yang mengetahui transaksi tersebut. Namun, kesepakatan itu kemudian gagal terealisasi, berdasarkan data Tankers International. Pembatalan pemesanan kapal bukan hal yang jarang terjadi ketika tarif melonjak tajam dalam waktu singkat.

Pada rute acuan industri—Timur Tengah ke China—pendapatan kapal melonjak hingga US$475.000 per hari. Namun, jumlah pemesanan aktual terbatas akibat tersumbatnya jalur Selat Hormuz.

Ketersediaan tanker yang sangat terbatas membuat penyewa kapal kini membayar tarif harian yang mendekati biaya sewa rig pengeboran lepas pantai paling canggih. Transocean Ltd., misalnya, mengenakan tarif rata-rata US$470.000 per hari untuk rig ultra-deepwater pada kuartal IV/2025.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *