Ermanto Usman, Aktivis Buruh yang Ditemukan Tewas di Bekasi
Ermanto Usman, seorang pensiunan dari Jakarta International Container Terminal (JICT) dan aktivis buruh, ditemukan tewas di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi. Kejadian ini memicu kekhawatiran terkait dengan kritik-kritik yang pernah ia sampaikan, khususnya mengenai dugaan korupsi di Pelindo.
Sebelum meninggal, Ermanto sering menyampaikan pandangan-pandangannya melalui podcast. Ia juga aktif dalam menyuarakan aspirasi buruh dan menyoroti isu-isu yang dinilainya tidak sesuai prosedur. Kritik-kritik tersebut membuatnya dua kali dipecat dari JICT, anak perusahaan Pelindo. Namun, keputusan pemecatan tersebut akhirnya dibatalkan oleh Menteri Perhubungan.
Selama bekerja, Ermanto menjabat sebagai Manager HRD JICT dan Ketua Persatuan Pensiunan JICT. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat vokal dalam menyuarakan aspirasi para pekerja. Bahkan, meskipun keluarga menyarankan untuk berhenti, ia tetap melanjutkan aktivitasnya.
Ermanto juga sering menyampaikan pandangannya melalui podcast, termasuk mengenai perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hongkong, Hutchison Holdings (HPH). Anaknya, Fiandy A Putra, mengatakan bahwa ayahnya sangat antusias dalam membuat podcast tersebut. Menurutnya, aktivitas ini memiliki risiko karena berkaitan dengan kepentingan para pekerja di lapangan.
Terakhir, Ermanto menjadi narasumber dalam program YouTube Forum Keadilan TV berjudul “Pelindo Boneka PTHutchinson (Hongkong). Ada Pemerintah di Atas Pemerintah.” Podcast tersebut tayang pada 15 Desember 2025. Dalam podcast itu, ia menyampaikan beberapa informasi mengenai proses kepemimpinan Arif Suhartono dan Menteri BUMN Erick Thohir.
Rieke Diah Pitaloka, seorang aktivis lainnya, mengatakan bahwa Ermanto menyuarakan kasus dugaan korupsi di pelabuhan. Menurut Rieke, kasus ini terindikasi dipertahankan, dan Ermanto sempat menyampaikannya dalam sebuah podcast.
Ermanto ditemukan tewas di rumahnya pada 2 Maret 2026. Sedangkan istrinya, Pasmilawati, ditemukan dalam kondisi kritis. Rieke menduga bahwa kasus kematian Ermanto bukan hanya sekadar perampokan. Ia menyebutkan bahwa tidak ada barang yang hilang, kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone. Oleh karena itu, ia meminta polisi melakukan investigasi lebih mendalam.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa penyidik menghadapi kendala dalam mengungkap kasus ini. Salah satunya adalah minimnya barang bukti di lokasi kejadian. Di rumah korban tidak ada CCTV, dan jumlah saksi sangat sedikit. Polisi telah mengecek kamera pengawas di sekitar lingkungan rumah korban, namun tidak ada rekaman yang dapat membantu mengidentifikasi pelaku.
Pihak kepolisian mengharapkan adanya kajian dan investigasi yang lebih luas serta tajam untuk mengungkap kebenaran dari kasus ini. Mereka juga menekankan pentingnya penegakan hukum agar semua pihak yang terlibat dapat diungkap.











