My WordPress Blog

Cara Ular Menghasilkan Racun, Ini Penjelasannya

Jenis-Jenis Ular Berbisa dan Rahasia di Balik Bisa Mereka

Keluarga ular (subordo Serpentes) terbagi atas dua tipe yang berbeda, yakni ular berbisa dan ular tak berbisa. Jika ditanya soal mana yang lebih berbahaya, jawabannya jelas adalah ular berbisa. Jumlah spesies ular berbisa yang dapat membunuh manusia jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan ular tak berbisa. Selain itu, ular berbisa seolah tak butuh lebih banyak usaha ketimbang saudara tak berbisa mereka dalam membunuh target di depan. Semua makhluk di sekitar mereka hampir pasti akan tunduk dengan satu gigitan saja.

Bisa pada ular memang jadi salah satu komponen paling unik dalam dunia hewan. Sebab, masing-masing spesies ular berbisa memiliki karakteristik racun tersendiri dalam bisa mereka. Selain itu, jumlah dosis yang dapat disuntikkan dan sejauh mana tingkat berbahaya bisa mereka dalam membunuh target relatif berbeda-beda, tergantung spesies mereka.

Ukuran tubuh juga tak jadi penghalang bagi ular berbisa untuk membunuh target berukuran besar. Ular taipan pedalaman (Oxyuranus microlepidotus) dan ular mamba hitam (Dendroaspis polylepis), misalnya, dikenal sebagai ular berbisa paling mematikan di dunia kendati ukuran keduanya relatif kecil. Lantas, ada rahasia apa saja di balik bisa milik ular? Bagaimana cara mereka memproduksi cairan berbahaya tersebut? Yuk, cari tahu jawaban lengkapnya di bawah ini! Simak sampai akhir agar pengetahuan kamu terkait satwa liar, terutama tentang ular berbisa, bisa semakin meningkat.

Kelenjar Khusus di Area Taring Jadi “Pabrik” Bisa Milik Ular



Pada rahang ular, terdapat satu organ yang telah berevolusi dan bertanggung jawab atas produksi bisa sebagai senjata atau alat pertahanan bagi mereka. Organ tersebut terletak di bagian taring berupa kelenjar racun yang menjadi “pabrik” bisa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Science Focus, kelenjar racun ular berbisa sudah berkembang sehingga mampu mengubah air liur atau saliva biasa menjadi beracun berkat mencampurkan protein ke dalamnya. Adapun, protein yang dicampurkan ular ini berasal dari beberapa jenis enzim khusus.

Sejauh ini, kita mengetahui kalau ada sekitar 25 jenis enzim berbeda yang dapat berada dalam satu dosis bisa ular. Disebutkan pula kalau ular berbisa dapat mencampurkan sekitar 50—100 jenis protein berbeda dari jumlah enzim tersebut demi mencocokkan kebutuhan racun dengan mangsa target mereka. Pasalnya, beberapa jenis mangsa ular berbisa ternyata mampu beradaptasi hingga menciptakan resistensi pada bisa ular yang biasa memburu mereka. Karena hal itulah, ular berbisa turut beradaptasi dengan mencampur, mengubah, atau menambah dosis racun pada bisa mereka.

Sejak Kapan Ular Mampu Menciptakan Bisa?

Beberapa spesies ular berbisa memproduksi bisa mereka dari kelenjar lain bernama kelenjar Duvernoy. Sebenarnya, letak kelenjar saliva dan kelenjar Duvernoy sama-sama berada di rahang atas ular berbisa. Namun, kelenjar Duvernoy lebih banyak berfungsi untuk memudahkan ular untuk menelan makanan, jenis protein yang diproduksi berbeda, dan hanya dimiliki satu famili ular saja, yakni Colubridae. Di sisi lain, kelenjar racun ditemukan pada beberapa famili ular berbeda, yakni Viperidae, Elapidae, dan Atractaspididae.

Klasifikasi Bisa Ular

Dari banyaknya jenis enzim dan protein yang dapat dicampurkan ular berbisa pada bisa mereka, kita umumnya membagi jenis racun dalam bisa itu pada empat kategori berbeda. Keempatnya adalah neurotoksik (neurotoxic), hemotoksik (hemotoxic), sitotoksik (cytotoxic), dan miotoksik (myotoxic).

Perbedaan jenis racun dalam bisa ular ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya letak geografis atau tempat ular berbisa itu tinggal dan penyesuaian terhadap organ tertentu di dalam tubuh target yang biasa mereka gigit agar meningkatkan efektivitas racun.

Dosis Bisa yang Diproduksi Ular Ternyata Berbeda-Beda



Sekalipun bisa dapat menjadi senjata mematikan bagi ular berbisa ketika berburu atau mempertahankan diri dari predator, sebenarnya reptil ini tak akan sembarangan menggunakannya. Sebab, untuk memproduksi bisa, ular memerlukan energi yang tak sedikit. Selain itu, kapasitas produksi bisa milik ular cukup terbatas dan jumlahnya bervariasi, tergantung dari ukuran serta usia dari ular tersebut.

Pada beberapa spesies ular, jumlah bisa yang mampu mereka suntikkan sekitar 1—150 mg saja. Sementara itu, spesies lain, semisal ular kobra raja dan bandotan gabon, mampu menyuntikkan lebih dari 400 mg bisa hanya dalam satu gigitan. Ular berbisa juga diketahui tidak akan langsung menghabiskan seluruh bisa yang mereka produksi hanya dalam satu gigitan. Selain itu, ular akan terus memproduksi bisa milik mereka setiap hari dengan jumlah yang berbeda-beda pada masing-masing spesies.

Kenapa Bisa Ular Mampu Jadi Sangat Mematikan bagi Makhluk Berukuran Besar?



Kalau diperhatikan, rasanya ada satu hal yang cukup janggal dari keberadaan bisa ular. Dengan ukuran mereka, sebenarnya bisa milik ular terbilang cukup berlebihan jika kita melihat ukuran mangsa yang mereka buru. Ular seperti taipan pedalaman, misalnya, dengan panjang sekitar 2 meter saja, mereka memiliki bisa dengan dosis yang mampu membunuh 100 orang dewasa dalam satu gigitan saja (dengan dosis sekitar 44—110 mg). Padahal, makanan utama ular ini hanya berupa pengerat kecil saja.

Rahasianya terletak pada seberapa cepat bisa milik ular harus bekerja pada target. Dr. Ronald Jenner menyebut kalau bisa ular tidak boleh memakan waktu panjang untuk bekerja, baik dalam situasi memburu mangsa ataupun mempertahankan diri dari predator. Jika terlambat sedikit saja, ular berbisa akan kehilangan calon makanan yang lari ataupun tak bisa melepaskan diri dari cengkeraman predator alami.

FAQ Seputar Bagaimana Cara Ular Memproduksi Bisa

Question

Answer

Terbuat dari apa sebenarnya bisa ular itu?

Bisa ular merupakan campuran kompleks dari protein dan enzim. Terdapat sekitar 50 hingga 100 jenis protein berbeda dalam satu jenis bisa yang dirancang untuk melumpuhkan mangsa.

Bagaimana proses penyaluran bisa dari kelenjar ke mangsa?

Saat ular menggigit, otot-otot di sekitar kelenjar akan berkontraksi (memeras) sehingga bisa terdorong keluar melalui saluran khusus menuju gigi taring yang berlubang (seperti jarum suntik).

Berapa lama waktu yang dibutuhkan ular untuk mengisi ulang bisanya?

Tergantung spesies dan kondisi kesehatan ular, namun umumnya dibutuhkan waktu beberapa hari hingga dua minggu untuk memproduksi kembali cadangan bisa yang penuh setelah digunakan.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *