JAKARTA — Seorang ekonom pasar global dari Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan memasuki fase penguatan pada bulan Agustus hingga akhir tahun ini jika tekanan global berkurang dan ekonomi domestik berjalan sesuai rencana pemerintah.
Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi tercapai sesuai dengan target pemerintah, rupiah memiliki peluang untuk menguat mendekati asumsi APBN di kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Hal ini terutama akan terjadi apabila aliran investasi langsung (foreign direct investment/FDI) dan dana asing ke pasar keuangan meningkat seiring prospek ekonomi yang positif serta minimnya tekanan di pasar saham.
“Kami berharap ini bisa membawa rupiah menguat pada akhir tahun,” ujar Myrdal saat dihubungi di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Ia menilai saat ini rupiah dalam kondisi undervalued. Meskipun neraca dagang tetap surplus dan arus dana di pasar surat utang negara masih mencatat net inflow, pasar saham mengalami outflow.
Menurutnya, secara fundamental surplus eksternal tersebut seharusnya mampu mengimbangi arus keluar dana di pasar saham sehingga rupiah masih memiliki ruang untuk menguat. Namun, ia menyoroti adanya mismatch antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri. Meski likuiditas valas dinilai memadai, realisasi pasokan disebut belum optimal.
“Ini dugaan kami, banyak eksportir terutama dari sumber daya alam nonmigas cenderung tidak all out untuk melakukan konversi dolar ke rupiah. Ini perkiraan saja. Karena kalau kita lihat dari sisi likuiditas valasnya sebenarnya positif,” kata Myrdal.
Ia juga memperkirakan permintaan valas domestik meningkat pada periode Maret hingga Juli untuk kebutuhan pembayaran dividen investor asing serta impor yang naik seiring pertumbuhan ekonomi. Jika pasokan dolar tetap tersendat, rupiah berpotensi bergerak dinamis pada April hingga Juli.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal daripada penurunan fundamental domestik.
“Inflasi masih terkendali, pertumbuhan ekonomi bertahan di sekitar 5 persen, dan imbal hasil riil aset rupiah relatif menarik, sehingga secara valuasi rupiah cenderung undervalued. Tekanan utama datang dari kuatnya dolar AS akibat suku bunga global tinggi, arus modal ke aset aman, serta kenaikan premi risiko negara berkembang,” ujar Rizal.
Ia melihat peluang penguatan tetap ada meski tidak instan. Secara realistis, menurutnya nilai yang lebih mendekati fundamental berada di kisaran Rp 15.200–Rp 15.800 per dolar AS, sementara level di atasnya lebih mencerminkan dominasi sentimen global dan overshooting siklus keuangan, bukan perubahan struktur ekonomi.
Implikasinya, imbuh Rizal, koreksi rupiah sangat bergantung pada normalisasi eksternal, khususnya penurunan suku bunga global dan stabilisasi yield US Treasury yang akan membuka kembali arus modal ke Surat Berharga Negara (SBN).
Ia mengingatkan dari sisi domestik, kredibilitas kebijakan fiskal, pengendalian inflasi oleh Bank Indonesia (BI), serta perbaikan transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor bernilai tambah menjadi penentu.
Bagi dunia usaha, rupiah yang melemah memang menguntungkan eksportir dan sektor komoditas, tetapi menaikkan biaya impor bahan baku, energi, dan kewajiban utang valas sehingga menekan margin manufaktur.
“Dengan demikian, isu utama bukan sekadar kuat-lemahnya kurs, melainkan stabilitas dan prediktabilitasnya, karena volatilitas tinggi meningkatkan biaya lindung nilai dan menunda keputusan investasi,” kata Rizal.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan posisi nilai tukar rupiah saat ini rendah atau undervalued. BI berupaya memastikan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak negatif ketidakpastian pasar keuangan global.
“Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi dengan pengendalian inflasi sesuai sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Februari 2026 yang digelar secara daring, Kamis (19/2/2026) lalu.
Menurut catatan BI, nilai tukar rupiah pada 18 Februari 2026 tercatat Rp 16.880 per dolar AS. Angka tersebut melemah 0,56 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Januari 2026. Secara umum, BI memandang, pelemahan nilai tukar tersebut terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan kenaikan kegiatan ekonomi.
“Apa faktor penyebab rupiah masih undervalued? Tentu saja kalau kita lihat pergerakan nilai tukar ada dua faktor yang utama. (Pertama) faktor fundamental, yaitu indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan rupiah akan lebih stabil dan cenderung menguat,” ujarnya.
Selain faktor fundamental, rupiah undervalued bisa dilihat secara faktor teknikal pula. Di antaranya soal risk premium atau premi risiko, alias tambahan imbal hasil yang diharapkan investor dari suatu aset berisiko dibandingkan dengan aset bebas risiko.
“Faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar,” ungkapnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Perry menekankan, BI meningkatkan intensitas intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri. “Keyakinan ke depan, nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental. Kami terus akan pastikan menjaga stabilitas nilai tukar dan untuk mendukung stabilitas perekonomian.”
Ia menambahkan, intervensi tersebut juga didukung dengan upaya menarik aliran investasi portofolio asing dengan melakukan transaksi lewat sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan surat berharga negara (SBN).
“Utamanya adalah bagaimana untuk menarik investasi portofolio asing. Dan Alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net flow, dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap memastikan kecukupan stabilitas di dalam negeri. Sebagaimana tecermin pada pertumbuhan uang primer yang selalu double digit,” katanya.











