Peristiwa Heboh di DIY: Teror terhadap Ketua BEM UGM dan Penarikan Album Gandhi Sehat
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini tengah diguncang dua peristiwa besar yang menarik perhatian publik. Kedua kejadian ini tidak hanya mencerminkan dinamika sosial, tetapi juga menjadi isu penting tentang kebebasan berekspresi dan tanggung jawab kreatif.
Teror terhadap Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, dilaporkan mengalami intimidasi setelah mengkritik kasus tragis seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak tersebut diduga meninggal karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp 10.000.
Tiyo bersama anggota BEM UGM mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyuarakan keprihatinan atas kasus tersebut. Dalam suratnya, ia menulis: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Ia menekankan bahwa tragedi ini adalah kegagalan sistemik negara dalam melindungi warga paling rentan. Namun, setelah surat itu dikirim, Tiyo mengaku mendapat ancaman penculikan melalui pesan singkat dari nomor tak dikenal, penguntitan, hingga pemotretan oleh pihak misterius pada 9–11 Februari 2026.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ujarnya. Meski demikian, Tiyo menegaskan bahwa ia dan BEM UGM tidak akan gentar. Ia mengatakan bahwa selama masih ada orang-orang waras di republik ini, penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang.
Peristiwa ini menyoroti dua hal sekaligus: tragedi sosial di NTT yang menggugah nurani publik, serta ancaman terhadap kebebasan berekspresi mahasiswa yang menyuarakan kritik.
Penarikan Album “Cita-citaku (Gak Jadi Polisi)” oleh Gandhi Sehat
Di sisi lain, album mini berjudul Cita-citaku (Gak Jadi Polisi) milik penyanyi cilik asal Sleman, Gandhi Sehat, resmi ditarik dari peredaran. Keputusan ini diumumkan langsung oleh manajemen melalui unggahan di akun Instagram resmi Gandhi, @gandhi_sehat, pada Jumat (13/2/2026).
Manajemen menjelaskan bahwa album ini awalnya dibuat sebagai karya seni yang lahir dari sudut pandang polos seorang anak berusia 6 tahun. Namun, setelah melihat dinamika dan berbagai penafsiran yang berkembang di ruang publik, mereka memutuskan untuk menghentikan peredarannya.
Seluruh konten dan lagu terkait album kini telah dihapus dari akun maupun kanal resmi yang mereka kelola. Manajemen juga menegaskan bahwa segala bentuk penyebaran ulang lagu yang masih beredar di luar kanal resmi bukan lagi menjadi tanggung jawab pihaknya.
Mereka meminta media yang telah memuat pemberitaan terkait album tersebut agar menarik atau menurunkan konten yang sudah terbit. Alasan utamanya adalah karena materi album kini sudah tidak tersedia lagi secara resmi.
Keputusan penarikan ini diambil tanpa adanya tekanan atau paksaan dari pihak mana pun. Manajemen menyatakan bahwa keputusan ini merupakan bentuk tanggung jawab mereka sebagai kreator, serta untuk menghindari kesalahpahaman yang tidak mereka kehendaki.
Album yang sempat beredar di berbagai platform digital saat ini masih dalam proses takedown dan diperkirakan membutuhkan beberapa hari hingga benar-benar hilang dari seluruh layanan streaming.
Cita-citaku (Gak Jadi Polisi) merupakan EP atau mini album perdana Gandhi Sehat yang awalnya dirilis sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-6. Album ini mengusung konsep sederhana dengan lagu-lagu bertema mimpi dan imajinasi anak-anak, serta menjadi potret cara pandang anak kecil dalam memahami cita-cita dengan gaya bertutur apa adanya.
Respons publik terhadap album ini beragam. Sejak kemunculannya sekitar sepekan lalu, karya ini mencuri perhatian publik karena dianggap membawa warna baru dalam musik anak. Namun, seiring meningkatnya perbincangan di ruang digital, muncul berbagai penafsiran yang dinilai melenceng dari maksud awal kreator. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan manajemen untuk menarik seluruh distribusi album.
Tribun Jogja juga telah mencoba menghubungi manajemen Gandhi Sehat untuk kebutuhan wawancara, namun pihak manajemen belum bersedia memberikan keterangan langsung. Mereka membalas melalui pesan singkat bahwa tidak bisa memenuhi permintaan tersebut.
Penarikan album ini kini menuai sorotan luas di media sosial, sekaligus memunculkan diskusi tentang ruang ekspresi seni, khususnya karya anak-anak, di tengah dinamika opini publik yang berkembang cepat.











