Sapna Didi, yang dikenal sebagai “ratu mafia” dan berani melawan penguasa dunia hitam Mumbai, Dawood Ibrahim. Kisah hidupnya diangkat dalam film O’Romeo (2006).
Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini
Intisari-Online.com –
Bollywood, industri film terbesar di India yang berbasis di Mumbai, kembali menghadirkan film menarik. Judulnya adalah O’Romeo (2026), sebuah film yang diadaptasi dari buku Mafia Queens of Mumbai karya Hussain Zaidi yang menceritakan kisah Sapna Didi. Film ini dibintangi oleh Shahid Kapoor yang memerankan karakter Ustara dan Tripti Dimri sebagai Afsha Qureshi/Rani Sharma. Peran yang dimainkan oleh Tripti disebut terinspirasi dari kisah nyata Sapna Didi, salah satu “mafia queen” di Mumbai yang dijelaskan dalam buku Zaidi.
Siapa sebenarnya Sapna Didi?
Sapna Didi lahir dengan nama Ashraf Khan. Dia menjadi perempuan langka dalam dunia bawah tanah Mumbai yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Lebih dari itu, dia berani menentang Dawood Ibrahim yang mengendalikan D Company, kelompok kriminal paling berpengaruh di kota terpadat di India itu.
Motif Sapna Didi masuk dunia kriminal bukan karena kekayaan dan kekuasaan. Dia hanya ingin membalas dendam kepada Dawood yang disebut telah memerintahkan pembunuhan sang suami, yang sebenarnya bagian dari D Company juga.
“Didorong oleh rasa dendam, dia mengganggu operasi D Company, merencanakan pembunuhan yang berani, dan menjadi simbol pembangkangan sebelum akhirnya dibunuh secara brutal pada tahun 1994,” tulis Times Now News.
Berbicara tentang Sapna Didi tak lengkap tanpa membicarakan Bombay—yang sekarang menjadi Mumbai. Ini adalah kota dengan ambisi yang lantang dan pengkhianatan yang senyap. Di balik gemerlapnya kota dengan lorong-lorong yang hiruk pikuk, lahirlah kisah-kisah mengerikan, termasuk kisah tentang tokoh kita satu ini: Sapna Didi.
“Sapna Didi adalah wanita yang hidupnya mengaburkan batas antara kesedihan dan pemberontakan,” tulis TN lagi.
Sapna Didi adalah perempuan yang hidupnya dibentuk dari rasa kehilangan, kemarahan, dan tekad yang begitu besar untuk menghadapi salah satu pria paling ditakuti di India. Siapa lagi kalau bukan Dawood Ibrahim.
Sapna tidak begitu saja masuk dunia kriminal. Sebaliknya, hidupnya dimulai dari sebuah keluarga konservatif di Mumbai. Sebagaimana perempuan Mumbai pada umumnya, Ashraf Khan hanya menginginkan kehidupan yang stabil.
Tapi sebuah kejadian mengubahnya 180 derajat. Dan lewat buku Mafia Queens of Mumbai, namanya hidup hingga saat ini – ditambah kisahnya kemudian menginspirasi dibuatnya film O’Romeo oleh Bollywood.
Lahir di tengah keluarga konservatif, Ashraf Khan tumbuh dalam batasan sosial yang ketat yang ditetapkan untuk perempuan. Dia kemudian menikah dengan Mehmood Khan. Sekilas, pernikahan itu tampak biasa saja.
Tapi kemudian dia tahu bahwa suaminya itu terkait dengan D Company, sindikat kejahatan yang dikendalikan oleh Dawood Ibrahim. Sebagaimana banyak keluarga yang terhubung dengan kejahatan terorganisir, diam adalah jalan keluar. Itulah yang dilakukan Ashraf Khan pada awalnya.
Tentu saja dia tidak terlibat pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan suaminya. Menurut beberapa keterangan, dia bahkan tidak sadar bahaya yang menyertainya – karena profesi sang suami.
Tapi kehidupan normal tapi rapuh akhirnya hancur di bandara Mumbai ketika sang suami, Mehmood Khan, ditembak mati di siang bolong. Menurut informasi dari intelijen, pembunuhan itu diperintahkan oleh Dawood sendiri karena Mehmood diduga menolak perintahnya.
Apa yang terjadi di bandara itu mengubah Ashraf Khan untuk selama-lamanya – bahkan namanya. Tapi kesedihan itu alih-alih menghancurkannya, justru menjadikannya sebagai perempuan yang kuat dan mengerikan – setidaknya bagi anak buah Dawood Ibrahim.
Dikutip dari Rediff.com, sejatinya Mehmood sudah berencana pensiun dari dunia hitam. Menurut beberapa keterangan, pernikahan dengan Ashraf Khan telah mendorongnya meninggalkan sindikat dan membangun kembali hidupnya jauh dari kejahatan.
Sebelum rencana itu terwujud, Mehmood melakukan perjalanan ke Dubai bertemu dengan Dawood Ibrahim. Setelah bertemu Dawood, dia kembali ke India tetapi tewas di luar bandara Mumbai dalam baku tembak dengan polisi.
Inspektur polisi Mumbai, Emanuel Amolik, yang memimpin baku tembak tersebut, mendapat pujian yang tinggi karena berhasil membunuh gangster itu. Tapi Ashraf merasa, baku tembak itu dilakukan atas perintah Dawood.
Ashraf pun mengajukan gugatan terhadap Inspektur Amolik ke pengadilan. Dengan naifnya dia percaya bahwa jika polisi itu didakwa, hal itu akan membuka jalan bagi Dawood untuk diekstradisi ke India – tapi ternyata tidak.
Karena itu dia memutuskan untuk memburu penguasa dunia hitam India itu sendiri.
Perubahan dari Ashraf menjadi Sapna Didi juga bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Tapi butuh proses yang panjang dan sistematis.
Awalnya Ashraf Khan melepaskan identitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga yang terlindungi. Dia kemudian minta bantuan kepada Arun Gawli yang juga salah satu saingan Dawood, tetapi Arun menolaknya. Setelah itu dia berkenalan dengan Hussain Ustara, seorang penembak jitu yang dikenal karena keahlian dan ketenangannya.
Kepada Hussain, Sapna Didi bertanya apakah dia mau mengajarinya cara menggunakan senjata serta membantunya membunuh Dawood. Ustara setuju untuk melatihnya dan bergabung dengannya dalam misinya. Keputusan ini dipengaruhi bukan hanya oleh keberanian Ashraf, tetapi juga karena Ustara, pada saat itu, telah mengembangkan perasaan romantis terhadapnya. Sayang, perasaan itu tak pernah terbalas. Alias, cinta bertepuk sebelah tangan.
Menurut Syed Firdaus Ashraf dalam tulisannya di Rediff.com, Ustara jugalah yang mengganti nama Ashraf menjadi Sapna, Sapna Didi.
Dari Ustara, Sapna Didi belajar menggunakan senjata api, belajar mengendarai sepeda motor, dan memetakan hierarki dunia bawah tanah Mumbai yang brutal. Tak hanya itu, Sapna Didi juga meninggalkan pakaian tradisionalnya, menggantikannya dengan celana jin dan jaket. Bukan sebagai upaya pemberontakan terhadap tradisi, tapi sebagai upaya penyamaran.
Di dunia yang dikuasai oleh rasa takut, dia mempelajari bahasanya dengan sangat fasih. Tapi, seperti sudah kita bahas di atas, motif Sapna Didi bukanlah mengejar uang dan kekuasan. Satu-satunya tujuannya adalah … balas dendam.
Lewat Ustara Sapna Didi memasuki dunia hitam relatif lancar. Ustara, yang sudah terlibat dalam perseteruan panjang dengan D Company, melihat Sapna Didi sebagai aset langka, sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya diambing ambisi.
Di bawah bimbingannya, Sapna mulai bekerja melawan kepentingan Dawood. Dia disebut membantu Ustara memblokade pengiriman senjata Dawood Ibrahim, menyabotase tempat perjudian, dan memberikan informasi penting kepada lembaga penegak hukum.
Jurnalis Hussain Zaidi, yang mendokumentasikan kehidupannya dalam Mafia Queens of Mumbai, menggambarkannya sebagai wanita yang mengenal dunia bawah tanah “seperti telapak tangannya sendiri”. Sapna Didi juga disebut berhasil menciptakan kepanikan yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara para kaki tangan Dawood.
Tapi Sapna Didi tak pernah memimpin gengnya sendiri. Kekuatannya terletak pada upaya mengacaukan keadaan, bukan mendominasi.
Dari sekian banyak upaya pembunuhan terhadap Dawood Ibrahim oleh Sapna Didi, satu yang paling menonjol adalah rencananya menghabisi bos mafia itu di Sharjah, selama pertandingan kriket antara India dan Pakistan, di mana dia menonton pertandingan dari tribun VIP. Sekilas, rencana itu terlihat sangat berani, sekaligus kacau.
Anak buah Sapna Didi akan menyusup ke tribun dengan bersenjata alat-alat sehari-hari seperti payung dan botol pecah. Idenya adalah untuk menciptakan kebingungan, melumpuhkan keamanan Dawood, dan menyerang sang mafia di depan umum.
Tapi sayang, itu tak terlaksana. Rencana tersebut lebih dulu bocor sebelum dieksekusi. Kegagalan itu juga memperlihatkan bahwa tidak ada yang benar-benar rahasia dalam dunia bawah tanah India.
Sayangnya, riwayat Sapna Didi tak berlangsung lama. Pada 1994, anak buah Dawood Ibrahim melacak keberadaannya di rumahnya di Mumbai. Sisanya … eksekusi yang brutal.
Sapna Didi ditikam sebanyak 22 kali. Tetangga, yang lumpuh karena ketakutan, tak mau ikut campur. Sang “mafia queen” tewas sebelum sempat sampai ke rumah sakit. Tak ada kata-kata terakhir, tak ada saksi mata yang mau berbicara, yang ada cuma keheningan. Kematiannya secara efektif menghapus keberadaan fisiknya dan hingga saat ini tidak ada foto Sapna Didi yang terverifikasi yang diketahui keberadaannya.
Para penyidik meyakini bahwa kebrutalan itu disengaja, dirancang untuk memastikan bahwa pembunuhan tersebut akan dikenang. Pesan itu sangat jelas: siapa pun yang berani melawan Dawood Ibrahim, nasibnya akan sama dengan Sapna Didi.
Meski begitu, tak serta merta namanya terhapus dari ingatan publik. Dalam bukunya, Zaidi menyebut Sapna Didi sebagai femme fatale sekaligus malaikat pencabut nyawa.
Bollywood pun ikut-ikutan mengangkatnya dalam sebuah film. Judulnya O’Romeo, sebuah film di mana Sapna Didi dan Hussain Ustara “terlibat” di dalamnya. Film ini disutradarai oleh Vishal Bhardwaj – yang sukses dengan Maqbool, Omkara, Kaminey, Haider, dan lain sebagainya – dan dibintangi oleh Shahid Kapoor dan Triptii Dimri.
“Sapna Didi tidak pernah mencari ketenaran. Dia tidak memberikan wawancara, mengeluarkan ancaman, atau membangun kerajaan. Warisannya terletak pada pembangkangan,” begitu tulis TN.
Ketika pengaruh Dawood Ibrahim meluas melintasi perbatasan dan meneror seluruh lingkungan, ternyata ada seorang perempuan yang memilih untuk melawannya. Kisah Sapna Didi tentu saja bukan kisah kemenangan, tapi ini adalah kisah perlawanan, perlawanan seorang perempuan yang suaminya tewas diberondong peluru anak buah ketua geng paling berbahaya di India.
Lalu bagaimana nasib Hussain Ustara sendiri?
Hussain Ustara tak jelas asal-usulnya. Dia menambahkan akhiran “Ustara” yang artinya pisau cukur pada namanya ketika usianya 15 tahun setelah dia menolak menyerahkan sebagian uang curiannya kepada pemimpin perampok lokal.
Dalam sebuah pergumulan, Hussain mengeluarkan “ustara”-nya dan menggorok leher pemimpin kelompok tersebut. Itulah awalnya dia dijuluki Hussain Ustara, Hussain si pisau cukur.
Tak hanya menjadi salah satu musuh utama Dawood Ibrahim, Hussain Ustara juga menjadi informan polisi.
Sebagaimana disebut di awal, Hussain Ustara juga menyimpan benih-benih asmara kepada Sapna Didi. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
Karena bagaimanapun juga, Sapna tetap terikat secara emosional dengan mendiang suaminya, Mehmood, dan hanya fokus pada balas dendam. Baginya, pelatihan itu adalah persiapan, bukan kemitraan.
Bersama Hussain Ustara, Sapna Didi melakukan berbagai aktivitas di Mumbai maupun di Nepal, yang merusak sindikat penyelundupan Dawood. Keduanya adalah pasangan yang cocok, dalam aksi-aksi kriminalitas, hingga suatu hari Ustara melewati batas. Sekitar 1991, hubungan keduanya bubar.
Saat Sapna Didi ingin menyelamatkan diri dari anak buah Dawood, Ustara mencoba memulai hubungan fisik dengannya. Tapi Sapna Didi menolaknya, dan dengan jelas bilang bahwa dia hanya menganggap Ustara sebagai teman.
Keduanya cekcok dan akhirnya bubar. Sejak saat itu, Sapna Didi memilih untuk mengejar tujuannya sendirian. Termasuk merencanakan pembunuhan terhadap Dawood Ibrahim saat pertandingan kriket antara India dan Pakistan di Sharjah.
Hussain Ustara mengatakan kepada penulis S Hussain Zaidi bahwa dia menyimpan foto wanita itu di dalam hatinya. Empat tahun kemudian, pada tanggal 11 September 1998, Ustara menemui ajalnya. Delapan anak buah Dawood menembaknya di wilayah Nagpada, tempat di mana Sapna Didi dibunuh.











