My WordPress Blog

Nenek 75 Tahun di Batam Jadi Korban Perampokan, Pelaku Orang yang Dikenal

Peristiwa Pencurian dengan Kekerasan yang Menimpa Nenek 75 Tahun di Batam

Seorang nenek berusia 75 tahun, Etty Suhanti, menjadi korban perampokan disertai kekerasan di rumahnya di Kampung Dalam, Baloi Indah, Batam. Kejadian tersebut terjadi setelah pelaku, Dedi Effendy, memukul korban dari belakang dan mengambil gelang emas seberat 60 gram saat korban berada di dapur.

Korban mengalami luka lebam di mata kanan dan sempat tak sadarkan diri. Setelah menyadari bahwa perhiasannya telah hilang, ia melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Rumah yang Menyaksikan Peristiwa Mengerikan

Rumah bercat warna krem di Kampung Dalam, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, kini menjadi saksi bisu peristiwa perampokan yang menimpa seorang nenek berusia 75 tahun. Rumah sederhana itu ditempati Nenek Etty Suhanti. Pada Rabu (11/2/2026) pagi, aktivitas ibu lima anak ini berjalan seperti biasanya.

Namun, kejadian tidak berjalan sesuai harapan ketika kediaman wanita lansia itu didatangi seorang tamu yang sudah ia kenal sejak lama. Ia sempat melayani tamunya tersebut dengan menyajikannya kopi. Lalu Nenek Etty beranjak ke dapur rumah dan membersihkan sayur seperti biasa.

Tidak ada firasat buruk yang ia rasakan karena tamu itu adalah Dedi Effendy, teman anaknya yang selama ini dianggap seperti keluarga sendiri. Namun, kejadian yang terjadi justru sangat tidak terduga.

Detik-Detik Kekerasan yang Menghancurkan

Saat ditemui, perantau asal Jawa Barat ini menceritakan detik-detik luka lebam yang dia dapatkan. “Ini masih terasa sakit. Kalau diingat lagi saat itu saya siuman dari pingsan, saya langsung ‘Astaghfirullah, kenapa ini’, lalu saya duduk, tapi rasanya dunia kayak berputar-putar,” ujar Nenek Etty saat mengingat momen tersebut ditemui di kediamannya, pada Kamis (12/2/2026).

Ia belum sepenuhnya sadar dengan kejadian yang baru dialaminya. Pada saat itu, Nenek Etty sempat mengira plafon rumahnya roboh dan menimpanya. Dengan kepala masih pening, tangannya meraba pergelangan kiri. Gelang emas seberat 60 gram yang biasa melingkar di sana sudah hilang.

“Lalu saya lihat di kursi depan rumah, hanya tersisa secangkir kopi dan rokok, sementara Dedi ini telah pergi,” katanya. Ia melanjutkan, Dedi merupakan teman dari anak keduanya. Mereka pernah bekerja di sebuah perusahaan yang sama beberapa tahun lalu.

Dahulu, Dedi sering berkunjung dan kadang mengajak istri dan anaknya untuk bersilaturahmi ke rumah mereka. Kedekatan itu yang membuat Nenek Etty tak pernah menaruh curiga kepada Dedi. “Saya kenal sama Dedi ini, karena teman anak saya kerja waktu itu di PT,” tuturnya dengan mata kanan masih lebam membiru.

Kedatangan yang Tak Terduga

Sejak lima tahun terakhir, pria itu tak pernah terlihat lagi. Bak sudah tidak ada komunikasi terjadi, namun dalam sebulan terakhir ini, Dedi kembali sering datang ke rumahnya. “Kalau datang mampir ya sering dulu. Lima tahun terakhir itulah gak pernah nampak lagi. Tapi sebulan ini sudah tiga kali datang ke rumah,” katanya.

Setiap Dedi berkunjung, terkadang Nenek Etty juga menawarkan masakan buatannya untuk disantap. Karena jarang berkunjung, Dedi hanya meminta kopi dan rokok. Rabu pagi kemarin, Dedi kembali datang ke rumahnya dan meminta kopi. Tak seperti biasanya, Dedi tiba-tiba memberi uang kepada Nenek Etty.

Karena stok habis, ia memberikan uang Rp50 ribu untuk dibelikan kopi dan empat batang rokok. Setelah dibelikan, masih ada sisa Rp36.500. Namun Dedi menolak uang itu dikembalikan kepadanya, dan meminta Nenek Etty menyimpannya. “Saya bilang, ‘kok tumben? Lagi gajian ya?’ Dia bilang, ‘enggak, ambil aja nek, lagi ada rezeki’,” kenangnya.

Kekerasan yang Tidak Diduga

Usai membuatkan kopi, Etty kembali ke dapur untuk membersihkan sayur. Ia tak tahu kapan Dedi masuk ke bagian belakang rumah. “Itulah pas saya di belakang, dipukul sama dia. Saya pun enggak tahu kapan masuknya,” ujarnya lirih.

Korban diperkirakan pingsan sekitar 10 menit. Saat sadar, kepalanya masih berputar dan mata kanan terasa nyeri hebat. Anak Nek Etty sebenarnya sempat mengingatkan, jika Dedi datang, cukup ditemui di luar rumah. “Ada juga khawatirnya sebenarnya kalau dia bertamu, kok enggak pulang-pulang,” katanya.

Namun tak pernah terlintas, orang yang dianggap dekat dengan keluarga akan melakukan kekerasan. “Saya tidak menyangka bakal seperti itu. Kalau datang ya sudah kami anggap keluarga sendiri. Tapi enggak ada kepikiran sampai mukul lalu ngambil perhiasan saya,” ucapnya pelan.

Penangkapan Pelaku dan Proses Hukum

Sebagai informasi, kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polsek Lubuk Baja. Polisi yang menerima laporan bergerak cepat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan penyelidikan. Kapolsek Lubuk Baja, Kompol Deni Langie, membenarkan peristiwa pencurian dengan kekerasan (curas) tersebut.

Dari hasil penyelidikan dan rekaman CCTV, pelaku teridentifikasi melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda Beat. Kurang dari enam jam setelah laporan diterima, tim gabungan Opsnal Satreskrim Polresta Barelang dan Polsek Lubuk Baja berhasil menangkap Dedi Effendy di kawasan Aviari, Batu Aji.

Pelaku mengakui perbuatannya. Tak cuma itu, Dedi mengaku telah menjual gelang emas 60 gram tersebut seharga Rp22.550.000 kepada seseorang berinisial IB yang kini berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang). Saat ini pelaku sudah ditahan dan dijerat Pasal 479 ayat (1) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman maksimal sembilan tahun penjara.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *