Kisah Mbah Kirno yang Dikurung di Kandang Besi Selama 20 Tahun
Mbah Kirno, seorang pria lansia berusia 60 tahun, tinggal di Dusun Gombak, Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Ia dikurung di dalam kandang besi selama 20 tahun oleh keluarganya sendiri. Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan tentang kondisi mental dan perlindungan sosial terhadap individu yang dianggap membahayakan.
Kandang besi tersebut memiliki ukuran lebar 0,5 meter, tinggi 1 meter, dan panjang 2 meter. Letaknya berada di belakang rumah Mbah Kirno. Selama masa penahanannya, ia rutin diberikan makan dan minum oleh keluarganya. Meskipun kondisinya memprihatinkan, keluarga tetap memberikan perawatan dasar.
Menurut Sarti, adik kandung Mbah Kirno, alasan keluarga mengurungnya adalah karena ketakutan. Mereka menganggap Mbah Kirno membahayakan dan memiliki kesaktian. Hal ini membuat keluarga merasa tidak aman dan khawatir akan ancaman dari Mbah Kirno.
Sarti menjelaskan bahwa Mbah Kirno sering mencari ilmu sakti saat muda. Namun, kondisi kebatinannya tidak cukup kuat untuk menyerap ilmu tersebut. Akibatnya, ia menjadi seperti sekarang. Keluarga merasa harus mengurungnya karena takut dianiaya atau bahkan dibunuh.
“Dia sering makan besi, bambu menggunakan gigi. Minum oli satu liter, makan api juga gak apa-apa,” kata Sarti. Menurutnya, hal-hal tersebut bukanlah rekayasa, melainkan fakta yang dialami Mbah Kirno.
Keluarga memutuskan untuk mengurung Mbah Kirno karena takut akan ancaman yang bisa saja terjadi. Mereka merasa tidak mampu menghadapi situasi tersebut sendirian. Meski begitu, mereka tetap memberikan makan tiga kali sehari kepada Mbah Kirno.
Kasus Orang Dikurung: Masalah Struktural yang Membutuhkan Solusi
Praktik mengurung individu dengan alasan membahayakan atau tidak mampu mengurus diri sendiri masih sering terjadi di berbagai daerah. Alasan-alasan ini sering muncul berulang, termasuk kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dan sosial serta kemiskinan.
Kasus seperti ini mencerminkan masalah struktural yang kompleks. Banyak warga yang rentan tidak mendapatkan perlindungan yang cukup dari pemerintah. Praktik mengurung ini sering dibungkus dengan dalih “terpaksa”, namun pada akhirnya melanggar hak asasi manusia.
Pembebasan Mbah Kirno oleh Anggota Polres Lamongan
Pembebasan Mbah Kirno dilakukan oleh Ipda Purnomo dari Polres Lamongan. Ia datang bersama Kapolsek Sawoo, AKP Tutut Aryanto, dan Kasat Binmas Ponorogo, AKP Agus Syaiful Bahri. Mereka tiba di kediaman Mbah Kirno pada Kamis (29/1/2029) sekira pukul 16.25 WIB.
Namun, pembebasan tidak berjalan mulus. Keluarga sempat menolak dan kunci gembok kandang hilang. Untuk membuka kandang, warga harus mencari tukang las. Setelah berhasil dibuka, Mbah Kirno akhirnya bebas dari kandang besi yang telah membelenggunya selama 20 tahun.
Saat pertama kali dikeluarkan, Mbah Kirno mengamuk dan merancau. Namun, ia akhirnya menuruti perkataan Ipda Purnomo. Rambut dan kukunya dibersihkan, lalu dimandikan dan diberi baju ganti.
Setelah dibebaskan, Mbah Kirno dibawa oleh Ipda Purnomo ke rumahnya di Lamongan. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang hadir, termasuk dari Polres, Dinkes, Pemerintah Desa, dan Koramil.
Reaksi Keluarga dan Harapan Masa Depan
Pantauan TribunJatim.com menunjukkan bahwa Mbah Kirno dipeluk oleh anaknya, Wahyudi, sebelum masuk ke mobil milik Ipda Purnomo. Wahyudi mengucapkan “Gek ndang mari Bapak” (cepat sembuh Bapak) sambil memeluk Mbah Kirno dengan erat.
Sarti juga mendoakan kesembuhan kakak kandungnya. Ia menyatakan bahwa keluarga siap menerima kunjungan jika ingin menjenguk. Jika tidak siap, ia akan merawat Mbah Kirno sendiri.
Pembebasan Mbah Kirno menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah tentang perlunya upaya lebih besar dalam menangani masalah kesehatan mental dan perlindungan sosial.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











