My WordPress Blog

Harga emas dunia tembus USD 5.000 per ons, melonjak 15,47% dalam 3 pekan



Harga emas dunia kian berkilau. Berdasarkan data yang dirilis, pada perdagangan Jumat (23/1) pukul 16:58 EST, harga emas di pasar spot ditutup naik ke USD 4.987,49 per ons. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka USD 4.936,02. Harga emas juga mendekati level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.

Selama perdagangan harian, harga emas sempat mengalami tekanan dan turun cukup tajam di tengah sesi. Namun, harga berhasil pulih dan kembali menguat hingga akhirnya ditutup di dekat level tertinggi harian. Pergerakan ini menunjukkan adanya volatilitas yang tinggi, tetapi sentimen akhir pasar cenderung positif.

Secara historis, harga emas saat ini sangat dekat dengan puncak rentang 52 minggu, yaitu USD 4.990,90. Sementara itu, level terendah dalam setahun terakhir tercatat di USD 2.730,58. Kenaikan tersebut menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah dinamika pasar global.

Sejak awal tahun, kinerja emas terbilang solid. Return year-to-date (YTD) emas mencapai 15,47 persen. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Penguatan harga emas umumnya didorong oleh faktor-faktor seperti ekspektasi kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar dolar AS, serta meningkatnya permintaan aset aman di tengah volatilitas pasar keuangan dunia.



Goldman Sachs Group Inc. menaikkan proyeksi harga emas akhir tahun lebih dari 10 persen. Hal ini terjadi seiring meningkatnya diversifikasi aset ke emas oleh sektor swasta, di tengah permintaan yang sudah kuat dari bank sentral dan exchange-traded fund (ETF).

Bank tersebut menaikkan target harga emas untuk Desember 2026 menjadi USD 5.400 per ons, dari sebelumnya USD 4.900. Dengan asumsi bahwa investor swasta yang membeli emas sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan makro akan mempertahankan posisi mereka hingga akhir tahun. Hal ini disampaikan para analis Goldman, termasuk Daan Struyven dan Lina Thomas.

Berbeda dengan strategi lindung nilai sebelumnya yang terkait peristiwa spesifik, seperti pemilu AS November 2024, para analis menilai posisi yang diambil untuk mengantisipasi risiko struktural, salah satunya keberlanjutan fiskal, diperkirakan tidak akan sepenuhnya mereda tahun ini dan karena itu bersifat lebih “melekat” (stickier).



Harga emas telah melonjak lebih dari 70 persen dalam 12 bulan terakhir, mencetak rekor demi rekor di tengah reli kuat yang berlanjut hingga awal tahun ini. Arus modal mengalir ke aset lindung nilai seiring perubahan besar dalam dinamika kekuatan global serta kembali munculnya serangan Presiden Donald Trump terhadap Federal Reserve, yang mengguncang kepercayaan terhadap independensi bank sentral AS.

Pembelian emas oleh bank sentral diperkirakan rata-rata mencapai 60 ton per bulan pada 2026. Otoritas moneter di negara berkembang “kemungkinan besar akan melanjutkan diversifikasi struktural cadangan devisa mereka ke emas,” menurut Goldman.

Sementara itu, kepemilikan ETF emas di negara-negara Barat telah meningkat sekitar 500 ton sejak awal 2025. Angka ini melampaui proyeksi yang hanya didasarkan pada penurunan suku bunga AS. Goldman memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar tambahan 50 basis poin pada 2026.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter dan fiskal jangka panjang di negara-negara ekonomi utama, emas juga terdorong oleh permintaan yang terkait dengan apa yang disebut “debasement trade”, termasuk pembelian fisik oleh keluarga superkaya serta pembelian opsi beli (call options) oleh investor, kata Goldman.

Risiko terhadap proyeksi yang telah dinaikkan tersebut dinilai lebih condong ke sisi kenaikan, karena investor sektor swasta berpotensi semakin melakukan diversifikasi di tengah ketidakpastian kebijakan global yang berkepanjangan. Namun, Goldman mengingatkan penurunan tajam dalam persepsi risiko terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter global jangka panjang dapat menjadi risiko penurunan harga jika memicu pelepasan posisi lindung nilai kebijakan makro.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *