Pengalaman Keluarga yang Menjadi Korban Perundungan dan Dugaan Pelecehan
Helmi, seorang influencer yang anaknya menjadi korban perundungan dan dugaan pelecehan, menyampaikan keherannya terhadap sanksi skorsing selama dua hari yang diberikan kepada beberapa terduga pelaku. Ia menjelaskan bahwa anaknya, yang berinisial C, menjadi korban perundungan dan dugaan pelecehan oleh teman sekolahnya di SMPN Jakarta Timur.
Menurut Helmi, sanksi tersebut dinilainya tidak proporsional karena dampak psikologis terhadap korban bisa sangat berat. Ia mencontohkan, banyak korban perundungan dan pelecehan yang akhirnya mengakhiri hidup mereka karena tidak mampu menanggung tekanan psikologis.
“Kebetulan anak saya kuat, tapi dia sudah nangis berhari-hari tanpa saya tahu. Kalau dia tiba-tiba terjun bebas? Sama kayak orang-orang yang lakukan selama ini,” ujar Helmi.
Ia juga mempertanyakan apakah harus ada korban jiwa sebelum kasus seperti ini diproses. “Apa harus mati dulu baru ini bisa diproses? Baru tuh orang di-DO (drop out)? Baru itu orang diapain?” tambahnya.
Trauma yang Masih Menghantui
Hingga kini, anak Helmi masih mengalami trauma dan menunjukkan perubahan sikap dalam beberapa pekan terakhir. Ia menduga kondisi tersebut muncul setelah anaknya mengetahui adanya rencana pembiusan oleh teman sekolahnya.
“Anak saya dari minggu-minggu lalu, dari yang pulang dari tahun baru, itu dia nangis mulu. Saya tanya kenapa, diam. ‘Enggak, enggak kenapa-kenapa.’ Kenapa, marah? Kenapa?” ujar Helmi.
Saat itu, ia sempat mengira anaknya murung karena jarang menjemputnya di sekolah. Namun, setelah ke sekolah dan mengetahui situasi yang terjadi, anaknya tampak gelisah dan takut.
Penanganan Kasus oleh Pihak Sekolah
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur II, Horale, memastikan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap dugaan kasus pelecehan dan perundungan tersebut. “Saat ini kami masih fokus pendalaman case yang terjadi dan berkoordinasi dengan dinas terkait,” jelas Horale saat dikonfirmasi.
Awal Terjadinya Peristiwa
Sebelumnya, Helmi mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui peristiwa tersebut setelah sang anak bercerita. Menurut Helmi, sejak perayaan Tahun Baru, anaknya kerap menangis dan terlihat murung di rumah.
Peristiwa bermula ketika salah satu teman anaknya, R, diduga mengajak C merayakan Tahun Baru bersama. Namun, Helmi memiliki rencana untuk berlibur ke Yogyakarta bersama anaknya. “Nah kebetulan di tahun baru kemarin itu saya punya plan, saya bawalah ke Jogja. Nah pas ke Jogja akhirnya anak saya lebih milih pergi sama saya tuh. Anak saya masih belum tahu plan-nya dia, plan si R ini belum tahu,” ujarnya.
Setelah C kembali ke sekolah usai liburan, ia mendengar dari teman-temannya mengenai rencana R tersebut pada Tahun Baru. “Ternyata si R ini mempunyai plan mau ngajak si C, itu di tahun baru kemarin mau dibawa ke mana gitu, terus mau dibius. Ya kan, mau dibius dengan tujuan pasti kita tahu lah arahnya,” tuturnya.
Anak Helmi langsung bertanya kepada R tentang rencana tersebut. “Anak saya ketika dengar gosip itu langsung tanya, ‘Kamu kemarin ngajakin ke aku tahun baruan tuh mau ngebius?’ Terus dia (R) bilang, ‘Iya, tapi aku cuma bercanda kok Ci,’ gitu. Cuma bercanda, gini gini gini. Semua selalu berdalihnya bercanda,” ungkapnya.
Perundungan Verbal yang Berlanjut
Selain dugaan pelecehan seksual, Helmi juga menyebut bahwa anaknya mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025. Perundungan ini semakin intens terjadi pada November 2025.
“Mereka itu sering ngeledekin itu ‘Lontong Sate’. Dipanggil tuh anak saya, ‘Lontong Sate, Lontong Sate’,” jelasnya.











