My WordPress Blog
Opini  

Mengapa Orang Baik Sering Kalah dan Orang Licik Menang?

Dunia yang Tidak Ramah pada Keluguhan

Pernahkah kita bertanya dalam hati, mengapa orang-orang yang tampak baik sering hidupnya penuh nasib apes, sementara orang yang licik, manipulatif, atau terang-terangan jahat justru terlihat melesat lebih cepat? Pertanyaan ini bukan sekadar curhat personal, tapi refleksi yang muncul hampir di semua lapisan masyarakat. Di kantor, di bisnis, di politik, bahkan di dunia hiburan, polanya terasa berulang. Yang rajin sering tersingkir, yang tulus sering dimanfaatkan, sementara yang pintar main peran justru naik pangkat dan dielu-elukan.

Contoh populer bisa dilihat dari film The Founder. Ray Kroc bukanlah penemu McDonald’s, tapi dialah yang akhirnya tercatat sebagai pemiliknya. Dengan memanfaatkan keluguhan McDonald bersaudara, dia bermain di celah kontrak, menguasai merek, dan perlahan menyingkirkan para pendiri aslinya dari bisnis yang mereka bangun sendiri. Dunia memujanya sebagai pengusaha sukses, tapi jarang ada yang benar-benar membicarakan harga moral dari kesuksesan itu.

Fenomena serupa juga dialami oleh figur publik yang sudah sangat terkenal sekalipun. Lisa Blackpink pernah ditipu oleh mantan manajer yang merupakan orang kepercayaannya sendiri dengan nominal belasan miliar rupiah. Taylor Swift juga harus kehilangan hak master dari enam album awalnya, lalu menghabiskan triliunan rupiah untuk merebut kembali karya yang seharusnya sejak awal adalah miliknya. Kalau orang sekelas mereka saja bisa dipermainkan, apalagi kita yang rakyat biasa.

Di dunia kerja, polanya bahkan lebih banal. Kita bisa jadi karyawan paling rajin, paling sopan, paling rela lembur tanpa banyak protes. Tapi saat giliran promosi datang, jangan kaget kalau yang naik justru mereka yang pandai menjilat atasan, pintar memoles citra, atau lihai melempar kesalahan ke orang lain. Di titik ini, muncul kesan pahit bahwa dunia memang tidak memberi hadiah pada kebaikan, melainkan pada kelicikan.

Pendidikan Moral yang Membuat Kita Terlalu Jinak

Di Indonesia, kita sejak kecil dilatih untuk menjadi baik. Kalau kehilangan barang, disuruh ikhlas. Kalau dijahati orang, disuruh balas dengan kebaikan. Kalau dizalimi, disuruh sabar karena nanti Tuhan yang membalas. Semua nasihat ini terdengar indah, menenangkan, dan secara spiritual memang bisa membantu menjaga kesehatan mental. Tapi dalam praktik sosial, pola ini sering membuat kita terlalu jinak menghadapi realitas yang keras.

Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi baik itu identik dengan mengalah, menahan diri, dan tidak melawan. Masalahnya, dunia modern bukan ruang spiritual yang steril, melainkan arena kompetisi dengan kepentingan ekonomi, politik, dan kekuasaan. Ketika kita hanya dibekali moralitas pasrah tanpa kecerdasan bertahan hidup, kita bukan sedang menjadi manusia baik, tapi manusia rentan.

Pemikiran Friedrich Nietzsche terasa relevan meskipun sering dianggap kontroversial. Nietzsche menyebut bahwa banyak nilai moral yang kita anggap luhur sebenarnya lahir dari kelemahan, bukan dari kekuatan. Menurut dia, ketika seseorang selalu memaafkan bukan karena pilihan sadar, tapi karena tidak punya kemampuan untuk melawan, itu bukan kebajikan, melainkan ketidakberdayaan yang disamarkan sebagai moralitas.

Nietzsche membedakan dua jenis moral: master morality dan slave morality. Moralitas tuan adalah moralitas orang-orang yang berkuasa, percaya diri, dan berani mengejar keinginan mereka. Sementara moralitas budak adalah moralitas orang-orang yang lemah, yang tidak punya akses pada kekuasaan dan kekayaan, lalu mengubah kelemahan mereka menjadi sesuatu yang dianggap suci. Mengalah disebut baik, patuh disebut mulia, miskin disebut sederhana, dan ambisi dicurigai sebagai keserakahan.

Yang ironis, di alam bawah sadar, hampir semua orang sebenarnya ingin hidup lebih mapan, lebih bebas, lebih berpengaruh. Tapi karena sejak kecil dicekoki narasi bahwa keinginan itu berbahaya, kita belajar menekan mimpi sendiri. Kita mulai menganggap kemiskinan sebagai takdir, kegagalan sebagai pahala, dan ketidakadilan sebagai ujian iman. Padahal, bisa jadi yang kita sebut kebaikan itu hanyalah bentuk lain dari menyerah.

Kasta Pendeta dan Ilusi Pembela Rakyat

Di era modern, Nietzsche melihat munculnya satu bentuk moralitas lain yang menarik, yaitu moralitas pendeta. Ini bukan pendeta dalam arti agama semata, tapi simbol dari figur-figur yang tampil sebagai pembela kaum lemah. Mereka bisa berupa ustaz, motivator, aktivis, influencer, akademisi, atau tokoh publik yang punya citra moral tinggi.

Orang-orang dengan mentalitas budak sering menggantungkan harapan pada figur-figur ini. Mereka percaya ada sosok yang akan mewakili suara mereka, melawan ketidakadilan, dan membela kepentingan rakyat kecil. Masalahnya, menurut Nietzsche, justru di sinilah letak bahaya terbesar. Kasta pendeta sering kali adalah pihak yang paling halus dalam memainkan kekuasaan. Banyak dari mereka memulai dengan niat idealis, tapi ketika sudah merasakan nikmatnya popularitas, uang, dan pengaruh, perlahan mereka tergelincir ke dalam logika yang sama dengan para penguasa yang dulu mereka kritik.

Aktivis jadi politisi. Pemuka agama jadi pengusaha tambang. Influencer yang dulu anti sensasi kini justru hidup dari kontroversi. Secara formal mereka masih bicara soal moral, tapi secara praktik mereka sudah bermain di sistem yang sama. Rene Girard menjelaskan fenomena ini lewat konsep manusia sebagai makhluk peniru. Kita meniru apa yang kita kagumi. Para pendeta moral ini, meskipun tampil sebagai oposisi terhadap oligarki, sebenarnya juga meniru gaya hidup dan cara kerja mereka. Mereka juga haus atensi, butuh validasi, dan hidup dari engagement. Bedanya hanya pada narasi yang digunakan.

Inilah yang kemudian melahirkan fenomena performative activism. Aktivisme yang lebih sibuk mengumpulkan klik daripada menciptakan perubahan nyata. Rakyat sibuk berdebat di kolom komentar, saling serang, saling lapor, sementara yang di atas justru menikmati panggung, undangan podcast, dan peluang politik baru. Pada akhirnya, yang paling dirugikan tetaplah orang biasa yang tidak punya kekuasaan, tidak punya panggung, dan tidak punya modal.

Apakah Solusinya Harus Jadi Jahat?

Pertanyaannya kemudian muncul: kalau dunia memang sekejam ini, apakah kita harus ikut jadi jahat agar tidak diinjak? Jawabannya tentu tidak sesederhana itu. Menjadi jahat hanya akan memperpanjang siklus kekerasan sosial. Tapi menjadi baik tanpa daya juga sama bahayanya, karena kita hanya akan jadi korban yang terus-menerus diperas.

Nietzsche sebenarnya tidak pernah menganjurkan orang menjadi penjahat. Dia mendorong manusia untuk menjadi manusia modern, yang sadar akan keinginannya sendiri dan berani bertanggung jawab atas hidupnya. Konsep bermensch atau manusia unggul bukan tentang menindas orang lain, melainkan tentang keluar dari mentalitas budak yang selalu menyalahkan nasib, sistem, atau Tuhan atas kegagalannya sendiri.

Menjadi manusia modern berarti mengakui bahwa uang itu penting, kekuasaan itu nyata, dan kecerdasan sosial itu krusial. Bukan untuk menipu orang, tapi untuk melindungi diri sendiri agar tidak terus-menerus ditipu. Bukan untuk menginjak orang lain, tapi agar tidak selamanya diinjak.

Masalahnya, banyak dari kita hidup dalam kontradiksi. Di mulut kita bilang uang tidak penting, tapi diam-diam iri melihat orang lain sukses. Kita bilang jabatan tidak perlu, tapi sakit hati saat tidak dihargai. Kita mengutuk korupsi, tapi membayangkan betapa enaknya kalau suatu hari bisa berada di posisi itu. Kontradiksi ini tidak akan pernah selesai kalau kita terus berpura-pura bahwa keinginan manusia itu tidak ada.

Menjadi baik seharusnya lahir dari pilihan sadar, bukan dari ketidakmampuan. Mengalah karena memilih damai itu berbeda dengan mengalah karena tidak punya kuasa. Memaafkan karena sudah kuat itu berbeda dengan memaafkan karena takut konflik. Kebaikan yang sejati justru lahir dari posisi kuat, bukan dari posisi lemah.

Di dunia yang tidak ramah pada keluguhan, mungkin tugas kita bukan menjadi lebih jahat, tapi menjadi lebih cerdas. Tetap punya empati, tapi juga punya batas. Tetap jujur, tapi tidak naif. Tetap baik, tapi tidak membiarkan diri terus-menerus diperas. Karena kalau kebaikan hanya menjadi topeng untuk kelemahan, maka yang kita rawat bukan moralitas, melainkan ilusi.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *