My WordPress Blog
Opini  

Opini: Dari Hosana ke Alleluya

Perjalanan Iman dari Hosana ke Alleluya

Tinggal di Scolastikat Hati Maria Claretian Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setiap tahun, Gereja mengajak kita memasuki sebuah perjalanan rohani yang mendalam: dari Minggu Palma menuju Minggu Paskah. Paskah menjadi titik awal iman Kristiani. Tanpa paskah kebangkitan, maka sia-sialah pewartaan Kristus Yesus. Kebangkitan Kristus kemudian menjadi cikal-bakal menelusuri kehidupan Kristus sejak sebelum kelahiranNya hingga Ia kembali kepada Bapa.

Paskah merupakan sebuah perjalanan yang bukan sekadar liturgi, melainkan cermin kehidupan manusia itu sendiri. Kita diajak masuk dalam dinamika iman yang bergerak dari sorak-sorai menuju keheningan, dari pujian menuju penderitaan, dari salib menuju kebangkitan. Dari “Hosana” menuju “Alleluya”.

Pada Minggu Palma, kita menyaksikan Yesus dielu-elukan saat memasuki Yerusalem. Orang banyak bersorak: “Hosana bagi Putera Daud!” Mereka menghamparkan daun palma, dan apapun yang mereka miliki, diletakan pada jalan di mana Yesus lewat. Mereka menyambut Dia sebagai Raja. Saat itu, suasana penuh sukacita, harapan, dan kebanggaan. Namun, suasana itu tidak bertahan lama. Dalam hitungan hari, sorak-sorai itu berubah menjadi teriakan yang menyakitkan: “Salibkan Dia!”

Di sinilah kita melihat wajah manusia yang rapuh. Mudah memuji, tetapi juga mudah mengkhianati. Mudah berharap, tetapi juga cepat kecewa. Yesus yang dielu-elukan, kini harus berjalan di jalan salib (Via Crucis) memanggul beban penderitaan, penolakan, dan penghinaan. Namun, Yesus tidak mundur. Ia melangkah terus. Ia memeluk salib-Nya. Ia menerima penderitaan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai jalan. Jalan menuju keselamatan. Jalan menuju kehidupan baru. Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan tanpa makna. Ia menanggung semuanya demi keselamatan umat manusia yang berdosa. Dalam setiap langkah-Nya, ada cinta. Dalam setiap luka-Nya, ada pengampunan. Dalam setiap jatuh-Nya, ada harapan bagi manusia untuk bangkit.

Di sepanjang jalan salib itu, ada dua kelompok manusia. Ada yang berteriak “Salibkan Dia!”-mereka yang menolak, menghakimi, dan menutup hati. Namun, ada pula yang menangis dan meratapi-Nya. Mereka yang tersentuh, yang melihat penderitaan itu dengan hati yang peduli. Pertanyaannya bagi kita: di manakah posisi kita?

Seringkali, dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih dekat dengan kelompok yang meratapi. Kita melihat penderitaan, kita mengeluh, kita menangis. Kita merasakan beban hidup, kita mengeluhkan keadaan, kita berbicara tentang kesulitan yang kita alami. Namun, kita berhenti di situ. Kita berhenti pada suara ratapan. Ratapan itu manusiawi. Menangis bukanlah kelemahan. Tetapi iman tidak boleh berhenti pada ratapan. Iman harus melangkah lebih jauh—menuju tindakan, menuju perubahan, menuju kebangkitan.

Jika kita melihat realitas di sekitar kita, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), kita menemukan banyak bentuk “Jumat Agung” dalam kehidupan masyarakat. Kemiskinan masih menjadi persoalan nyata. Banyak keluarga berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Akses pendidikan dan kesehatan masih terbatas di beberapa daerah. Kesempatan ekonomi belum merata. Semua ini adalah penderitaan. Ini adalah “salib” yang dipanggul oleh banyak orang. Namun, seperti dalam kisah Yesus, penderitaan bukanlah akhir. Penderitaan adalah jalan. Pertanyaannya: apakah kita hanya akan berdiri di pinggir jalan, meratapi keadaan? Ataukah kita berani berjalan bersama, memikul salib itu, dan mencari jalan menuju kebangkitan?

Seringkali, kita terjebak dalam wacana. Kita berbicara tentang kemiskinan, kita mengeluh tentang keadaan, kita menyalahkan berbagai pihak. Namun, kita lupa untuk bergerak. Kita lupa bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil, dari keputusan konkret, dari keberanian untuk mengubah pola hidup.

Salah satu faktor yang sering luput dari perhatian dalam konteks kemiskinan adalah budaya pesta. Di banyak tempat, pesta menjadi simbol kehormatan, harga diri, bahkan identitas keluarga. Tidak jarang, keluarga rela mengeluarkan biaya besar—bahkan berutang—demi menyelenggarakan pesta yang meriah. Semua demi menjaga gengsi. Padahal, di balik kemeriahan itu, sering tersembunyi beban yang berat. Setelah pesta usai, yang tersisa adalah hutang, tekanan ekonomi, dan perjuangan yang semakin sulit. Dalam situasi seperti ini, pesta yang seharusnya menjadi ungkapan syukur justru berubah menjadi sumber penderitaan baru. Di sinilah kita perlu refleksi yang jujur. Apakah kita sedang membangun kehidupan, atau sekadar mempertahankan citra? Apakah kita sedang berjalan menuju “Alleluya”, atau justru memperpanjang “Jumat Agung” dalam hidup kita sendiri?

Solusi bukan berarti melarang pesta. Pesta adalah bagian dari budaya, bagian dari kebersamaan, bagian dari sukacita. Namun, pesta perlu ditempatkan secara bijak. Perlu ada pertimbangan yang matang. Perlu ada keberanian untuk mengatakan: cukup. Bayangkan jika biaya pesta yang besar itu dialihkan untuk hal yang lebih produktif. Misalnya, dalam pesta pernikahan, sebagian besar dana digunakan sebagai modal awal kehidupan pasangan baru. Mereka tidak perlu memulai dari nol. Mereka bisa memulai dengan lebih siap, lebih kuat, dan lebih mandiri. Ini bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal cara berpikir. Soal orientasi hidup. Soal keberanian untuk berubah.

Perubahan seperti ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan komitmen bersama. Dibutuhkan kesadaran kolektif. Dibutuhkan dukungan dari keluarga, masyarakat, bahkan pemimpin lokal. Ketika satu keluarga mulai berubah, mungkin akan dipandang aneh. Tetapi ketika banyak keluarga bergerak bersama, perubahan itu akan menjadi budaya baru. Inilah makna iman yang hidup. Iman yang tidak berhenti pada doa, tetapi berbuah dalam tindakan. Iman yang tidak hanya meratapi salib, tetapi berani berjalan menuju kebangkitan.

Dari Minggu Palma, kita belajar tentang semangat dan harapan. Dari Jumat Agung, kita belajar tentang penderitaan dan pengorbanan. Dari Minggu Paskah, kita belajar tentang kemenangan dan kehidupan baru. Namun, ketiga peristiwa ini bukanlah cerita yang terpisah. Semuanya adalah satu kesatuan. Tidak ada kebangkitan tanpa salib. Tidak ada Alleluya tanpa terlebih dahulu melewati penderitaan. Demikian juga dalam hidup kita. Kita tidak bisa langsung menuju kebahagiaan tanpa berani menghadapi kenyataan. Kita tidak bisa berharap pada kesejahteraan tanpa mengubah pola hidup. Kita tidak bisa keluar dari kemiskinan jika kita terus mempertahankan kebiasaan yang memperkuatnya.

Maka, perjalanan dari “Hosana” menuju “Alleluya” adalah perjalanan iman yang konkret. Perjalanan yang menuntut keberanian untuk berubah. Keberanian untuk meninggalkan yang tidak perlu. Keberanian untuk memilih yang lebih bermakna. Hari ini, kita diundang untuk bertanya pada diri sendiri: di tahap manakah kita berada? Apakah kita masih sibuk bersorak tanpa memahami makna? Apakah kita masih terjebak dalam ratapan tanpa tindakan? Ataukah kita sudah mulai melangkah menuju kebangkitan?

Yesus telah menunjukkan jalan itu. Ia tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi menghidupinya. Ia tidak hanya mengajarkan pengorbanan, tetapi menjalaninya. Ia tidak hanya menjanjikan kehidupan baru, tetapi membukanya melalui kebangkitan. Kini, giliran kita. Mari kita belajar untuk tidak berhenti pada “Hosana” yang penuh semangat sesaat. Mari kita berani melewati “Jumat Agung” dalam hidup kita—menghadapi kenyataan, mengakui kelemahan, dan berjuang untuk berubah. Dan akhirnya, mari kita melangkah menuju “Alleluya”—kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih sejahtera. Karena iman yang sejati bukanlah iman yang hanya berseru, tetapi iman yang berani berjalan.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *