Kehilangan Deden Maulana: Kepedihan Keluarga dan Kenangan yang Tak Terlupakan
Deden Maulana, seorang staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjadi salah satu korban hilangnya pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kehilangan ini meninggalkan rasa sedih yang mendalam bagi keluarga dan kerabat Deden.
Gelagat Aneh Sebelum Insiden
Sebelum insiden terjadi, keluarga dan tetangga merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Salah satunya adalah Deden yang hanya tersenyum saat berpamitan. Hal ini terjadi ketika ia pulang ke rumah setelah bekerja. Bahkan, kepulangan mertua Deden juga disambut dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Keluarga Deden tinggal di Jalan Mesir II RW 10, Kelurahan Pasar Minggu, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rumah tersebut kini ramai dikunjungi oleh keluarga dan kerabat. Beberapa dari mereka tiba sekitar pukul 09.00 WIB, mencoba memberikan dukungan moril kepada keluarga yang sedang berduka.
Pertemuan Terakhir dengan Ayah
Ayah kandung Deden, Muksin, yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, bergegas ke Jakarta setelah mendapat kabar dari menantunya. Di sana, ia menceritakan pertemuan terakhir dengan putranya. Menurut Muksin, mereka bertemu saat libur akhir tahun, yaitu pada 15 Desember 2025 lalu. Deden biasanya minta doa dari ayahnya sebelum berangkat dinas luar kota. Namun, kali ini, Deden tidak memberitahu ayahnya bahwa ia akan pergi dinas ke luar kota.
Muksin mengaku tidak tahu jika putranya itu berangkat dinas ke luar kota, Jumat (16/1/2026). Ia hanya berharap ada mukjizat dari Allah agar bisa menemukan putranya kembali.
Senyum Ke Mertua
Sementara itu, ayah mertua Deden, Rahmat, tampak berada di depan gang rumah sang menantu. Kesedihan terpancar jelas di wajahnya setelah mendengar kabar Deden menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500. Rahmat mengaku, tiga atau empat hari lalu, dirinya bertemu dengan menantunya. Saat itu, Deden datang ke rumah yang berjarak sekira 300 meter.
Menurut Rahmat, Deden biasanya masuk langsung tanpa banyak bicara. Namun, kali ini, Deden hanya mengucap salam dan senyum. “Dia cuma senyum saja,” ucap Rahmat berkaca-kaca.
Rahmat mendapat kabar menantunya hilang dalam pesawat ATR tujuan Yogyakarta-Makassar pada Sabtu sore. Pagi tadi, ia melihat televisi dan belum ada kabar penemuan jasad menantu kesayangannya itu. Deden meninggalkan seorang istri dan anak laki-laki berusia sekira 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar.
“Orangnya baik, sayang sama keluarga juga. Dapat kabar penumpang pesawat dari KKP ada tiga orang salah satunya menantu saya,” ungkap Rahmat. Ia belum menentukan tempat pemakaman menantunya karena jasadnya masih dalam pencarian.
Pamit ke Tetangga
Tak hanya Rahmat, Deden juga menunjukkan gelagat yang begitu membekas di hati tetangganya. Dua hari sebelum insiden, tepatnya Kamis (15/1/2026), Deden sempat berpamitan dengan tetangga bernama Suratno. “Saya lagi duduk di sini juga, dia pamit sama saya, ‘Pak No, berangkat dulu ya,’ kata saya, ‘Oh iya hati-hati,’ begitu,” ujar Suratno saat ditemui di rumah Deden, Sabtu malam.
Menurut Suratno, Deden dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan jarang berbincang panjang dengan warga sekitar. Namun, kabar hilangnya pesawat yang ditumpangi Deden membuat suasana rumah mendadak berubah menjadi penuh kepiluan. Suratno mengaku menyaksikan langsung istri Deden, Vera, menangis histeris setelah menerima kabar tersebut.
Kunjungan Menteri Trenggono
Sekitar pukul 22.26 WIB, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyambangi rumah Deden di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Trenggono sempat berbincang dengan Vera selama beberapa saat. Vera tampak tak kuasa menahan air mata saat duduk bersebelahan dengan anaknya yang masih kecil.
Tak lama kemudian, Trenggono meninggalkan rumah Deden dan melanjutkan kunjungan ke rumah pegawai KKP lainnya, Yoga Naufal, seorang operator kamera pengawas udara, di Duren Sawit, Jakarta Timur.











