BEIJING,
– Otoritas China secara resmi menerima ekstradisi terduga bos besar scam Kamboja, Chen Zhi, setelah dituduh memimpin jaringan penipuan siber lintas negara yang menyebabkan kerugian miliaran dollar AS.
Stasiun televisi Pemerintah China CCTV menayangkan momen ketika Chen, dengan borgol dan kepala ditutup, digiring keluar dari pesawat oleh petugas SWAT berpakaian hitam di Bandara Beijing. CCTV menyebut Chen sebagai pemimpin sindikat kejahatan perjudian dan penipuan transnasional besar.
Ekstradisi Chen Zhi merupakan tindakan terkuat internasional sejauh ini, untuk membongkar kompleks penipuan di Asia Tenggara yang mempekerjakan puluhan ribu orang. Banyak di antaranya merupakan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan dipaksa melakukan penipuan secara online.
Siapa Chen Zhi?
Chen Zhi adalah pendiri Prince Group, konglomerat berbasis di Kamboja yang menurut Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) digunakan sebagai kedok untuk menjalankan berbagai kejahatan finansial global.
AS dan Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Chen sejak Oktober 2025, menuduhnya mengatur jaringan online scam yang melibatkan ratusan pekerja di Kamboja. Skema yang dijalankan disebut sebagai pig butchering, yakni metode penipuan yang menyasar korban dengan membangun relasi emosional sebelum mencuri dana mereka.
Chen bersama sejumlah eksekutif perusahaannya juga disebut menyuap pejabat di berbagai negara guna melindungi kegiatan ilegal mereka. Dia memang berhubungan dekat dengan elite politik Kamboja karena pernah menjabat sebagai penasihat bagi Perdana Menteri Hun Manet dan mantan pemimpin Hun Sen.
Namun, pada Desember 2025, Pemerintah Kamboja mencabut kewarganegaraan Chen. Otoritas Kamboja mengumumkan penangkapannya pada Rabu (7/1/2026) malam, setelah penyelidikan kejahatan lintas negara selama berbulan-bulan bersama China.
Meski dakwaan resmi dari Beijing belum diungkap ke publik, Kementerian Keamanan Publik China menyebut Chen sebagai target utama. Pihak kementerian pun akan segera mengeluarkan surat penangkapan untuk kelompok pertama anggota kunci dari grup kriminal Chen Zhi.
“Pencapaian ini merupakan hasil besar dari kerja sama penegakan hukum China-Kamboja,” tulis pernyataan resmi kementerian tersebut. Jika terbukti bersalah atas dakwaan penipuan siber dan pencucian uang di AS, Chen terancam hukuman hingga 40 tahun penjara.
Jejak Kriminal Chen Zhi
Menurut Jaksa AS, Chen menggunakan kompleks-kompleks tertutup di Kamboja untuk menahan para pekerja. Banyak di antaranya direkrut lewat iklan palsu dan dipaksa bekerja di bawah ancaman kekerasan.
“Mayoritas dari puluhan kompleks scam ini beroperasi dengan dukungan kuat dari pemerintah,” ujar Jacob Daniel Sims, peneliti tamu di Pusat Asia Universitas Harvard dan pakar kejahatan transnasional. “Penangkapan ini terjadi setelah berbulan-bulan tekanan terhadap Pemerintah Kamboja karena dianggap melindungi pelaku kriminal kelas atas,” lanjutnya.
Amnesty International sebelumnya juga menyampaikan bahwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terjadi dalam skala besar di pusat-pusat scam, dan lemahnya respons pemerintah menjadi indikator dugaan keterlibatan negara.
Di tengah berita penangkapannya, Bank Sentral Kamboja (NBC) mengumumkan bahwa Prince Bank—lembaga keuangan yang didirikan Chen—resmi ditempatkan dalam proses likuidasi. Bank tersebut dilarang membuka layanan baru, termasuk menerima simpanan maupun menyalurkan pinjaman. Meski demikian, nasabah NBC tetap bisa menarik dana seperti biasa dan peminjam diminta tetap melunasi kewajibannya.
Prince Bank tercatat memiliki aset kelolaan senilai sekitar 1 miliar dollar AS (Rp 16,8 triliun). Jaksa AS menambahkan, sejak 2015 Prince Group beroperasi di lebih dari 30 negara dengan kedok bisnis properti, keuangan, dan barang konsumen.
Terkait kasus ini, otoritas AS menyita sekitar 127.271 bitcoin—senilai lebih dari 11 miliar dollar AS (Rp 185 triliun)—yang diduga terkait aktivitas kriminal tersebut. Prince Group membantah semua tuduhan, tetapi baik Prince Bank maupun firma hukum yang sebelumnya mewakilinya tidak memberikan komentar saat dimintai keterangan terbaru.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











