Motif Pembunuhan MAHM: Dugaan Kriminal Berorientasi Korban
Kasus pembunuhan MAHM (9), anak dari anggota Dewan Pakar PKS Cilegon, Maman Suherman, masih menjadi perhatian publik. Kriminolog Haniva Hasna memberikan analisis terkait kemungkinan motif pelaku dalam kasus ini. Ia menyebutkan bahwa ada dua kemungkinan utama yang mendasari tindakan kekerasan terhadap korban.
Dugaan Motif Kriminal Berorientasi pada Korban
Menurut Haniva, kasus ini tidak menunjukkan adanya motif ekonomi. Tidak ada barang berharga yang hilang dari lokasi kejadian, sehingga mengarah pada dua kemungkinan besar. Pertama, pelaku mungkin memiliki emosi kuat, seperti dendam atau kemarahan terhadap anggota keluarga korban.
“Kemungkinan pertama adalah emosional besar, seperti dendam atau kemarahan personal. Entah kepada anggota keluarga yang mana, apakah orang tua atau yang mana,” jelas Haniva. Ia juga menilai bahwa kejahatan ini bisa saja dilakukan secara impulsif, dipicu oleh luka lama atau konflik yang belum terselesaikan.
Kedua, Haniva mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan ini fokus pada korban, bukan pada harta. Ini menunjukkan bahwa MAHM mungkin menjadi korban sekunder, yaitu seseorang yang ditargetkan untuk menyakiti orang lain yang lebih dekat dengan pelaku. “Bisa jadi anak ini adalah korban sekunder, yang sebetulnya disasar adalah untuk menyakiti orang tua,” tutur Haniva.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Kasat Reskrim Polres Cilegon, AKP Yoga Utama, mengungkapkan bahwa 18 saksi telah diperiksa, termasuk keluarga korban. Salah satu saksi yang diperiksa adalah ayah MAHM, Maman Suherman. “Untuk perkembangan sekarang adanya penambahan saksi yang kita periksa. Total saksi yang kita periksa ada 18 orang, baik dari pihak keluarga dan non keluarga,” jelas Yoga.
Selain itu, penyelidikan dipimpin langsung oleh Dirkrimum Polda Banten. Kapolda Banten, Irjen Hengki, menyatakan bahwa kasus masih dalam tahap penyelidikan. “Intinya masih dalam tahap penyelidikan. Teknis penyelidikan tidak kami sampaikan di sini ya,” katanya.
Kondisi Korban yang Menyedihkan
Sebelumnya, Kasi Humas Polres Cilegon, AKP Sigit Darmawan, mengungkapkan bahwa MAHM meninggal akibat luka senjata tajam dan benda tumpul. Total ada 22 luka di tubuh korban, terdiri dari 19 luka tusukan dan tiga luka memar. Luka-luka tersebut ditemukan setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit. Akibat banyaknya luka tersebut, MAHM mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan kematian.
Meski begitu, hingga saat ini, polisi belum berhasil menemukan alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. “Untuk benda-benda tersebut belum ada, itu masih dicari, belum ditemukan,” kata Sigit.
Kesimpulan
Kasus pembunuhan MAHM masih menjadi misteri. Meskipun penyelidikan sedang berlangsung, motivasi pelaku masih belum jelas. Haniva Hasna menilai bahwa kejahatan ini berorientasi pada korban, bukan pada harta benda. Hal ini menunjukkan bahwa MAHM mungkin hanya menjadi korban sekunder dalam sebuah konflik yang lebih besar. Para ahli dan polisi terus berupaya untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi di balik kejadian ini.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











