My WordPress Blog

Cegah Kecurangan, Dosen Luar Negeri Pilih Ujian Lisan

Metode Ujian Lisan Kembali Diperkenalkan untuk Menghadapi Tantangan AI

Catherine Hartmann, seorang profesor studi agama dari Universitas Wyoming, Amerika Serikat, memutuskan untuk kembali menggunakan ujian lisan sejak tahun lalu. Mahasiswa di kelasnya dihadapkan pada metode ujian yang usianya setua para filsuf kuno. Selama 30 menit, setiap mahasiswa duduk berhadapan dengan Hartmann di kantornya. Hartmann mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam, dan mahasiswa harus menjawabnya saat itu juga.

Tidak hanya Hartmann, semakin banyak tenaga pendidik yang mencoba ujian lisan untuk membentengi integritas akademik dari gempuran kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT. AI bisa digunakan untuk mencontek, termasuk dalam ujian atau esai yang dibawa pulang, serta menyelesaikan berbagai tugas. Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari “cognitive off-loading” atau pelimpahan beban kognitif ke pihak ketiga seperti AI.

Hartmann memberikan analogi yang menohok kepada mahasiswanya. Ia mengatakan bahwa menggunakan AI dalam belajar seperti membawa forklift ke gym saat tujuan para mahasiswa adalah membangun otot. “Kelas adalah gym, dan saya adalah pelatih pribadi Anda. Saya ingin Anda mengangkat beban,” jelasnya.

Mahasiswa Merasa Takut dengan Ide Ujian Lisan

Metode ini sempat membuat mahasiswanya ciut nyali. Lily Leman (20), salah seorang mahasiswa Hartmann yang mengambil dua jurusan bahasa Spanyol dan sejarah, mengaku pada awalnya merasa takut dengan ide ujian lisan. Usai menjalaninya, ia berharap ada lebih banyak ujian semacam itu.

Tantangan Akademik di Era AI

Sejak ChatGPT diluncurkan pada 2022, para pendidik telah berjuang dengan tantangan yang ditimbulkan AI bagi metode pembelajaran yang ada. Survei terbaru Inside Higher Ed menunjukkan, 85 persen mahasiswa mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam mata kuliah mereka, termasuk untuk brainstorming ide dan mempersiapkan ujian. Seperempat di antaranya mengaku menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas. Sementara, sekitar 30 persen mengatakan seharusnya kampus merancang metode penilaian yang “tahan AI”, termasuk ujian lisan.

Untuk melawan kecurangan yang didorong oleh AI, beberapa dosen beralih ke perangkat lunak untuk mendeteksi tugas yang terindikasi dikerjakan oleh AI, meskipun alat-alat tersebut seringkali tidak akurat. Beberapa dosen lain memilih kembali ke ujian tertulis di kelas, memicu kebangkitan penggunaan “blue books,” buku kertas yang mendominasi ujian perguruan tinggi pada akhir milenium lalu.

Sejarah Penggunaan Ujian Lisan

Ujian lisan dapat dikategorikan sebagai metode yang lebih tua dari perkiraannya yang tercatat di institusi pendidikan kuno di Roma, Yunani, India, dan wilayah lain. Menurut Stephen Dobson, seorang profesor dan administrator universitas di Norwegia yang menulis buku tentang ujian lisan, hingga abad ke-18, ujian lisan tetap menjadi standar metode penilaian di Universitas Oxford dan Cambridge. Di beberapa negara seperti Norwegia dan Denmark, ujian lisan tidak pernah menghilang. Di tempat lain, ujian lisan dipertahankan dalam konteks tertentu: misalnya, dalam ujian kualifikasi doktoral di Amerika Serikat.

Dobson mengatakan, ia tidak pernah membayangkan bahwa ujian lisan akan “dibangkitkan kembali dan mendapatkan kehidupan kedua.” Minat baru terhadap metode penilaian yang kuno ini mulai muncul selama pandemi di tengah kekhawatiran tentang potensi kecurangan dalam lingkungan online. Kini, kemunculan model AI, bahkan kacamata yang didukung AI, telah memicu gelombang perhatian baru.

Manfaat Ujian Lisan dalam Pendidikan

Tricia Bertram Gallant, direktur Kantor Integritas Akademik di Universitas California, San Diego, mengatakan bahwa ujian lisan pasti mengalami kebangkitan. Gallant menambahkan, ujian semacam itu tidak selalu menjadi solusi, tetapi menawarkan manfaat tambahan dalam melatih keterampilan yang berharga untuk kebanyakan karier. Setiap departemen seharusnya mewajibkan mahasiswa mereka pada suatu saat, mungkin lebih dari satu kali, untuk menunjukkan pengetahuan mereka secara lisan.

Minat yang meningkat terhadap ujian lisan melampaui disiplin ilmu dan ukuran kelas. Meskipun beberapa pendidik mengatakan teknik ini lebih cocok untuk kelas kecil, profesor di Universitas Western Ontario, Kanada, telah mengadakan ujian lisan untuk kelas bisnis sarjananya dengan 600 mahasiswa. Sementara di Universitas California, San Diego, ujian lisan diperkenalkan di 6 mata kuliah teknik besar, dengan dampak positif pada motivasi mahasiswa.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *