Warga Indonesia yang tinggal di kota Sydney mengungkapkan rasa khawatir setelah terjadi serangan penembakan di Pantai Bondi, pada hari Minggu kemarin (14/12). Laporan dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa aksi penembakan dilakukan oleh Sajid Akram dan putranya, Naveed Akram, yang menewaskan 15 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat seorang perempuan berusia 10 tahun dan lebih dari 20 orang lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Pantai Bondi adalah salah satu ikon kota Sydney yang sangat ramai dikunjungi baik oleh warga lokal maupun wisatawan, terutama saat musim panas seperti sekarang ini. Kehadiran para pengunjung juga semakin meningkat menjelang Hari Natal dan Tahun Baru. Sejumlah warga Indonesia yang tinggal di sekitar Pantai Bondi juga merasakan dampak langsung dari kejadian ini.
Joshua Michael Sagala, atau yang lebih dikenal dengan nama Michael, merupakan salah satu warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di kawasan Pantai Bondi. Ia mengatakan bahwa setiap hari Minggu, istrinya bekerja di area tersebut, dan keluarganya sering menghabiskan waktu di sana. Pada hari penembakan, ia mengaku bahwa istrinya sedang tidak enak badan, sehingga mereka pulang pada pukul 4 sore. Saat dalam perjalanan untuk mengisi bensin, Michael melihat kondisi pantai yang dipadati oleh banyak orang dan memutuskan untuk turun dari mobil.
“Kondisi orang-orang di sana sangat sedih, ada yang menangis dan kecewa,” ujarnya. “Saya tidak pernah menyangka jika hal seperti ini bisa terjadi di Bondi.”
Michael, yang sudah tinggal di Sydney selama delapan tahun, mengatakan bahwa banyak umat Yahudi tinggal di kawasan timur Sydney, termasuk di Pantai Bondi. Serangan terjadi saat umat Yahudi sedang merayakan hari pertama Hanukkah di pinggir pantai. Ia mengaku merasa “kecewa dan sedih” mengetahui bahwa aksi penembakan bisa terjadi di Australia, yang menurutnya sudah seperti rumah kedua.
“Saya tidak pernah membayangkan jika tindakan seperti ini bisa terjadi di sini, bahkan di sekolah atau tempat lainnya,” katanya.
Erna Tambunan, ibu Michael, yang sedang berkunjung ke Sydney untuk mengunjungi anaknya, juga mengaku terkejut mendengar berita ini. Ia menilai proses seleksi visa ke Australia sangat ketat, sehingga tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.
Setelah kejadian ini, Michael berencana untuk menghindari Pantai Bondi. “Kami akan mencari tempat yang lebih tenang dan privat, karena ada banyak pantai lain yang bagus untuk berjalan-jalan bersama anak-anak,” ujarnya. “Sementara ini, kami akan hindari beberapa minggu ke depan.”
Merasa tidak seperti Sydney yang dulu
Hari Minggu, saat serangan teror terjadi, juga menjadi momen pertama kalinya Gilang Pahalawan mengunjungi Pantai Bondi sejak pindah ke Sydney pada tahun 2023. Ia mengaku sengaja ingin menghabiskan waktu di Pantai Bondi setelah membeli ponsel di daerah tersebut. Awalnya, ia rencananya akan bertemu dengan penjual ponsel pada pukul 4 sore, tapi memutuskan untuk bertemu lebih awal.
Setelah bertemu dengan penjual, ia sempat bersantai di bawah pohon dan mengunjungi bazaar yang sedang berlangsung di Pantai Bondi. Ia kemudian memutuskan untuk pulang sekitar pukul dua siang, lima jam sebelum penembakan terjadi pada pukul 18.47 waktu Sydney. “Beruntungnya karena cuaca panas, saya memutuskan untuk kembali dan meninggalkan tempat itu,” ujarnya.
Karena tidak melihat berita, Gilang baru mengetahui tentang insiden penembakan tersebut pada malam hari setelah menerima telepon dari temannya. Setelah kejadian tersebut, ia merasa Sydney tidak lagi seperti tempat yang ia kenal dulu. “Perasaan saya takut, karena Australia yang saya kenal adalah tempat kedua teraman di dunia. Tapi sekarang, ada peristiwa seperti ini di tempat yang tidak terduga,” katanya.
Awal pekan ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney telah mengeluarkan imbauan kepada WNI di wilayah Sydney untuk “meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.” Mereka diminta untuk menghindari lokasi kejadian dan area keramaian serta patuh pada arahan otoritas setempat.
Perayaan tahun baru di Bondi dibatalkan
Gilang mengaku was-was menyongsong perayaan Natal dan Tahun Baru di Sydney, namun ia tetap berencana untuk melihat kembang api dengan tetap waspada. Otoritas di kawasan Bondi, yakni Waverley Council, mengumumkan pembatalan perayaan malam Tahun Baru di Pantai Bondi. “Karena situasi terkini di lapangan, Waverley Council memutuskan untuk membatalkan acara Malam Tahun Baru di Pantai Bondi, termasuk elrow XXL Bondi dan Local’s Lawn,” ujar juru bicara dari Waverley Council.
Penyelenggara acara New Year’s Eve event, Fuzzy, mengatakan keputusan diambil setelah mempertimbangkan rasa empati dan kepedulian terhadap komunitas Yahudi di Sydney. Tim Gabungan Kontra Terorisme (JCTT) di New South Wales sedang melakukan penyelidikan, dan Gilang berharap kasus ini bisa segera dituntaskan.
“Semoga semua berjalan dengan damai, dan kita kembali seperti Australia sebelumnya,” ujarnya.
Setelah serangan penembakan di Pantai Bondi, Pemerintah Australia berencana untuk memperketat undang-undang terkait kepemilikan senjata. Beberapa hal yang dipertimbangkan untuk diubah adalah membatasi jumlah senjata yang dapat dimiliki oleh satu orang dan menjadikan kewarganegaraan Australia sebagai syarat untuk memiliki senjata api.
Kepolisian India sudah mengonfirmasi bahwa Sajid Akram, pelaku serangan yang tewas di lokasi, memiliki kewarganegaraan India. Ia pindah ke Australia untuk bekerja pada November 1998. Sementara itu, putranya yang juga merupakan pelaku penembakan, Naveed Akram, diketahui pernah memiliki kaitan dengan kelompok ISIS di Sydney. Naveed saat ini sedang dirawat di rumah sakit, dan polisi sedang menunggu kondisinya stabil sebelum memberikan hukuman.
Hari Rabu ini (17/12), pemakaman pertama bagi korban penembakan, yakni Rabbi Eli Schlanger, telah dilaksanakan. Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan akan terus mengambil langkah tegas untuk “membasmi” antisemitisme. “Kami juga ingin memberantas ideologi jahat yang tampaknya, menurut para penyelidik, merupakan serangan yang diilhami ISIS,” ujarnya. “Kebencian semacam itu tidak memiliki tempat [di Australia].”
Dalam serangan tersebut, seorang warga bernama Ahmed El Ahmed mendapat pujian dan diberi gelar “pahlawan” karena keberaniannya merebut senapan dari salah satu penyerang. Ia mengalami luka tembakan dari penyerang lain dan harus menjalani operasi di beberapa bagian tubuhnya. PM Australia sudah menjenguk Ahmed dan mengatakan dirinya adalah “pahlawan Australia sebenarnya” dan “keberaniannya menjadi inspirasi bagi semua warga Australia”.











