Ketika Topeng ADHD Mengikis Diri
Sebuah pertanyaan sederhana dari seorang anak delapan tahun dalam artikel Rahmat Ahmadi mungkin terdengar kecil, tapi sesungguhnya mengguncang isi kepala banyak dari kita yang hidup dengan ADHD. Pertanyaan itu juga seperti mengetuk ingatan saya, Imam Setiawan, seseorang dengan disleksia dan ADHD yang hampir separuh hidupnya memakai topeng agar terlihat “normal”, “profesional”, dan “diterima.”
Di dunia pendidikan, dunia kerja, bahkan dalam pertemanan, kita yang hidup dengan neurodivergensi sering kali belajar satu strategi bertahan hidup: masking. Berpura-pura fokus, menahan impuls, mengubah intonasi suara, memilih kata-kata dengan hati-hati, atau meredam energi yang sering dianggap “berlebihan.” Masking bukan sekadar menyembunyikan gejala. Ia adalah seni menjadi seseorang yang bukan diri kita agar tidak dinilai malas, tidak dewasa, tidak kompeten, atau tidak pantas.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa ADHD masking adalah mekanisme adaptif yang muncul karena tekanan lingkungan. Psikolog Russell Barkley pernah menegaskan bahwa ADHD bukan sekadar masalah perhatian, tetapi tantangan dalam self-regulation, kemampuan mengatur perilaku agar sesuai konteks sosial. Ketika tekanan sosial besar, mask menjadi semakin tebal.
Masalahnya, topeng yang awalnya kita pakai untuk bertahan hidup lama-lama menjadi baju zirah yang berat. Data dari CHADD (Children and Adults with ADHD) menunjukkan bahwa masking berlebihan dapat meningkatkan kecemasan, depresi, burnout, dan kelelahan sosial yang kronis. Kita terus tampil sebagai versi “yang paling dapat diterima” versi yang sering kali menjauhkan kita dari diri sendiri.
Heidegger, filsuf yang jarang dikaitkan dengan ADHD, sebenarnya menawarkan penjelasan yang sangat relevan. Dalam konsep Das Man, ia mengatakan bahwa manusia sering hidup sebagai “orang-orang pada umumnya” mengikuti norma, meniru, menyesuaikan, kehilangan autentisitas diri. Ketika terlalu lama menjadi seperti yang orang lain harapkan, kita perlahan berhenti menjadi diri kita sendiri.
Itulah yang terjadi saat masking: kita tidak hanya menyembunyikan ADHD, tetapi juga mengubur identitas, spontanitas, dan kejujuran batin kita.
Sebagai seseorang dengan disleksia dan ADHD, saya pernah merasakan titik di mana saya tidak lagi mengenali diri saya sendiri. Di telepon, suara saya berubah lebih rapi, lebih formal. Di kelas, saya berusaha terlihat “tenang” agar tidak dianggap hiperaktif. Di ruang pertemuan, saya memaksa diri duduk diam meski tubuh saya menjerit ingin bergerak. Bahkan dalam menulis, saya dulu memilih kata yang sama sekali bukan suara saya. Lama-lama saya merasa seperti pemeran pengganti memainkan versi ideal saya, bukan diri yang sebenarnya.
Banyak anak dalam program Dyslexia Keliling Nusantara yang saya dampingi merasakan hal serupa. Mereka menahan gerak tubuh, menyembunyikan kesulitan membaca, berpura-pura mengerti materi, atau menjadi “anak baik” agar tidak dimarahi guru. Mereka memakai topeng sejak usia yang sangat muda. Dan di titik tertentu, mereka kelelahan. Fakta lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah, kantor, bahkan keluarga belum siap dengan keberagaman cara berpikir dan belajar. Sehingga anak, remaja, dan orang dewasa dengan ADHD terbiasa ditegur, dikritik, dicap, atau dibandingkan. Tekanan untuk menyesuaikan diri membuat topeng menjadi satu-satunya benteng dari rasa malu atau penolakan.
Padahal, menurut teori Neurodiversity, otak manusia memang berbeda-beda. ADHD bukan kekurangan karakter, tetapi perbedaan neurologis yang membuat seseorang berpikir lebih cepat, lebih kreatif, lebih intuitif, sekaligus lebih sensitif terhadap rangsangan dan tekanan. Dalam lingkungan yang tepat, orang dengan ADHD bukan sekadar “cukup baik” mereka bisa menjadi luar biasa.
Membuka topeng tidak bisa terjadi sehari. Itu proses panjang: belajar jujur, mengenali diri, dan berada dalam ruang aman. Ruang yang tidak menuntut kita menjadi orang lain. Saya mulai belajar itu ketika bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka menerima saya apa adanya. Mereka tidak peduli saya hiperaktif, atau kadang lupa, atau bicara cepat. Mereka hanya peduli apakah saya hadir sepenuh hati.
Di tengah mereka, saya merasa kembali menjadi diri saya bukan versi yang diminta dunia, tetapi versi yang saya kenal sejak kecil. Energi saya yang berantakan menjadi berguna. Cara pikir saya yang meloncat-loncat membuat saya lebih kreatif dalam mengajar. Sensitivitas saya membantu saya merasakan apa yang anak-anak butuhkan.
Saya tidak lagi menghilang. Saya mulai pulang.
ADHD masking memang bisa menyelamatkan kita dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, ia pelan-pelan menghapus siapa kita sebenarnya. Yang kita butuhkan bukan topeng lebih tebal, tapi lingkungan yang lebih siap menerima keberagaman cara berpikir manusia.
Jika Anda hidup dengan ADHD atau mendampingi seseorang yang mengalaminya, ingatlah satu hal:
Keaslian bukan kelemahan. Ia adalah rumah kita.
“Menjadi diri sendiri memang melelahkan ketika dunia memintamu untuk menyerupai orang lain. Tapi percayalah di sanalah kamu akhirnya kembali pulang.” Imam Setiawan
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











