My WordPress Blog
Opini  

Mengapa Aku Tertarik Cerita Pendek Ahmad Tohari?

Mengapa Saya Tertarik dengan Cerita Pendek Ahmad Tohari?

Saya seperti anak kecil yang selalu ingin tahu, terutama tentang isi buku. Meskipun sudah pernah membaca, selalu ada dorongan untuk kembali membuka halaman-halaman yang menarik. Kali ini saya memilih kembali kumpulan cerita pendek karya Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 hingga 1986. Mengapa buku ini begitu menarik bagi saya? Ada beberapa alasan kuat yang membuat saya terus kembali membaca dan memetik hikmah darinya, tercermin dalam pantun:

  • Jalan desa lengang berseri,
  • Angin pagi membawa cerita.
  • Baca Tohari berulang kali,
  • Setiap kisah menuntun jiwa.

Ingin Meniru Gaya Penulisannya

Saya pernah memperhatikan anak perempuan saya memutar kaset CD kesukaannya berulang-ulang, seperti kisah Teletubbies. Saya penasaran, mengapa ia tidak bosan? Ternyata alasannya sederhana: ada gerakan tarian lucu yang ingin ia tiru.

Demikian pula ketika saya membaca karya-karya Ahmad Tohari. Ada gaya bertutur yang lembut, sarat empati, tetapi juga tegas dalam menyuarakan nurani. Saya ingin mempelajari cara beliau menata konflik, membangun suasana, dan menempatkan pembaca di tengah pergulatan hidup para tokohnya. Membaca ulang menjadi bentuk “latihan meniru” yang wajar bagi penulis pemula seperti saya.

Pembaca dan Penulis Hidup di Era 1976–1986

Ada kedekatan batin antara saya sebagai pembaca dan Ahmad Tohari sebagai penulis. Kami sama-sama menghirup udara zaman yang relatif serupa: perubahan sosial, kehidupan desa yang masih kuat, dan pergulatan ideologi di masa itu.

Maka ketika membaca cerpennya, saya seolah melihat kembali fragmen hidup yang pernah saya lalui: suasana pedesaan, canda orang-orang kampung, kemiskinan yang dijalani dengan ikhlas, juga moralitas yang diuji oleh zaman. Kedekatan pengalaman inilah yang membuat cerita-cerita Tohari terasa wajar, membumi, dan mudah dicerna.

Kisah yang Mudah Dihayati dan Menginspirasi

Cerita pendek Ahmad Tohari ibarat secangkir teh hangat yang disajikan pagi hari: sederhana, tetapi langsung menyentuh hati. Tema kemanusiaan, kejujuran, kasih sayang, perjuangan hidup, dan kritik sosial digambarkan tanpa pretensi.

Kisah-kisahnya mudah dihayati oleh siapa pun, termasuk saya. Dari cerita-cerita itu pula saya belajar melihat dunia dengan cara yang lebih lembut, tetapi tetap kritis. Buku yang baik selalu meninggalkan jejak inspirasi, dan karya Tohari adalah salah satunya.

Keuntungan Membaca Cerita Pendek pada Umumnya

Membaca cerpen memiliki keuntungan tersendiri:

  • Ceritanya singkat,
  • Pemikirannya padat,
  • Konfliknya jelas,
  • Dan pesan moralnya mudah ditangkap.

Bagi saya yang sering membaca di sela-sela mengajar, cerpen adalah pilihan ideal. Membaca satu cerita dalam waktu singkat memberi energi baru dan wawasan segar untuk merenungkan kehidupan.

Belajar Membuat Sinopsis dan Resensi

Sebagai seorang guru sekaligus pembaca yang ingin terus belajar, membaca cerpen Tohari memberi saya kesempatan untuk berlatih menyusun sinopsis dan resensi. Cerita pendek lebih mudah dipetakan: alurnya ringkas, tokohnya terbatas, dan konfliknya jelas.

Dari sana saya belajar menilai kekuatan cerita, gaya bahasa, serta pesan yang ingin disampaikan penulis. Ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan kemampuan literasi saya—baik sebagai pembaca maupun penulis.

Buku yang Menginspirasi: Dari Hal yang Termudah Menuju yang Lebih Menantang

Karya Ahmad Tohari adalah jembatan yang mengantar saya dari hal-hal sederhana menuju tantangan yang lebih besar dalam dunia kepenulisan. Semakin sering membaca, semakin saya menyadari bahwa menulis bukan soal menyusun kata, tetapi memahami manusia.

Tohari memberi contoh bagaimana cerita yang sederhana bisa menjadi cermin kehidupan, asal ditulis dengan kejujuran hati. Dari situlah saya mulai belajar menulis cerpen sendiri, sedikit demi sedikit, dengan harapan bisa meneladani kedalaman makna yang ia hadirkan.

Penutup

Membaca cerpen Ahmad Tohari adalah perjalanan pulang ke akar-akar kemanusiaan: sederhana, jujur, dan menyentuh. Buku-buku itu bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi.

Saya memilih karya Ahmad Tohari karena di dalam ceritanya saya menemukan diri saya sendiri—seorang pembaca yang ingin belajar, seorang penulis yang ingin berkembang, dan seorang manusia yang ingin terus mengasah kepekaan hati.

Literasi Buku:
Tohari, Ahmad. Senyum Karyamin: Kumpulan Cerita Pendek. Cetakan ke-16, Februari 2025. Jakarta: Gramedia.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *