My WordPress Blog

Dampak Banjir dan Longsor, Maell Lee Hilang Kontak dengan Keluarga di Aceh Tamiang

Kondisi Bencana di Aceh Tamiang

Kreator konten dan komedian Maell Lee mengungkapkan kekhawatiran terkait situasi bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Ia menyampaikan bahwa keluarganya tidak dapat dihubungi selama empat hari, akibat terganggunya jaringan komunikasi dan pasokan listrik.

Dalam unggahan Instagram pada Selasa (2/12/2025), Maell Lee membagikan video situasi banjir serta curhatan emosionalnya:

“Video hari pertama banjir di kampungku Aceh Tamiang. Sekarang sudah 4 hari keluarga, saudara & kawan-kawan gak ada kabar. Listrik mati, internet mati.”

Maell Lee menunjukkan rasa cemas karena sulitnya berkomunikasi dengan kerabat di luar lokasi. Bencana alam yang terjadi membuat jaringan dan pasokan listrik terputus, sehingga warga terdampak kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang-orang terdekat.

“Kami anak rantau bertanya-tanya kabar dan keadaan di sana. Sehatkah kalian di sana, sudah makankah kalian? Berita nasional juga belum ada yang memberitakan kampung halamanku, Aceh Tamiang.”

Ia juga menyampaikan permohonan bantuan kepada pejabat negara dan masyarakat luas:

“Bapak Presiden @prabowo, kami berharap perhatian dan bantuan secepatnya. Semoga kota yang terkena banjir selalu dalam lindungan Allah, dan musibah ini digantikan dengan rejeki yang berkah. Amin.”

Situasi Bencana: Banjir, Longsor, dan Terputus Komunikasi

Menurut video yang dibagikan Maell Lee, banjir besar telah menenggelamkan beberapa kawasan di Aceh Tamiang, membuat akses jalan terputus. Longsor di sejumlah titik makin memperburuk keadaan. Akibatnya, listrik padam total, sinyal telepon dan internet hilang, dan warga lebih banyak terisolasi.

Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga hilang kabar satu sama lain, terutama mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Seruan Bantuan & Kepedulian Publik

Unggahan Maell Lee mendapat respon dari netizen yang menyatakan keprihatinan. Banyak yang menyarankan agar pihak berwenang segera mengirimkan bantuan kemanusiaan dan logistik — terutama air bersih, makanan, obat-obatan, serta peralatan darurat.

Beberapa pengguna media sosial juga meminta agar media nasional lebih memperhatikan tragedi ini agar korban dan keluarga terdampak mendapatkan bantuan yang layak.

Bencana di Tiga Provinsi Sumatera

Akhir November hingga awal Desember 2025, cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi memicu banjir besar, tanah longsor, dan banjir bandang di sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Puluhan daerah menyatakan status darurat bencana, sementara akses ke lokasi terdampak masih sangat terbatas karena jalan nasional putus, jembatan rusak, listrik padam, dan jaringan telekomunikasi lumpuh di banyak titik.

Aceh menjadi salah satu wilayah terparah, termasuk Aceh Tamiang, tempat ribuan warga terisolasi tanpa listrik dan komunikasi selama beberapa hari, memicu seruan bantuan dari masyarakat perantauan.

Di Sumatera Utara, banjir bandang dan longsor terjadi di banyak kabupaten—antara lain Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat—menyebabkan puluhan hingga ratusan korban jiwa, puluhan orang hilang, dan ribuan warga mengungsi.

Sementara di Sumatera Barat, jalur nasional Bukittinggi–Padang terputus, jembatan rusak, sekolah dan fasilitas publik digunakan sebagai posko darurat.

Secara keseluruhan, ribuan keluarga terdampak dan puluhan ribu warga mengungsi. Data korban terus berubah seiring proses evakuasi dan pencarian yang terhambat medan berat.

Pemerintah daerah, BNPB, TNI–Polri, dan relawan masih melakukan operasi penyelamatan dan distribusi logistik.

Kondisi bencana diperburuk oleh curah hujan ekstrem yang dipengaruhi pola monsun serta peningkatan risiko hidrometeorologi akibat perubahan iklim.

Pakar menilai mitigasi bencana dan tata ruang perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan serupa berulang.

Jumlah Korban Bencana di Sumatera

Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera bertambah menjadi 604 orang, berdasarkan data di situs Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), Senin (1/12/2025), yang ter-update pada pukul 17.00 WIB.

Di Aceh, sebanyak 156 orang meninggal dunia, korban hilang 181 orang, dan korban luka 1.800.

Di Sumatera Barat, korban meninggal sebanyak 165 orang, korban hilang 114 orang, dan 112 orang terluka.

Sementara itu, jumlah korban di Sumatera Utara mencapai 283 jiwa, 169 orang hilang, dan 613 orang terluka.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *