Insiden Tumbler Tuku di KRL: Dari Viral Hingga Penyesalan
Insiden kehilangan tumbler atau botol minum yang viral di KRL Commuter Line akhirnya berujung pada penyesalan dari pasangan suami istri, Anita Dewi dan Alvin Haris Setiadi. Mereka mengakui bahwa tindakan mereka memviralkan kejadian tersebut bukanlah tindakan bijak.
Sementara itu, Argi, seorang petugas PT KAI yang sempat dikabarkan dipecat karena insiden ini, menerima permintaan maaf dari Anita dan Alvin. Informasi terbaru menyebutkan bahwa Argi tidak dipecat oleh PT KAI.
Sebelumnya, Anita dan Alvin, keduanya adalah pasangan suami istri, menyampaikan permohonan maaf terkait viralnya kasus kehilangan tumbler atau botol minum di KRL yang menyeret seorang petugas KAI Commuter, Argi.
Dalam video berdurasi 55 detik, mereka menyampaikan penyesalan sekaligus mengakui bahwa unggahan Anita di media sosial yang berujung viral bukan hal tepat. “Kami sangat sadar cara kami menyikapi kejadian kami ini sangat tidak bijak sehingga melukai banyak perasaan orang-orang di luar sana,” ujar Anita dikutip dari sebuah situs berita.
Salah satu yang merasakan dampak tersebut adalah Argi, seorang petugas yang berjaga di Stasiun Rangkasbitung. Ia mengaku dipecat akibat masalah tumbler penumpang yang hilang. Bagi mereka, kejadian tersebut menjadi pelajaran besar untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan keluhan di ruang publik. Oleh sebab itu, mereka sangat menyesal dengan kondisi yang terjadi belakangan ini.
“Dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami sangat meminta maaf yang sebesar-besarnya,” kata Anita.
Argi Tak Dipecat
Selain itu, Anita Dewi, penumpang KRL Commuter Line yang kehilangan tumbler atau botol minumnya saat perjalanan pulang kerja dan turun di Stasiun Rawabuntu, Tangerang Selatan, akhirnya dimediasi bertemu dengan Argi, petugas KRL yang menemukan tumbler tersebut. Pertemuan dilakukan di kantor KAI Wisata di Stasiun Gondangdia, Jakarta, Kamis (27/11/2025) malam dan dimediasi langsung oleh perwakilan manajemen PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin berharap melalui mediasi ini persepsi publik menjadi lebih selaras dan informasi yang beredar di media sosial dapat diluruskan. “Setiap Insan KAI berkomitmen melayani pelanggan dengan dedikasi yang tinggi,” kata Bobby dikutip Jumat (28/11/2025). “Pada saat yang sama, perusahaan berkewajiban melindungi dan memberikan dukungan kepada seluruh pekerja dalam menjalankan peran mereka,” jelasnya.
Di media sosial, Argi disebutkan di-PHK oleh pihak perusahaan karena ada satu barang hilang dalam tas yang tertinggal bersama tumbler tersebut. Pengakuan Argi di media sosial dalam screenshoot percakapan dengan Anita juga mengaku disanksi PHK karena hal tersebut.
Terkait hal ini, Bobby mengatakan Argi tetap bekerja menjadi karyawan KAI Group serta bagian dari garda terdepan pelayanan. “Terus semangat bertugas dan memberikan layanan terbaik kepada pelanggan,” ujar Bobby.
Vice President Corporate Communications KAI Anne Purba bilang, langkah penyelesaian secara kekeluargaan ini merupakan bentuk keterbukaan KAI Group terhadap setiap masukan pelanggan. Ia menegaskan, KAI menjalankan seluruh proses pelayanan pelanggan sesuai ketentuan. “Kami juga menegaskan bahwa tidak ada pemecatan terhadap petugas terkait sebagaimana isu yang sebelumnya beredar,” kata Anne.
Anne menambahkan, KAI Group melalui KAI Commuter dan KAI Wisata akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memperkuat koordinasi layanan, termasuk prosedur pengelolaan barang tertinggal (lost and found). “Kami terus meningkatkan integritas dan kesiapsiagaan seluruh pekerja, baik di area stasiun maupun selama perjalanan, agar layanan semakin responsif dan terpercaya,” ujar Anne.
Ia mengimbau seluruh pelanggan untuk tetap memastikan barang bawaan berada dalam pengawasan, baik di area stasiun maupun selama berada di dalam layanan kereta api, Commuter Line, dan layanan KAI Group lainnya.
Awal Cerita Viral
Sebagai informasi, persoalan yang viral ini bermula dari seorang penumpang KRL bernama Anita Dewi membagikan cerita awalnya ketinggalan cooler bag (tas pendingin) di bagasi gerbong khusus wanita saat turun di Stasiun Rawa Buntu setelah menempuh rute Tanah Abang-Rangkasbitung.
Anita menyebut hilangnya botol minum atau tumbler yang ada di dalam cooler bag-nya itu disebutnya hilang karena petugas KAI lalai. Seorang petugas KAI bernama Argi akhirnya dipecat oleh PT KAI atas kasus hilangnya tumbler yang dipersoalkan oleh Anita.
“
TUMBLER TUKU-ku GONE ATAS KE-TIDAK TANGGUNG JAWAB PETUGAS PT KAI @commuterline.
Jadi ceritanya gini.
Disclaimer aku minta maaf juga sebelumnya karena faktor lupa jadi ketinggalam coolerbag ku di bagasi kereta. Hari Senin pulang kerja aku naik commuter line St Tanah Abang- Rangkas Bitung sekitar pukul 19.00. Aku turun di St Rawa Buntu sekitar 19.40. Setelah turun aku baru sadar cooler bag ku tertinggal di bagasi commuter line. Aku lgsg lapor petugas (seragam security),”
Petugas security langsung merespon laporan Anita dan meminta nomor telepon Anita. Setelah itu, barang tersebut ditemukan oleh petugas lain dan dalam keadaan lengkap. Cooler bag milik Anita ditemukan dan diterima petugas KAI bernama Argi. Argi kemudian membawa barang itu ke ruang Walka. Ia sebenarnya sempat meminta agar barang itu diantar kembali ke Stasiun Rawa Buntu, tetapi petugas menjelaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan karena aturan operasional.
Hari berikutnya, Anita bersama suaminya datang ke Stasiun Rangkas Bitung untuk mengambil barangnya. Namun ternyata, tumbler miliknya hilang. Tidak diketahui dimana posisi tumbler tersebut hilang. “
“TUMBLER TUKUKU TIDAK ADA. KECEWA. Petugas Security tidak mengetahui dimana tmbler tuku itu. dan Petugas Security jujur kalo dia tidak mengecek saat serah terima dengan security Walka saat itu,”
Anita dan suaminya meminta rekaman CCTV di ruang walka. Namun untuk bisa mengecek CCTV butuh proses yang cukup panjang. Insiden hilangnya tumbler milik penumpang itu membuat Argi mengaku dipecat dari pekerjaannya. Hal itu ia tulis dalam chat yang ia kirim ke suami Anita.
“Sekarang pekerjaan saya di ujung tanduk (diberhetikan) karna bapak/istri bapak posting di salah satu media sosial. Demi Allah pak bukan saya yang ambil Tumbler tersebut. Dampaknya sangat besar pak. Bapak sudah menghilangkan satu-satunya sumber pendapatan saya,” tulis Argi.
Sementara itu, Argi juga membuat cuitan di Thread tentang kronologi versinya. Menurut Argi, saat itu dirinya sedang berjaga dan menerima tas tersebut dari security. “Saya bawa barang tsb ke ruangan PS dan ditaruh di meja, dan saya langsung balik ke gate dikarenakan masih ramai penumpang, malamnya sebelum saya selesai dinas, saya menyadari ternyata barang tsb sudah di dalam lemari putih yang terkunci,” tulisnya.
Namun saat Anita mengambil tas itu, rupanya tumbler tersebut sudah tidak ada di dalamnya. Argi pun mencoba mengganti barang milik Anita yang hilang. “Saya mencoba cari jalan tengah dengan menawarkan untung mengganti kehilanagn barang tsb, tetapi penumpang tsb bersikeras untuk ingin barang tsb ada, dan penumpang tsb melanjutkan perjalanannya naik KRL,” tulisnya.
Ia juga menyertakan bukti chat bersama suami Anita. Argi mengatakan kalau dirinya akan mengganti tumbler tersebut. Unggahannya kemudian menyebar luas, memicu simpati sekaligus kontroversi, hingga membuat banyak warganet menyalahkan pihak KAI tanpa mempertimbangkan kelalaian Anita sendiri.
Tragisnya, kasus ini berujung pada pemecatan petugas KAI bernama Argi, yang dianggap bertanggung jawab dalam proses penanganan laporan kehilangan tersebut. Keputusan pemecatan Argi memicu gelombang protes baru dari warganet yang menilai tidak adil jika seorang petugas harus kehilangan pekerjaan hanya karena kelalaian penumpang terhadap barangnya sendiri.
Hal ini kemudian memicu reaksi keras dari warganet yang justru balik menghujat penumpang yang memviralkan kasus tersebut karena dianggap berlebihan dan menyebabkan hilangnya pekerjaan petugas.











