My WordPress Blog
Opini  

Opini: Antropologi Menanti, Dimensi Rohani dan Politik Sosial di Masa Adventus

Masa Adventus: Ritual Penantian yang Menggabungkan Makna Spiritual dan Sosial

Masa Adventus adalah saat di mana umat Kristiani di seluruh dunia memasuki periode penantian yang penuh makna. Tidak hanya menghitung hari menuju Natal, masa ini juga menjadi waktu rohani untuk menata ulang bathin maupun hidup sosial. Advenire berarti kedatangan, dan bagi umat Kristiani, mereka menanti kedatangan Tuhan Sang Penyelamat. Menanti berarti berharap. Dalam konteks sosial kemasyarakatan, ada penantian yang lain, yakni penantian akan perubahan politik, kehadiran pemimpin yang merakyat serta realisasi dari program kepemerintahan atau juga slogan-slogan kampanye pemilu.

Tanpa disadari sebenarnya, dua dimensi penantian, yakni rohani dan sosial (politis) saling bertautan. Dari kacamata antropologi, keduanya dibalut dalam “ritual penantian” untuk menjawabi kebutuhan manusia akan makna dan keselamatan. Adventus bernuansa transenden karena menjanjikan keselamatan kekal, sedangkan politik memberikan janji imanen, yakni kemajuan dan kesejahteraan.

Ritual Penantian dan Pola Pikir Kolektif

Dalam ilmu antropologi, agama bukanlah sekadar sistem kepercayaan, melainkan juga sistem makna. Clifford Geertz menyebutnya sebagai “kerangka simbolik”, sejenis strategi manusia dalam memahami realitas dan menavigasi ketidakpastian hidup. Adventus sebagai ritual menghajak umat Kristiani untuk menata diri, menyiapkan batin, dan menaruh harapan pada sesuatu yang belum terwujud atau diimpikan (diharapkan), yakni kehadiran nyata keselamatan bagi diri sendiri dan seluruh umat manusia.

Geertz menyebut ritus-ritus keagamaan sebagai “metafora kehidupan sosial.” Ini menjadi menarik, karena pola penantian yang sama seperti Adventus pun ada di arena politik. Imajinasi kolektif tentang masa depan yang lebih baik tersirat di dalam program-program politik kepemerintahan atau juga lewat ritual sosial-politis bernama kampanye, dengan segala janji akan perubahan, kemajuan bahkan pencitraan figur pemimpin.

Inilah yang disebut Victor Turner sebagai sosial drama, di mana simbol dan narasi diciptakan untuk mengatasi ketegangan sosial, dan dengannya ditemukan identitas bersama. Secara politis pun ritual-ritual ini menyalakan kembali harapan akan penyelamatan, bukan dari dosa, tetapi dari kemiskinan, korupsi, dan ketidakadilan.

Mesias dan Pemimpin Mesianistik

Umat Kristiani menantikan kedatangan Mesias. Dialah Sang Penyelamat, Pembebas agung yang membawa umat manusia keluar dari belenggu kegelapan dan dosa. Di kebanyakan masyarakat yang menganggap diri religius, politik sering kali dilihat dalam kerangka “mesianisme sosial.” Dalam teori Émile Durkheim, pemimpin diharapkan bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi figur penyelamat. Karenanya tak jarang masyarakat menaruh “iman politik” pada seseorang, layaknya umat Kristiani menaruh iman pada sosok Mesias.

Fenomena ini seringkali tampak jelas dalam cara publik menyikapi simbol-simbol tertentu, di mana bahasa religius atau agamis, gestur kerendahan hati, atau narasi moral sering kali lebih memikat ketimbang argumentasi rasional. Dari sudut pandang antropologis, hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan bukan saja hasil dari proses politik, melainkan juga hasil dari imajinasi kolektif yang memberi makna pada sosok pemimpin. Politik pun menjadi semacam liturgi sosial, di mana masyarakat merayakan ritual untuk menantikan datangnya perubahan, meskipun sering kali berujung pada kekecewaan.

Antara Harapan dan Rasionalitas

Penantian dalam konteks Adventus bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan aktif. Umat Kristiani menantikan Kristus tidak dengan berpangku tangan, lebih dari itu mereka berusaha menata hidup, memperbaiki relasi, sebagai persiapan hati. Prinsip yang sama seharusnya juga relevan dalam dunia politik. Mengapa masyarakat lebih sering menunggu perubahan dari “atas”, yaitu dari sosok pemimpin, ketimbang membangun perubahan dari “bawah”, melalui inisiatif pribadi maupun kolektif, partisipasi dan tanggung jawab bersama?

Pada titik ini kelihatanlah masalah di dalam cara kita melihat politik. Harapan, yang seharusnya menjadi kekuatan reflektif, seringkali berubah menjadi ketergantungan emosional. Politik menjadi arena keyakinan buta, bukan akal sehat. Kultus kepribadian yang sering disalahpelintirkan menjadi “mania” dikedepankan, bukan diskusi politik. Dalam situasi seperti ini, Adventus dapat menjadi cermin korektif dan kolektif: apakah harapan kita, baik religius maupun politik, benar-benar membawa perubahan diri, ataukah hanya pengulangan siklus kekecewaan?

Adventus sebagai Cermin Kritis

Masa Adventus mengundang kita untuk menimbang ulang bagaimana kita menaruh harapan. Umat Kristiani diajak untuk berjaga-jaga, berharap dan mengontemplasikan sejarah keselamatan yang akan dipenuhi melalui kedatangan Sang Mesias sendiri. Tidak akan ada pesta atau perayaan meriah apa pun dalam masa ini. Dalam konteks sosial-politik, ini berarti menata ulang cara kita berpartisipasi dalam ruang publik, yakni dari penantian pasif menuju tindakan reflektif.

Harapan bukanlah ilusi yang dijual lewat slogan, melainkan keputusan sadar demi kebaikan bersama (bonum commune). Berlandaskan teori Emile Durkheim tentang peran agama, Adventus seyogyanya bukan hanya urusan pribadi, melainkan keluarga dan Gereja sebagai sebuah komunitas sosioreligius. Dengan demikian, Adventus bukan hanya momentum liturgis, tetapi juga sosial, yaitu masa di mana umat Kristen diajak untuk mengingat bahwa setiap bentuk penantian memiliki konsekuensi sosial. Lebih dari itu perlu diingat juga, bahwa harapan tanpa kesadaran akan mudah dimanipulasi, sedangkan harapan yang kritis mampu melahirkan perubahan nyata.

Refleksi Kontekstual NTT

Sudah sejak zaman purba, setiap komunitas masyarakat membentuk ritusnya sendiri untuk menghadapi ketidakpastian. Menurut Carl Gustav Jung, melalui ritual, masyarakat dapat menghadapi penderitaan, mencari kedamaian, dan mendapatkan kekuatan moral untuk mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat modern, politik telah menjadi salah satu ritus itu. Namun, tanpa kesadaran etis dan refleksi spiritual, ritus ini bisa berubah menjadi teater yang kehilangan makna.

Konteks NTT sebagai salah satu propinsi termiskin di Indonesia (urutan keenam menurut data BPS Provinsi NTT 2025) tentu juga memacu harapan akan perbaikan standar dan mutu kehidupan. Berbagai persoalan sosial seperti human trafficking, konflik geotermal, dibaluti wabah korupsi, kolusi dan nepotisme, mewarnai keseharian masyarakat. Meskipun demikian, Adventus tetap menjadi bagian dari ziarah iman masyarakat. Umat Kristiani yang merupakan mayoritas di NTT diharapkan menghidupi masa Adventus ini secara rohani (kontemplatif) dan secara sosiopolitis. Pengharapan (penantian) rohani hendaknya mendorong pengharapan sosial, yakni upaya yang konkret untuk menghadirkan tanda-tanda harapan di tengah keterbatasan hidup.

Masa penantian berarti bukan hanya menunggu kedatangan Kristus secara pasif, melainkan juga tentang partisipasi aktif dalam menghadirkan kasih, keadilan, dan solidaritas di lingkungan sekitar. Dalam konteks NTT, pengharapan spiritual itu akan terwujud melalui penghapusan praktik KKN, penolakan segala bentuk perdagangan manusia, serta perjuangan melestarikan alam dan hak-hak masyarakat kecil.

Di masa Adventus kita perlu bertanya kembali: apakah kita masih mampu menantikan dengan kesadaran, bukan sekedar menunggu datangnya “penyelamat”, tetapi juga mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku (aktor) atau bagian dari perubahan itu sendiri? Karena pada akhirnya, Adventus sejati bukanlah tentang siapa yang datang, melainkan tentang bagaimana kita menantikan. Adventus pun bukanlah sekadar ritual liturgis penantian, melainkan juga panggilan profetis untuk menata kehidupan sosial dalam terang kasih Allah.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *