My WordPress Blog

Guru SD Salatiga Tenangkan Kelas dengan Teknik Sadar Napas

Perenungan Hari Guru Nasional

Bagi Restu Ari Nur Pratiwi (39), seorang guru kelas 4 SDN Dukuh 01 Kota Salatiga, Hari Guru Nasional bukan sekadar momen seremonial. Baginya, hari ini menjadi kesempatan untuk merenung dan meneguhkan kembali panggilan jiwanya sebagai pendidik.

“Hari Guru Nasional itu refleksi, bukan hanya seremonial. Guru itu bukan hanya pemberi ilmu, tapi pemandu kesadaran, pembawa cahaya, dan penanam benih kebaikan,” ujar Restu kepada .

Bagi dia, mengajar adalah ibadah, proses membangun kesadaran anak didik untuk mengenal diri, menumbuhkan fitrah, dan mendekatkan diri pada kebenaran sejati. Ketika seorang guru hadir utuh dan mengajar dengan hati, pengetahuan tidak lagi sekadar materi, melainkan cahaya.

Guru dan Spiritualitas: Kelas Ribut Jadi Tenang Berkat Latihan Napas

Restu bukan guru biasa. Di balik aktivitasnya sebagai pendidik dan ibu dari empat anak laki-laki, dia menekuni pembelajaran Reiki Tummo sejak 2007. Minatnya pada spiritualitas membuatnya terus mencari cara menghadirkan ketenangan dalam pembelajaran, hingga menemukan teknik mindfulness sederhana yang kini ia terapkan di kelas, yakni sadar napas 4-4-4-4.

“Mindfulness bukan teori. Ini alat untuk kembali pada kesadaran, meningkatkan fokus, empati, dan keseimbangan emosi,” tutur dia.

Teknik itu dinilai sangat membantunya menghadapi kelas yang dia sebut “kelas paling ribut yang pernah saya ampu”. Siswa-siswanya terbilang sangat aktif, beberapa mudah terpancing emosi, dan terdapat satu anak istimewa yang telah menjalani tes psikologi namun belum mendapatkan terapi.

Pada awal tahun ajaran, Restu sempat kewalahan. Namun dia kemudian mencoba membiasakan rutinitas sederhana setiap kelas pagi, yakni doa syukur dan latihan napas selama lima menit, tarik napas empat detik, tahan empat detik, buang empat detik, jeda empat detik. Hasilnya mulai terasa.

“Mereka lebih tenang, lebih mudah diatur, lebih fokus. Bahkan ketika saya tanya, mereka bilang merasa nyaman setelah latihan napas,” ungkapnya. Murid istimewanya pun menunjukkan perubahan signifikan. Jika dulu sering menyendiri dan mudah tantrum, kini dia mulai mau berkomunikasi, bermain bersama teman, dan menjadi lebih sopan.

“Saya sadar, saya tidak tahu apa yang mereka alami sebelum datang ke sekolah, apakah habis dimarahi atau ada masalah di rumah. Maka saya ingin ketika masuk kelas, mereka mulai dengan hati yang sadar dan bahagia,” ucap dia.

Kini Restu sedang mengembangkan latihan meditasi membuka hati untuk membantu anak-anak melepaskan emosi negatif. Dia merasakan kelasnya semakin stabil, lebih empatik, dan tidak cepat tersulut konflik.

Harapan untuk Para Guru dan Dunia Pendidikan

Sebagai seorang pendidik yang terus menempuh perjalanan batin, Restu berharap guru-guru Indonesia juga menumbuhkan self-awareness dan empati. “Guru perlu terus belajar, berinovasi, berkembang. Menjadi teladan itu penting, tidak hanya pandai mengajar, tetapi bijak dan sadar,” tegas dia.

Spiritualitas, sambungnya, bukan soal agama tertentu, tetapi tentang hadir sepenuhnya di kelas, menyadari emosi diri, dan memandu murid dengan kasih sayang. Restu punya pandangan yang tegas mengenai masa depan pendidikan di Indonesia. Dia berharap adanya kurikulum berbasis nilai dan kebijaksanaan, bukan sekadar angka.

“Kecerdasan majemuk dan keseimbangan jiwa itu penting. Mohon bisa kurangi beban administrasi, energi kami harusnya digunakan untuk interaksi bermakna dengan siswa, bukan menumpuk kertas,” harap dia.

Restu juga menekankan pentingnya otonomi profesional bagi guru untuk berkreasi di kelas serta penghargaan yang lebih baik, baik finansial maupun non-finansial. “Guru itu profesi mulia. Perlakuannya juga harus mulia,” katanya.

Sosok Guru yang Gemar Membaca dan Mencari Kedalaman

Di rumah, Restu adalah pencinta buku. Dia menyukai karya Irmansyah Effendi, novel Harry Potter, buku-buku Asma Nadia, Tere Liye, karya Dewa Eka Prayoga, hingga tulisan Saptuari Sugiharto. Dia juga gemar membaca kisah pewayangan dan teks-teks Veda.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari D2 UKSW Salatiga, kemudian S1 PGSD di UT. Setelah sempat wiyata bakti di SD Sidorejo Lor 7, dia resmi diangkat sebagai PNS pada 2009. Kini, selain mengajar, dia menjalani keseharian sebagai ibu dari empat anak laki-laki yang ramai dan penuh energi.

Bagi Restu, menjadi guru bukan tentang bisa atau tidak bisa, tetapi tentang hadir dengan hati yang utuh. Saat Hari Guru Nasional ini, kisah Restu menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya terletak pada buku dan kurikulum, tetapi juga pada kebijaksanaan, kelembutan hati, dan kesadaran diri seorang guru.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *