Kembalinya Arum Indah ke Indonesia Setelah Penemuan Kerangka Anaknya
Arum Indah, ibunda dari Alvaro Kiano Nugroho, akhirnya kembali ke Indonesia setelah tiga hari penemuan kerangka yang diduga merupakan anaknya. Alvaro, seorang bocah berusia enam tahun, hilang selama delapan bulan sebelum akhirnya ditemukan di Kali Cilalay, Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu, 23 November 2025. Jasadnya hanya tinggal kerangka, dan ini menjadi pukulan besar bagi keluarga.
Arum, yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, pulang ke Indonesia setelah mengetahui kabar tersebut. Ia langsung pergi ke rumah duka di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Di sana, ia terlihat sangat syok dan hanya bisa menangis. Ia tidak menyangka bahwa putranya telah tiada.
Peran Saksi Kunci dalam Kasus Pembunuhan Alvaro
Pada Selasa (25/11/2025), Arum menyambut kedatangan Muhammad Reza, salah satu saksi kunci dalam kasus pembunuhan Alvaro. Reza adalah orang pertama yang melaporkan bahwa Alvaro merupakan korban pembunuhan. Ia mengungkapkan informasi penting yang membantu polisi menemukan titik terang dari kasus hilangnya Alvaro.
Reza, yang berusia 46 tahun, memberanikan diri untuk melapor ke polisi pada 16 November 2025. Dari laporan tersebut, polisi dapat menemukan lokasi jenazah Alvaro. Arum mengucapkan terima kasih kepada Reza atas kontribusinya dalam kasus ini.
Harapan Arum Indah dengan Hasil Tes DNA
Meski sudah mengetahui kondisi Alvaro, Arum masih berharap hasil tes DNA yang dilakukan oleh pihak kepolisian menunjukkan bahwa kerangka yang ditemukan bukanlah jasad putranya. Ia mengatakan, “Harapannya ini kan lagi nunggu tes DNA dulu ya, kira-kira 3 sampai 5 hari, harapannya sebenarnya sih penginnya itu bukan Alvaro, masih hidup gitu (Alvaro) ya kan.”
Namun, jika hasil tes DNA menyatakan bahwa jasad tersebut benar-benar milik Alvaro, Arum mengaku akan menerima hal tersebut meskipun sangat berat. “Tapi kalau memang itu ternyata Alfavo ya udah, biar dimakamkan baik-baik walaupun berat ya sebenarnya, tapi ya udah,” tambahnya.
Kesedihan Arum Akibat Kekerasan yang Menimpa Anaknya
Arum masih belum bisa menerima fakta bahwa anaknya tewas dibunuh oleh ayah tirinya, Alex Iskandar. Ia mengungkapkan bahwa ketika mengetahui kondisi Alvaro dan pelaku, ia merasa sangat syok. “Belum bisa banyak ngomong sih sebenarnya. Dengar kabar ditemukan kayak ya alhamdulillah ditemukan ya, tapi ketika tahu kondisinya dan pelakunya ternyata orang terdekat agak syok banget sih.”
Arum juga menceritakan bagaimana ia mencari bantuan ke mana-mana saat Alvaro hilang. Ia mengatakan bahwa Alvaro adalah anak yang periang dan tidak pernah banyak meminta apa-apa.
Motif Pembunuhan oleh Ayah Tiri
Dalam kasus ini, Alvaro tewas di tangan ayah tirinya, Alex Iskandar. Motif pembunuhan ini terjadi karena dendam setelah Alex mengetahui bahwa istrinya selingkuh dengan pria lain. “Jadi, istri tersangka ini bekerja di luar negeri. Nah, akibat bekerja di luar negeri, dari hasil chat itu, muncul adanya dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh istrinya,” kata AKBP Ardian Satrio Utomo, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan.
Alex menculik Alvaro dari Masjid Al-Muflihun pada Kamis (6/3/2025), lalu membawanya ke kediamannya di wilayah Tangerang. Di sana, ia membunuh Alvaro dengan cara dibekap hingga meninggal dunia. Jasad Alvaro kemudian dibuang di Jembatan Cilalay, Tenjo, Kabupaten Bogor, pada Minggu (9/3/2025).
Pemakaman dan Kematian Pelaku
Jenazah Alvaro baru ditemukan pada Jumat (21/11/2025) setelah polisi melibatkan anjing pelacak. Saat ditemukan, jasad korban sudah menjadi kerangka. Pada hari yang sama, polisi menangkap Alex di kediamannya di wilayah Tangerang.
Setelah diperiksa, Alex dititipkan di ruang konseling karena akan dilakukan tes kesehatan. Namun, pada pagi hari Minggu, Alex mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan celana panjang yang dikenakannya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa Alex sempat izin ke toilet dan meminta untuk mengganti celana. Ia mengaku celana pendek yang diberikan penyidik sudah kotor. Beberapa jam kemudian, ia ditemukan tewas gantung diri di ruangan konseling.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











