My WordPress Blog
Opini  

Masih Cocokkah Istilah ‘Guru Tanpa Tanda Jasa’ di Era Ini?



Sebagai bagian dari peringatan Hari Guru Nasional, penulis adalah Victor Silaban, S.S., M.Pd – seorang pegiat pendidikan.

Setiap tanggal 25 November, bangsa ini kembali merayakan momen penting untuk menghormati para pendidik. Dalam peringatan ini, istilah “guru tanpa tanda jasa” sering muncul di berbagai media, baik dalam bentuk baliho, pidato, maupun ucapan terima kasih. Namun, apakah istilah ini masih relevan di masa kini?

Secara historis, frasa ini lahir sebagai bentuk penghormatan moral. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa guru bekerja dengan ketulusan, tidak hanya mencari materi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai dan kecerdasan pada generasi mendatang. Dalam konteks simbolis, istilah ini memang menyentuh hati. Ia mencerminkan rasa hormat terhadap dedikasi guru yang sering bekerja melebihi jam kerja formal, menggunakan dana pribadi untuk siswa, serta memberikan seluruh hati untuk dunia pendidikan.

Namun, dunia pendidikan kini telah berubah. Pekerjaan guru bukan lagi sekadar pengabdian moral, melainkan profesi yang membutuhkan kompetensi tinggi. Guru harus melalui pendidikan khusus, sertifikasi, pelatihan berkelanjutan, dan penilaian kinerja. Mereka juga menghadapi beban administrasi yang cukup berat. Di tengah tantangan global, guru dituntut untuk adaptasi teknologi, inovasi pembelajaran, dan tanggung jawab besar dalam membentuk karakter generasi digital.

Dalam realitas seperti ini, apakah masih tepat jika profesi yang strategis ini disandarkan pada romantisme “tanpa tanda jasa”? Jika diartikan secara harfiah, istilah ini justru bisa mengaburkan hak-hak profesional guru. Banyak guru honorer yang gajinya tidak layak, ada yang bekerja di sekolah terpencil dengan sarana minim, dan ada juga yang harus mengorbankan waktu keluarga demi tugas administratif yang menumpuk. Ketika kesejahteraan belum sejalan dengan beban kerja, ungkapan ini bisa menjadi retorika yang manis namun tidak memberi perubahan nyata.

Momentum Hari Guru seharusnya menjadi ruang refleksi untuk menggeser cara pandang. Guru bukan lagi sosok sunyi yang bekerja tanpa penghargaan, melainkan profesional yang berhak atas tanda jasa yang jelas dan terukur—baik berupa apresiasi moral maupun kesejahteraan material. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai gurunya. Penghargaan itu tidak cukup hanya lewat pujian, tetapi juga melalui kebijakan, perlindungan, dan kesejahteraan yang setimpal.

Istilah “guru tanpa tanda jasa” tetap memiliki nilai emosional dan historis. Namun, kita perlu mereinterpretasi maknanya. Ia bukan berarti guru tidak perlu diberi tanda jasa, melainkan bahwa jasa mereka terlalu besar untuk diukur hanya dengan materi. Mereka bekerja untuk membentuk manusia, bukan hanya menyelesaikan kurikulum. Mereka hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping, teladan, dan inspirator hidup. Jasa mereka melampaui angka—tetapi bukan berarti tidak perlu dihargai.

Dalam semangat Hari Guru, mari kita mulai menggunakan bahasa yang lebih proporsional:

Guru sebagai pendidik profesional

Arsitek peradaban

Pembangun karakter bangsa

Pahlawan berkompetensi

Bukan untuk menggantikan istilah lama, tetapi untuk menegaskan bahwa guru bukan hanya mengabdi, melainkan juga layak memperoleh dukungan profesional yang kokoh.

Yang paling dibutuhkan guru bukan sekadar pujian, tetapi penghargaan nyata. Kenaikan kualitas pelatihan, pemenuhan hak, lingkungan kerja yang aman, serta kesempatan berkembang adalah bentuk tanda jasa yang sesungguhnya. Itulah cara bangsa berterima kasih dengan hormat yang tulus, bukan retorika belaka.

Hari Guru bukan sekadar perayaan, tetapi pengingat bahwa masa depan Indonesia sedang dibentuk oleh tangan-tangan para pendidik di ruang kelas. Maka, mari kita pastikan bahwa jasa mereka tidak hanya dikenang, tetapi juga dihargai dengan sepenuhnya.

Selamat Hari Guru. Terima kasih untuk semua cahaya yang tidak pernah padam.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *