Penggunaan AI dalam Persiapan Ujian Nasional
Muhammad Agha Nazih, seorang siswa SMAN 1 Kudus, berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata pelajaran Fisika di Tes Kemampuan Akademik (TKA) tanpa mengikuti bimbingan belajar. Proses persiapannya dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mentor belajar.
Pendekatan Terstruktur dengan AI
Agha menggunakan AI secara terstruktur melalui prompt yang jelas. Ia mulai dari membuat soal bertahap, mengecek pemahaman, hingga mengulas konsep yang belum dikuasai. Dengan metode ini, ia mampu memperdalam pemahaman dan meningkatkan efisiensi waktu belajarnya.
Kepada media, Agha mengungkapkan bahwa ia sudah menggunakan AI termasuk ChatGPT sebagai “mentor belajar” sejak kelas XI. Menurutnya, kunci utama agar AI benar-benar membantu adalah menyusun prompt secara jelas dan terstruktur.
“Biasanya setelah saya belajar dari YouTube, saya minta AI membuatkan soal. Misalnya, ‘Buatkan saya 10 soal pilihan ganda (5 opsi) tentang materi Fisika ini, dengan tingkat kesulitan dari mudah sampai sulit’,” ujar Agha.
Ia menilai prompt yang detail jauh lebih efektif dibanding perintah singkat. Selain itu, Agha juga menyarankan untuk mengaktifkan mode penalaran AI jika tersedia, seperti di ChatGPT, karena kualitas jawabannya dinilai lebih baik dibanding mode cepat.
Jadwal Belajar Disiplin
Persiapan TKA dimulai sejak tiga bulan sebelum ujian. Langkah awal yang dilakukan adalah memahami ketentuan dan peraturan TKA secara menyeluruh, termasuk durasi ujian serta kisi-kisi setiap mata pelajaran. Setelah itu, Agha mulai belajar sejak tiga bulan sebelum TKA. Ia berusaha mempelajari materi sedini mungkin agar tidak panik saat hari ujian mendekat.
Dalam proses belajar, ia selalu memulai dengan menyusun rencana dan tujuan. Materi, durasi, serta target capaian ia tuliskan di selembar kertas, lalu dijalankan secara disiplin. “Setelah sesi belajar, saya selalu melakukan review ulang materi agar tidak lupa dan memastikan benar-benar paham,” ujarnya.
Prestasi Akademik yang Mengagumkan
Prestasi akademik Agha tidak datang secara instan. Selama SMA, ia pernah meraih juara dua dan juara empat Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat kabupaten selama dua tahun berturut-turut. Bahkan sejak SD dan SMP, ia sudah aktif mengikuti berbagai lomba Matematika dan IPA, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.
Ketertarikannya pada Fisika, menurut Agha, berangkat dari karakter ilmu tersebut yang bersifat numerik dan konseptual. “Saya lebih menyukai pelajaran yang menonjolkan perhitungan dibandingkan hafalan,” jelasnya.
Tujuan Pendidikan yang Jelas
Meski sukses meraih nilai sempurna di Fisika, Agha berencana melanjutkan pendidikan ke Jurusan Ilmu Aktuaria Universitas Gadjah Mada (UGM) jika memenuhi syarat dan diterima. “Saya tertarik pada kombinasi konsep matematika dan ekonomi yang ada di bidang aktuaria,” katanya.
Dukungan Orangtua yang Mendukung
Agha juga menekankan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses belajarnya. Ia menyebut ayahnya, Arief Yudianto, S.E., dan ibunya, Hanik Hidayati, S.Pd.I., M.Pd., sebagai sosok yang selalu memberi dukungan tanpa tekanan. “Mereka memberi saya ruang untuk belajar dan tidak pernah menuntut nilai sempurna,” tuturnya.
Tips untuk Siswa SMA
Agha pun membagikan tips bagi siswa SMA yang akan mengikuti TKA. Menurutnya, selain metode belajar dan pemanfaatan teknologi, hal terpenting adalah memahami tujuan belajar. “Selalu tanyakan pada diri sendiri: apa tujuan Anda belajar TKA, mengapa ingin mendapat nilai tinggi, dan untuk siapa Anda berjuang. Kalau tujuan sudah jelas, kita akan lebih disiplin dan merasa punya tanggung jawab lebih besar untuk meraih hasil terbaik,” kata Agha.











