My WordPress Blog

Agus Saputra, Guru SMK Jambi Dipanggil Prince, Akui Merasa Nyaman

Pengalaman Unik dan Tantangan Guru dalam Mengajar

Agus Saputra, seorang guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Berbak Tanjung Jabung Timur, Jambi, memiliki pengalaman unik selama 15 tahun mengajar. Ia sering dipanggil dengan sebutan “Prince” (Pangeran) oleh para siswa. Sebutan ini menurut Agus merupakan panggilan akrab yang membuatnya merasa nyaman saat berinteraksi dengan murid-muridnya.

Sebelumnya, siswa-siswa di sekolah tersebut menyebut Agus dengan istilah “prince” atau pangeran. Menanggapi hal itu, Agus mengakui bahwa dirinya memang diberi panggilan khusus oleh para siswa. Ia merasa nyaman dengan sebutan tersebut karena membuat hubungan antara guru dan siswa lebih dekat.

Namun, tidak semua pengalaman mengajar Agus adalah hal yang menyenangkan. Selama 15 tahun mengajar, ia juga pernah menerima panggilan yang tidak pantas dari siswa. Hal ini membuatnya merasa kesal dan kecewa. Ia menyayangkan pihak sekolah yang tidak menindak tegas siswa-siswa yang tidak sopan. Meskipun sudah sering terjadi, pihak sekolah hanya memberikan teguran tanpa sanksi tegas. Ini membuat situasi semakin memburuk.

Agus juga mengungkapkan bahwa ada siswa yang terus-menerus menggunakan kata-kata kasar kepada dirinya setiap tahun. Bahkan, meskipun telah dimediasi oleh pihak sekolah, siswa tersebut tetap mengulangi perbuatannya. Hal ini membuat Agus merasa bingung dan pasif dalam menghadapi situasi tersebut.

Pengakuan Siswa Terkait Pemanggilan

Seorang siswa bernama MLP, yang terlibat dalam pengeroyokan guru Agus Saputra, mengungkapkan bahwa guru tersebut memiliki panggilan tersendiri di sekolah. Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan “pak”, melainkan “prince” atau pangeran. Alasan utamanya adalah agar tidak marah jika dipanggil dengan sebutan “bapak”.

Menurut MLP, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai. Kelas yang bising membuatnya spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam. Namun, hal ini justru memicu reaksi keras dari sang guru. Saat itu, Agus masuk ke kelas tanpa izin dan langsung mencari siapa yang berteriak. MLP mengaku merasa terkejut dan spontan menjawab bahwa dirinya adalah “prince”. Akibatnya, ia ditampar oleh Agus.

Kekerasan dan Reaksi Siswa

Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf dari Agus karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah, Agus justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan. Puncak pengeroyokan terjadi saat Agus dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.

MLP mengaku bahwa Agus mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. Ketika ia mendekati untuk meminta kejujuran, ia justru mendapat bogem mentah. Melihat aksi Agus yang meninju, siswa meradang hingga mengeroyok sang guru. MLP menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.

Pengakuan Agus Saputra

Agus Saputra mengaku sempat melakukan tindakan keras terhadap siswa hingga berujung dikeroyok. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan karena refleks akibat diteriaki siswa dengan kata-kata tidak pantas. Kejadian bermula saat dirinya ditegur oleh seorang siswa dengan nada tidak sopan dan tidak hormat.

Agus menuturkan bahwa dirinya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggilnya seperti itu. Siswa tersebut langsung menantangnya, sehingga Agus refleks menampar muka siswa tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat menganiaya siswa, hanya membela diri sebagai bentuk pembinaan spontan.

Selama jam istirahat, Agus kembali ditantang oleh siswa tersebut. Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00. Setelah mediasi, Agus mengajukan alternatif pembuatan petisi. Ia menawarkan kepada siswa untuk membuat petisi jika mereka tidak ingin dia lagi mengajar di sekolah tersebut atau mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Penyebab Keroyokan dan Laporan ke Polda

Agus mengakui bahwa dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa. Kata-kata tersebut menyinggung soal ekonomi siswa yang kurang mampu. Ia berharap ada yang memediasi kasus ini, terutama dinas pendidikan atau pihak yang berwenang.

Setelah mediasi, Agus resmi melapor ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026) sore. Ia didampingi kakaknya, Nasir, dan membuat laporan polisi hampir empat jam. Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan secara mental setelah kasus ini viral di media sosial. Ia juga menyebutkan bahwa Agus telah melakukan visum dan ada bekas lebam di tubuhnya.

Agus yang hadir di Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini. Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di media sosial. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *