Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri: Membuka Akses Pendidikan untuk Anak-anak Kurang Mampu
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri menjadi salah satu wujud nyata dari program yang diinisiasi oleh pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto. Berdiri sejak Juli 2025 dan diresmikan secara nasional pada awal Januari 2026, SRMA 24 Kediri menawarkan pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu tanpa adanya tes akademik atau biaya masuk.
Sasaran dan Sistem Rekrutmen
Sekolah ini menyasar anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2, yaitu kelompok ekonomi paling bawah. Tidak ada syarat akademik atau tes kesehatan dalam proses rekrutmen. Seluruh biaya pendidikan, termasuk fasilitas dan kebutuhan harian, ditanggung oleh pihak sekolah. Hal ini membuat SRMA 24 Kediri menjadi salah satu inisiatif yang sangat penting dalam memperluas akses pendidikan menengah.
Di SRMA 24 Kediri saat ini terdapat 100 siswa dalam satu angkatan. Dari jumlah tersebut, 60 siswa adalah perempuan dan 40 siswa laki-laki. Semua siswa tinggal di asrama dan mengikuti sistem pendidikan terpadu setiap hari. Sistem berasrama ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, serta kemandirian.
Fasilitas yang Disediakan
Seluruh siswa diberikan fasilitas lengkap, termasuk laptop untuk mendukung pembelajaran. Momen pertama kali siswa menerima laptop menjadi pengalaman tak terlupakan. Banyak dari mereka bangga namun masih bingung bagaimana cara mengoperasikannya. Pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan teknologi dalam pendidikan modern.
Selain itu, SRMA 24 Kediri juga menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, PMR, English Club, olahraga, seni musik, jurnalistik, hingga persiapan sekolah kedinasan. Kegiatan ini dirancang untuk melatih fisik dan kemampuan akademik siswa.
Aktivitas Harian dan Kehadiran Keluarga
Kegiatan belajar formal berlangsung mulai Senin hingga Jumat, sementara Sabtu dan Minggu diisi dengan kegiatan mandiri, ekstrakurikuler, pembinaan keagamaan, serta aktivitas luar seperti jogging atau mengunjungi kawasan car free day. Meski siswa tinggal di asrama, SRMA 24 Kediri tetap memberi ruang bagi siswa untuk menjaga kedekatan dengan keluarga.
Para siswa diberi jatah libur pada waktu-waktu tertentu, seperti libur semester dan hari besar nasional. Selain itu, setiap hari Minggu, pihak sekolah menjadwalkan kunjungan wali murid secara bergantian agar interaksi tetap terjaga tanpa mengganggu aktivitas belajar siswa.
Perasaan Siswa dan Orang Tua
Salah satu siswa, Refi Aprillian Wiratama (16), mengaku awalnya ragu untuk bersekolah di Sekolah Rakyat. Ia bingung memikirkan biaya pendidikan dan harus berpisah dengan orang tua. Namun, setelah berada di SRMA 24 Kediri, ia merasa belajar memanfaatkan waktu dan menjadi lebih disiplin.
Refi juga memiliki mimpi besar setelah lulus dari SRMA 24 Kediri. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan menjadi seorang guru. “Saya ingin mengangkat derajat orang tua dan membahagiakan mereka,” ujarnya.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh para wali siswa, seperti Paidi, warga Dusun Senowo Desa Kencong Kecamatan Kepung. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya Sekolah Rakyat. Dengan adanya SRMA 24 Kediri, anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan meskipun kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.
Kesimpulan
SRMA 24 Kediri menjadi contoh nyata dari upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dengan sistem berasrama yang baik, fasilitas lengkap, serta kegiatan ekstrakurikuler yang beragam, sekolah ini tidak hanya memberikan pendidikan, tetapi juga membentuk karakter dan membangkitkan harapan bagi masa depan siswa.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











