My WordPress Blog

Belajar dari Aurelie Moeremans, Waspadai Perundungan di Media Sosial

Pengalaman Aurelie Moeremans Saat Mengalami Grooming

Aktris sekaligus penyanyi Aurelie Moeremans berbagi pengalamannya menjadi korban grooming ketika ia berusia 15 tahun. Ia menceritakan kisah ini dalam bukunya yang berjudul Broken Wings. Menurutnya, proses grooming dimulai saat ia bertemu dengan seorang pria bernama Bobby (bukan nama asli), yang pada waktu itu sudah berusia 29 tahun.

Grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan dan kepercayaan dengan anak. Dalam kasus Aurelie, Bobby mulai mengontrol segala hal dalam hidupnya. Proses ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga bisa terjadi di dunia maya, terutama melalui media sosial.

Apa Itu Grooming?

Grooming, atau sering disebut child grooming, merupakan tindakan yang dilakukan oleh pelaku untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak. Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk memperoleh kepercayaan dari anak agar bisa melakukan tindakan negatif.

“Intinya ada intensi buruk, seperti memanipulasi atau melakukan kekerasan seksual,” ujarnya. Istilah child grooming sering dikaitkan dengan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Cara Pelaku Mendekati Anak Melalui Media Sosial

Di dunia maya, grooming sering terjadi melalui aplikasi media sosial. Pelaku akan mendekati korban dengan menunjukkan perhatian melalui pesan-pesan pribadi yang tampak tidak berbahaya. Lambat laun, hubungan dibangun hingga anak memercayai pelaku.

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku akan mulai membuat permintaan-permintaan yang melibatkan eksploitasi, seperti meminta foto atau informasi pribadi. Anak yang sudah merasa percaya dan disayang karena telah dimanipulasi, akan memenuhi permintaan pelaku, seolah itu adalah kemauannya sendiri.

“Kadang-kadang ini jadi perdebatan ‘oh dia aja mau’ gitu. Nah ‘mau’ itu mungkin karena manipulasi,” jelas Farraas.

Mengapa Anak Bisa Jadi Korban Grooming di Dunia Maya?

Online grooming bisa terjadi karena banyak anak merasa tidak nyaman atau kurang diterima di dunia nyata. Mereka menggunakan media sosial sebagai pelarian. Di sana, mereka bisa menciptakan identitas yang berbeda, atau bahkan berpura-pura menjadi orang lain.

Farraas menjelaskan, ada anak yang sengaja memakai pakaian yang lebih dewasa demi mendapat pujian atau perhatian. Kondisi ini menciptakan peluang bagi pelaku untuk masuk, dengan memberikan validasi yang dicari oleh anak.

Tanda Anak Menjadi Korban Grooming di Dunia Maya

Menurut situs web Layanan Polisi Irlandia Utara, ada beberapa tanda bahwa anak mungkin sedang menjadi korban grooming di dunia maya. Pertama adalah perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti menghabiskan lebih banyak atau lebih sedikit waktu daring. Lalu, anak mungkin menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, atau menghilang dari rumah atau sekolah.

Selanjutnya, anak bersikap tertutup tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu, termasuk saat menggunakan gawai. Mereka juga bisa menerima hadiah yang asal-usulnya tidak dapat dijelaskan, menyalahgunakan alkohol dan/atau narkoba, serta memiliki persahabatan atau hubungan dengan orang yang jauh lebih tua.

Anak juga bisa menggunakan bahasa seksual yang tidak kamu duga, serta terlihat kesal, khawatir, sedih, menarik diri, marah, stres, cemas, atau depresi.

Mengizinkan Anak Menggunakan Media Sosial

Anak rentan menjadi korban grooming di dunia maya karena orangtua mengizinkan mereka untuk mengaksesnya. “Jadi jangan kayak udah semua anak udah punya TikTok, biarin aja lah punya TikTok. Nah, itu harus dijagain juga,” tegas Farraas.

Jika anak menggunakan gawai, ayah dan ibu sebaiknya tetap mengawasi penggunaannya. Aturan yang jelas juga harus ditetapkan. Misalnya, gawai yang diberikan adalah gawai orangtua yang dipinjamkan, dengan kesepakatan bahwa penggunaannya hanya untuk kebutuhan tertentu, seperti komunikasi terkait sekolah.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *