Kasus Kematian Mahasiswi Unima di Tomohon: Pengakuan Trauma dan Pemeriksaan Terhadap Dosen
Kota Tomohon, yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara, dikenal sebagai kota dengan udara sejuk dan lingkungan alam yang indah. Namun, kota ini kini tengah dihebohkan oleh kasus kematian mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima) yang ditemukan meninggal secara tidak wajar di kamar indekosnya pada 30 Desember 2025. Korban bernama Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi berusia 21 tahun.
Sebelum meninggal, Evia sempat bertemu dengan dosen Danny A Masinambow di dalam mobil kampus. Pertemuan tersebut terjadi di halaman parkir kampus. Sebelum masuk ke dalam mobil, Evia masih sempat mengirimkan live location ke grup WhatsApp yang berisi teman-temannya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memperhatikan keselamatannya.
Evia juga menulis surat mengaku dipaksa memijat dan dicium oleh dosen tersebut, hingga mengalami trauma. Dalam suratnya, ia menceritakan bahwa Danny mengajaknya untuk urut atau pijat. Ia menjawab bahwa dirinya tidak tahu cara melakukan itu. Namun, Danny mengatakan bahwa dirinya sangat lelah, sehingga membuat Evia merasa tidak nyaman.
Sebelum pertemuan tersebut, dua teman Evia sudah melarangnya untuk menemui Danny. Namun, karena Danny mengalihkan pembicaraan tentang nilai yang sebenarnya sudah selesai, Evia memutuskan untuk pergi ke tempat Danny di depan parkir mobil kampus.
Pada pukul 14.20, Evia mengirimkan live location ke grup WA temannya. Sesampainya di lokasi, ia langsung disuruh masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Danny menurunkan posisi tempat duduk menjadi berbaring dan mulai memaksa Evia untuk memijat tubuhnya. Bahkan, Danny mencium pipinya. Evia mencoba menutup mulutnya dengan tangan kiri dan mendorong Danny dengan tangan kanannya.
Sayangnya, bukti chat antara Evia dan Danny pada tanggal tersebut sudah hilang karena batas waktu penghapusan pesan. Akibat dari tindakan Danny, Evia mengalami trauma mendalam. Ia merasa takut jika bertemu dengan Danny dan malu jika ada mahasiswa yang melihatnya naik ke mobilnya, yang bisa menjadi bahan pembicaraan.
Pemeriksaan Terhadap Dosen dan Penolakan Autopsi Awal
Kepala Humas Unima, Titof Tulaka, mengatakan bahwa Danny telah diperiksa baik oleh kampus maupun kepolisian. “Sudah diperiksa. Oknum tersebut langsung menuju ke polisi untuk pemeriksaan,” katanya.
Namun, Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan, mengatakan bahwa justru tidak memeriksa dosen Danny. “Laporan tidak masuk ke kami. Dia diperiksa ke Polda Sulut,” katanya.
Awalnya, Evia diduga mengalami depresi dan mengakhiri hidupnya. Hasil pemeriksaan sementara tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuhnya. Namun, keluarga menolak otopsi karena merasa tidak yakin. Setelah menemukan luka lebam di bagian kakinya, keluarga akhirnya sepakat untuk melakukan otopsi.
Selain itu, ditemukan pula surat tulisan tangan Evia yang mengungkapkan pengalamannya. Surat ini menjadi bukti penting dalam penyelidikan kasus ini.
Proses Penyelidikan dan Harapan Masyarakat
Kasus ini masih dalam penyelidikan. Polisi dan kampus terus memeriksa dosen Danny untuk mengetahui lebih lanjut tentang kejadian yang menimpa Evia. Keluarga korban berharap keadilan dapat ditegakkan dan kasus ini dapat segera terselesaikan.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











