Komunitas Rangkul Baca: Membangun Budaya Literasi dengan Kegiatan Membaca di Taman
Komunitas Rangkul Baca Sakura, yang dibentuk oleh Laeli Agustia dan Zarah Fajar Ramadhani, bertujuan untuk memperkenalkan dan mendekatkan anak-anak dengan buku bacaan. Tujuan utama dari komunitas ini adalah memberikan akses bagi anak-anak agar memiliki minat dalam membaca serta terlibat dalam budaya literasi.
Nama “Sakura” diambil dari taman tempat kegiatan dilaksanakan, yaitu RTH Sakura (taman Masjid Agung Banjarbaru). Zarah menjelaskan bahwa awal mula komunitas ini berdiri bermula dari pertemuan tak sengaja antara dirinya dan Laeli di perpustakaan anak Kota Banjarbaru pada 22 Juli 2024. Saat itu, mereka tidak saling kenal, tetapi sama-sama mendampingi anak bermain dan membaca di perpustakaan.
Setelah berkenalan, mereka mengobrol tentang tumbuh kembang anak dan saling bertukar kontak. Obrolan tersebut kemudian berlanjut melalui chat dan akhirnya sepakat membuat kegiatan membaca untuk anak-anak di taman. Mereka memilih taman Sakura karena lokasinya dekat dan ramai dengan pengunjung, sehingga mudah menjangkau anak-anak dan orang tua.
Kegiatan diadakan di taman dengan tujuan memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan di ruang terbuka dan menciptakan lingkungan literasi yang inklusif. Buku-buku anak yang dimiliki digelar dalam bentuk lapak baca untuk menarik perhatian masyarakat. Anak-anak yang ada di taman kemudian diajak untuk membaca dan mendengarkan cerita.
Kegiatan pertama dilaksanakan pada 10 Agustus 2024 dengan berbagai aktivitas seperti eksplor buku, ice breaking, read aloud, dan games edukatif. Komunitas ini juga memiliki kegiatan rutin pekanan yang diberi nama Pekan Rangkul, yang diadakan setiap hari Sabtu pukul 08.00 Wita.
Berbagai Aktivitas dalam Kegiatan Rangkul Baca
Pada sesi eksplor buku, anak-anak bebas memilih dan membaca buku yang mereka sukai secara mandiri atau bersama orang tua. Eksplor buku menjadi momen penting untuk meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.
Ice breaking dilakukan sebagai penyemangat anak untuk berkegiatan dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Read aloud menjadi inti dari kegiatan ini, di mana pembaca membacakan buku dengan suara keras kepada anak-anak. Namun, read aloud bukan hanya sekadar membacakan nyaring, melainkan interaksi dua arah antara pembaca dan pendengar.
Anak aktif menjawab pertanyaan, menebak jalan cerita, atau memberi pendapat mereka. Di akhir cerita, ada sesi tanya jawab untuk meningkatkan pemahaman anak terhadap isi cerita. Dengan read aloud, minat baca anak meningkat, kosakata baru mereka bertambah, fokus dan kemampuan mendengarkan serta memahami cerita dilatih, kepercayaan diri anak meningkat, serta kemampuan interaksi sosial mereka juga meningkat.
Read aloud juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai moral dan empati, meningkatkan imajinasi, serta daya berpikir kritis anak. Zarah menjelaskan bahwa kegiatan tambahan seperti pelatihan belum pernah dilakukan secara mandiri, karena hanya ada satu pengurus dan didampingi relawan Kak Nursiyam.
Kolaborasi dan Dukungan dari Berbagai Pihak
Meski begitu, Rangkul Baca telah melakukan beberapa kolaborasi. Salah satunya bersama Gramedia dan Forum TBM Banjarbaru dalam kegiatan Penjelajah Cilik dalam rangka merayakan World Read Aloud Day 2025. Mereka juga bekerja sama dengan Gramedia Q Mall dan Forum TBM Banjarbaru dalam kegiatan NgabubuRead Learn and Play di bulan Ramadhan lalu, yang diikuti oleh 50 anak.
Selain itu, Rangkul Baca juga berkolaborasi dengan TBM Suluh Literasi, TBM As Salam, Rumah Bermain Yucima, TBM Pepingasih Literasi, Relima (Relawan Literasi Masyarakat) Kota Banjarbaru, serta IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia) Banjarbaru. Melalui kolaborasi ini, Rangkul Baca berkesempatan mengisi pelatihan bersama TBM As Salam.
Dari kolaborasi yang ada, Rangkul Baca mendapatkan manfaat seperti bergabung dalam tim kolaborasi Nyalabanua. Program yang disusun dalam tim kolaborasi ini mendapatkan apresiasi sebagai Pegiat Literasi Kategori Kolaborator Inspiratif dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru.











