Penyelidikan Kasus Kematian Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Pihak TNI AD telah mengambil langkah tegas terhadap oknum Kopral TNI yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Saat ini, pelaku telah ditahan di POM Timika untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Penyelidikan kasus kematian Pratu Farkhan dilakukan secara profesional dan akan diusut tuntas sesuai arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Ia dikenal sebagai prajurit yang tangguh dan berdedikasi. Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, menyatakan bahwa Pratu Farkhan memiliki motivasi tinggi dan menjadi contoh bagi rekan-rekannya. Ia juga disebut sebagai sosok yang fleksibel, mudah bergaul, serta tegas dalam menjalankan tugas.
Kasus kematian Pratu Farkhan terjadi saat ia sedang menjalankan tugas pengamanan di perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Menurut laporan awal, Pratu Farkhan diduga mengalami penganiayaan oleh senior berpangkat Kopral TNI. Penyelidikan masih berlangsung, dan kemungkinan ada pelaku lain yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Peran dan Tanggung Jawab TNI
Komandan Brigif 25/Siwah Aceh menegaskan bahwa pihaknya tidak menampik adanya dugaan penganiayaan yang dialami Pratu Farkhan. Ia menyatakan bahwa kasus ini sedang diusut oleh satuan TNI Angkatan Darat dengan instruksi langsung dari Panglima TNI, Agus Subianto. Proses penyelidikan dilakukan secara profesional dan seluruhnya dikawal oleh presiden.
Pihak TNI juga menyatakan bahwa mereka adalah orang tua, mentor, pelatih, abang, saudara, dan sahabat dari Pratu Farkhan. Mereka merasa kehilangan dan memohon kepada masyarakat untuk tetap percaya pada proses hukum yang sedang berlangsung. Meskipun terduga pelaku sudah diamankan, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan apakah ada pelaku lain yang terlibat.
Kekhawatiran Keluarga dan Masyarakat
Kepergian Pratu Farkhan yang gugur saat bertugas di Papua menyisakan rasa kecewa dan keresahan bagi keluarga dan masyarakat Asahan. S. Marpaung, pengurus Persaudaraan Marga Marpaung Kabupaten Asahan, menyampaikan rasa salut atas ketegaran orang tua korban. Namun, ia juga melontarkan tuntutan tegas kepada pimpinan tertinggi TNI agar mengusut tuntas penyebab kematian Pratu Farkhan.
Dugaan kuat muncul bahwa penganiayaan dilakukan oleh oknum senior di balik peristiwa ini. S. Marpaung menegaskan bahwa keluarga besar Marpaung tidak ingin lagi ada adik-adik mereka yang meninggal sia-sia.
Permintaan Pemecatan Oknum Senior
Keluarga besar berharap pada empati Jenderal Maruli Simanjuntak yang dikenal dekat dengan masyarakat Asahan. Mereka meminta jika nantinya terbukti ada unsur penganiayaan oleh oknum senior, maka sanksi pemecatan adalah harga mati. Mereka juga berharap Jenderal Maruli bisa mengusut tuntas kasus adik mereka ini.
Hingga saat ini, prosesi persemayaman masih berlangsung di rumah duka dengan penjagaan militer, sementara pihak keluarga masih menanti kejelasan resmi terkait penyebab pasti gugurnya Pratu Farkhan.
Rencana Pernikahan yang Tak Terwujud
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh oknum seniornya saat bertugas di pengamanan perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Menurut informasi dari orang tua Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung, anaknya telah berjanji kepada seorang wanita pujaan hatinya akan menikahinya seusai pulang dari pamtas IND-PNG.
Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, menangis histeris saat menceritakan tentang sang anak. Ia mengatakan bahwa anaknya sempat menelpon dan mengatakan bahwa dirinya sakit, namun tetap baik-baik saja di sana. Namun, ternyata Pratu Farkhan justru dipukul dan dianiaya oleh Kopral TNI tersebut.
Kronologi Dugaan Penganiayaan
Kabar duka itu pertama kali diterima Zakaria dari sepupu korban. Ia diberi tahu bahwa anaknya sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian. Seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi Pratu Farkhan. Namun, situasi berubah ketika datang senior lain berpangkat kopral yang kemudian diduga melakukan kekerasan.
Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat. Setelah tunduk taubat, dia ditendang dan melawan. Zakaria bangga dengan keberanian anaknya, meski akhirnya meninggal dalam kejadian tersebut.
Kesedihan yang Mendalam
Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, pecah saat menceritakan tentang sang anak. Ia tampak tak kuasa menahan duka, tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan. Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.
Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga di tangan seniornya sendiri. Ia merasa kecewa karena sesama prajurit TNI seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua.











