My WordPress Blog

Di Balik Kata Maaf, Dosen Amal Said Sebut Kasir yang Dia Ludahi Lakukan Kesalahan yang Memicu Emosi

Kehilangan Status PNS, Amal Said Merasa Hidup dalam Ketakutan

Insiden meludahi seorang kasir perempuan di sebuah swalayan di Makassar kini menjelma menjadi mimpi buruk bagi Amal Said. Sosok yang dikenal sebagai dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) itu mengaku hidup dalam ketakutan sejak peristiwa tersebut mencuat ke ruang publik.

Bukan hanya proses hukum yang menghantuinya, tetapi juga ancaman terhadap karier panjang yang telah ia bangun selama puluhan tahun sebagai aparatur sipil negara (ASN). Amal menyebut, satu tindakan emosional yang terjadi dalam hitungan detik telah mengguncang seluruh fondasi reputasi dan kehormatan dirinya.

Nama Baik di Ujung Tanduk, Karier Terancam

Amal Said secara terbuka mengakui bahwa insiden tersebut membawa dampak serius bagi kehidupan pribadinya maupun profesionalnya. Ia merasa nama baik yang selama ini dijaga dengan susah payah kini runtuh seketika. Menurutnya, perjalanan panjang sebagai pendidik seolah tak lagi berarti ketika satu kesalahan kecil menjadi sorotan publik.

“Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya ini. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya, tidak sebanding,” kata Amal.

Ucapan itu mencerminkan kegelisahan mendalam seorang dosen yang merasa seluruh pengabdian hidupnya terancam lenyap akibat satu tindakan tak terkontrol.

Takut Dipecat, Masa Depan Jadi Tanda Tanya

Di balik sorotan publik dan proses hukum yang masih berjalan, Amal tak menampik kekhawatirannya akan masa depan. Statusnya sebagai dosen PNS kini berada di persimpangan jalan, dengan ancaman sanksi yang bisa berujung pada pemecatan.

Dalam kondisi tertekan tersebut, Amal berharap perkara ini tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan melalui jalur kekeluargaan. Ia ingin konflik yang telah mencederai banyak pihak ini segera berakhir tanpa meninggalkan luka berkepanjangan.

Harapan Damai dan Pengakuan Kekhilafan

Amal juga menyampaikan harapannya agar kasir perempuan berinisial N (21) bersedia mengakui adanya kekhilafan. Menurutnya, pengakuan dari kedua belah pihak dapat membuka ruang saling memahami sebagai sesama manusia.

“Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan, kita kan manusia bisa saling khilaf dalam kondisi tertentu. Saya tidak mau kasi panjang masalah, kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” ujar Amal.

Pernyataan ini disampaikannya di tengah tekanan moral dan sosial yang terus ia rasakan sejak insiden tersebut viral.

Bantahan Serobot Antrean di Kasir

Menanggapi tudingan yang berkembang, Amal dengan tegas membantah bahwa dirinya menyerobot antrean saat kejadian berlangsung. Ia menuturkan bahwa kedatangannya ke swalayan tersebut semata untuk membeli camilan.

“Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucapnya.

Menurut Amal, ia justru berusaha bersikap efisien dan tidak merugikan pelanggan lain yang berada di belakangnya.

Pindah Kasir demi Efisiensi, Bukan Kesengajaan

Amal menjelaskan bahwa saat sedang mengantre, ia melihat salah satu kasir dalam kondisi kosong. Dengan niat mempercepat proses dan mempertimbangkan antrean di belakangnya, ia memutuskan berpindah.

“Saya liat ada kasir yang sudah kosong antreannya, jadi maksud saya supaya lebih ringkas apalagi masih ada orang dibelakang saya, akhirnya saya kesebelah ke kasir yang sudah kosong antreannya,” jelas Amal.

Namun, niat yang menurutnya baik tersebut justru berujung pada teguran yang kemudian memicu konflik.

Merasa Dihina dan Direndahkan sebagai Orang Tua

Situasi mulai memanas ketika Amal merasa ditegur dengan cara yang tidak menghormati posisinya sebagai orang yang lebih tua. Ia mengaku perasaannya tersinggung, bahkan merasa martabatnya dilecehkan.

Latar belakang budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi nilai penghormatan kepada orang yang lebih tua semakin memperdalam rasa tersinggung tersebut.

“Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu. Kalau orang Bugis-Makassar diperbuat begitu kayak seperti tidak hargai, dihinakan, begitu saya rasakan saat itu,” ujarnya.

Perasaan itulah yang kemudian memicu reaksi spontan yang kini ia sesali.

Pengakuan Salah dan Permintaan Maaf Terbuka

Amal Said tak menampik bahwa tindakannya meludahi kasir adalah perbuatan yang tidak pantas. Ia mengakui reaksinya muncul akibat emosi sesaat yang tak terkendali. Secara terbuka, ia telah menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang terjadi di swalayan Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Kamis (25/12/2025).

Amal juga menyadari bahwa perbuatannya telah mencoreng citra seorang pendidik yang seharusnya menjadi panutan.

“Saya salah. Itu perbuatan spontan karena emosi,” tutup Amal dengan nada penyesalan.

Kampus Ambil Sikap Tegas

Terlepas dari upaya damai, Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali mengambil langkah tegas. Melalui sidang Komisi Disiplin dan Etik pada 29 Desember 2025, kampus resmi memberhentikan Amal Said dari tugas mengajar.

Rektor UIM, Prof Muammar Bakry, menegaskan bahwa tindakan tersebut melanggar kode etik dosen dan nilai-nilai akhlak kampus.

“Sebagai kampus yang menjunjung nilai agama rahmatan lil alamin, kemanusiaan, dan kearifan lokal, tindakan itu tidak dapat ditoleransi,” tegasnya.

Amal Said diketahui merupakan dosen ASN di bawah LLDIKTI Wilayah IX. Setelah diberhentikan dari UIM, statusnya dikembalikan ke LLDIKTI untuk pemeriksaan etik lanjutan.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan verbal dan simbolik bisa meninggalkan luka yang dalam, terutama bagi pekerja muda yang berada di posisi rentan.

Publik kini menaruh harapan agar:

  • Korban mendapat perlindungan dan pemulihan penuh
  • Proses hukum berjalan adil
  • Etika publik ditegakkan tanpa pandang jabatan

Karena satu tindakan tak manusiawi, konsekuensinya bisa menghancurkan segalanya.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *