Perjalanan Prof. Premana Wardayanti Premadi: Dari Bumi ke Langit
Nama Prof. Premana Wardayanti Premadi kini abadi di angkasa sebagai nama sebuah asteroid. Nama tersebut menjadi penghormatan atas kontribusinya dalam bidang astronomi dan kosmologi. Ia adalah sosok yang menggeluti ilmu tentang benda-benda langit, sekaligus membangun jembatan antara manusia dengan semesta.
Awal Kehidupan dan Karier
Premana lahir di Surabaya pada 13 Juli 1964. Sejak dulu, ia menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu sains, khususnya astronomi. Di tengah lingkungan yang jarang memiliki perempuan yang memilih bidang ini, Premana berhasil meraih gelar Sarjana Sains Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1988. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di University of Texas at Austin, tempat ia mendalami riset evolusi struktur skala besar alam semesta menggunakan teknik lensa gravitasi.
Pada 1996, Premana meraih gelar doktor astrofisika, menjadikannya sebagai perempuan pertama di Indonesia yang menyandang gelar tersebut. Penelitiannya pada 1990-an menjadi salah satu pionir dalam pengembangan uji model kosmologi teoritis melalui simulasi komputasional.
Kontribusi dalam Bidang Astronomi
Pada 2018–2023, Prof. Premana memimpin Observatorium Bosscha—perempuan pertama yang memegang jabatan tersebut. Ia menekankan bahwa Bosscha bukan hanya pusat riset, tetapi juga simbol keinginan manusia untuk menjawab pertanyaan sains melalui teknologi terbaik.
Di tahun 2024, ia menyampaikan orasi guru besar astrofisika dan kosmologi, memperkuat posisi strategisnya dalam perkembangan ilmu semesta di Indonesia.
Penghargaan dan Pengakuan Internasional
Pada 2017, namanya diabadikan sebagai nama asteroid 12937 Premadi oleh International Astronomical Union (IAU). Hal ini sebagai penghormatan atas kontribusinya di bidang astronomi, khususnya di Observatorium Bosscha dan perkembangan astronomi di Indonesia.
Pada 2023, ia dianugerahi gelar Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society, Kerajaan Inggris—sebuah pengakuan bergengsi bagi ilmuwan yang karyanya berpengaruh secara internasional.
Membangun Pendidikan Sains untuk Generasi Muda
Premana tidak hanya fokus pada penelitian, tetapi juga pada pendidikan. Ia mendirikan Universe Awareness for Children (UNAWE), gerakan global yang memperkenalkan astronomi kepada anak-anak, terutama mereka yang tinggal di wilayah tertinggal.
Ia percaya bahwa astronomi adalah sains yang mudah mendapat perhatian dibanding ilmu sains lain. Dengan demikian, anak-anak mudah terpikat dan tertarik untuk belajar.
Selain itu, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ITB, dan pemerintah daerah setempat, Premana merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar kawasan Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur. Program ini mencakup penyediaan listrik energi berkelanjutan, akses air bersih, hingga pendirian Science Center untuk pendidikan STEM.
Kontribusi dalam Riset Global
Riset Premana tentang simulasi distribusi supernova melalui lensa gravitasi dirujuk untuk pengembangan rancangan program Legacy Survey of Space and Time (LSST) yang mulai beroperasi pada 2025, serta untuk desain misi Nancy Grace Roman Space Telescope yang dijadwalkan meluncur pada 2027.
Kontribusinya menjadi penghubung antara teori kosmologi dan sistem pengamatan modern. Selain itu, penjelasannya dalam kuliah terkait gravity assist—manuver “slingshot” untuk mempercepat wahana antariksa tanpa bahan bakar berlebih—menunjukkan bagaimana mekanika langit yang rumit dapat diterjemahkan menjadi teknologi nyata.
Topik Lain yang Dibahas
Premana juga membahas topik space weather, aktivitas matahari, serta pengamatan bumi dari orbit yang semakin penting dalam menghadapi perubahan iklim. Ia menampilkan citra satelit yang memperlihatkan dampak aktivitas manusia terhadap perubahan lanskap Bumi, termasuk berkurangnya salju di puncak gunung-gunung tropis.
Ia juga memaparkan pentingnya lensa gravitasi untuk mendeteksi materi gelap serta pemanfaatan teori relativitas dalam teknologi sehari-hari, terutama pada sistem navigasi GPS.
“Jika koreksi waktu tidak dilakukan. Kesalahan posisi dapat mencapai 10 kilometer per hari,” katanya.











