—
RSCM bekerja sama dengan Nestle Indonesia menyelenggarakan seminar nasional bertema “Dari Awal yang Rentan ke Masa Depan yang Kuat: Memajukan Nutrisi untuk Bayi Prematur” dalam rangka memperingati Hari Prematur Sedunia pada Rabu (17/12/2025).
Dengan mengusung filosofi “Force for Good”, Nestle menegaskan komitmennya mendukung kesehatan sejak awal kehidupan melalui edukasi berkelanjutan dan kolaborasi dengan rumah sakit, termasuk unit perawatan intensif neonatal (NICU) di berbagai daerah.
Seminar yang diselenggarakan secara hybrid ini diikuti sekitar 2.000 tenaga kesehatan lintas profesi, seperti dokter anak, perawat, hingga ahli gizi, dari lebih dari 200 rumah sakit di berbagai wilayah, seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Aceh, dan Papua. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam merawat bayi prematur, terutama dari aspek perawatan medis dan pemenuhan gizi sejak awal kehidupan.
Secara global, kelahiran prematur masih menjadi penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa setiap tahun, sekitar 15 juta bayi lahir prematur di dunia dan lebih dari satu juta di antaranya meninggal akibat komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah. Di Indonesia, angka kelahiran prematur mencapai estimasi 675.700 bayi setiap tahun, menempatkan negara ini di peringkat kelima tertinggi secara global.
Profil Kesehatan Indonesia 2024 mencatat sekitar 26,4 persen kematian bayi terjadi pada masa neonatal (0–28 hari) dan 22,5 persen pada masa post-neonatal (29 hari–11 bulan). Prematuritas dan bayi berat lahir rendah (BBLR) menjadi penyebab utama tingginya angka kematian tersebut. Angka ini menunjukkan urgensi penguatan layanan neonatal dan peran tenaga kesehatan dalam memberikan awal kehidupan terbaik bagi bayi yang lahir sebelum waktunya.
Penguatan Peran Tenaga Kesehatan dan Gizi Sejak Dini
Direktur Utama RSCM dr Supriyanto, SpB, FINACS, MKes, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat layanan bagi bayi prematur di Indonesia. “Peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan, edukasi yang lebih luas, serta dukungan nyata, seperti program Little Bundle of Hope yang dihadirkan Nestle, dapat membantu memastikan bayi prematur memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya dalam siaran pers.
Kolaborasi ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga kehidupan sejak detik pertama adalah wujud kepedulian kita terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar neonatologi dan tumbuh kembang anak, salah satunya adalah Prof Dr dr Rinawati Rohsiswatmo, SpA, SubspNeo. Ia menekankan bahwa perawatan bayi prematur tidak hanya berfokus pada kelangsungan hidup, tetapi juga kualitas tumbuh kembang jangka panjang.
Menurutnya, asupan gizi yang tepat sejak hari pertama kehidupan menjadi faktor penentu. Adapun air susu ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi utama bagi bayi prematur dan dapat ditambahkan pelengkap gizi ASI (human milk fortifier) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Jika ASI tidak tersedia, pilihan seperti ASI donor atau pangan olahan untuk keperluan medis khusus dapat dipertimbangkan dengan dasar uji klinis dan publikasi ilmiah.
Pendekatan Holistik dalam Perawatan Bayi Prematur
Peringatan Hari Prematur Sedunia 2025 juga menyoroti pendekatan holistik dalam perawatan bayi prematur dan BBLR, termasuk peran keluarga. Hal ini disampaikan oleh dr Bernie Endyarni Medise, SpA(K). “Selain aspek medis, dukungan emosional keluarga, stimulasi, dan edukasi berkelanjutan kepada orangtua dinilai krusial agar tumbuh kembang anak berjalan optimal,” ucap dr Bernie.
Dalam sesi berbagi inspirasi, Arumi Bachsin turut menceritakan pengalamannya mendampingi anak yang lahir prematur. Ia menggambarkan perjuangan memberikan ASI eksklusif, tantangan menyusui, dan pentingnya dukungan tenaga kesehatan dalam melewati masa-masa penuh kecemasan tersebut. Menurutnya, menjadi ibu dari bayi prematur adalah perjalanan yang penuh tantangan dan emosi. Setiap detik terasa berharga, tetapi juga dipenuhi kekhawatiran. Oleh sebab itu, memberikan ASI eksklusif menjadi prioritas utama, meski tidak selalu mudah.
“Bayi prematur sering kali mengalami kesulitan menyusu sehingga saya harus memompa ASI dan memberikannya sedikit demi sedikit. Setiap tetes terasa seperti harapan baru bagi masa depan yang lebih baik,” tutur Arumi. Ia menambahkan, dukungan dari dokter dan tenaga kesehatan menjadi kekuatan penting selama proses tersebut. Di balik rasa cemas dan lelah, terdapat momen-momen kecil yang begitu berharga, mulai dari senyuman pertama, berat badan yang bertambah, hingga tatapan mata yang penuh kasih.
Program Little Bundle of Hope
Sebagai bagian dari peringatan Hari Prematur Sedunia 2025, sebanyak 200 rumah sakit menerima paket Little Bundle of Hope yang berisi baju kanguru dan Booklet Grafik Fenton guna mendukung penerapan metode Kangaroo Care. Metode tersebut dikenal efektif menjaga kehangatan, meningkatkan ikatan ibu dan bayi, serta mendukung stabilitas kondisi bayi prematur.
Melalui rangkaian kegiatan itu, Nestle Indonesia menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan serta mendukung upaya pemerintah menurunkan angka kematian bayi. Sejalan dengan tema global “Your Commitment, Their Hope”, kolaborasi lintas sektor itu diharapkan dapat menghadirkan harapan baru bagi masa depan bayi-bayi prematur Indonesia.











