Mencari Pekerjaan di Indonesia: Tantangan yang Menguras Energi dan Mental
Mencari pekerjaan sekarang ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Prosesnya sangat sulit, melelahkan, dan seringkali membuat seseorang putus asa. Setelah lulus dari sekolah atau kuliah, harapan untuk langsung mendapatkan pekerjaan yang layak sering kali jauh dari kenyataan. Sebagai seorang fresh graduate, saya sendiri mengalami betapa beratnya proses mencari kerja di Indonesia.
Mulai dari membuat CV hingga menelusuri lowongan pekerjaan, semuanya dilakukan dengan penuh usaha. Namun, setelah melamar ke banyak perusahaan, hasilnya masih nihil. Dari semangat 45, perlahan mulai merasa loyo dan kehilangan motivasi. Pertanyaan pun muncul: Apa yang dicari oleh perusahaan dari seorang kandidat?
Proses melamar kerja tidak hanya memakan waktu, tetapi juga menguras mental dan energi. Terlebih jika ada lowongan yang memiliki kriteria tidak masuk akal. Misalnya, mereka meminta pengalaman kerja 1–2 tahun, tetapi tetap membuka peluang bagi fresh graduate. Bahkan, beberapa posisi menyatukan tiga jobdesc dalam satu jabatan. Hal ini membuat kita bertanya-tanya apakah perusahaan benar-benar memahami kebutuhan mereka.
Dari rasa keresahan ini, saya akhirnya berdiskusi dengan beberapa teman. Ternyata, mereka juga sedang menghadapi tantangan serupa, meski dengan cerita dan struggle yang berbeda. Fitri, misalnya, lulus pada tahun 2023, tetapi memilih fokus pada persiapan CPNS 2024. Sayangnya, usaha itu belum membuahkan hasil. Dari situ, ia mulai mencari pekerjaan secara aktif dan langsung menghadapi realita yang berat. Bahkan untuk posisi magang sekalipun, perusahaan menuntut pengalaman.
Job portal menjadi “teman akrab” bagi Fitri. Salah satu hal yang paling mengganggu selama proses pencarian kerja adalah diskriminasi umur. Ada perusahaan yang menganggap usia 25 tahun sudah terlalu tua untuk melamar. Menurut Fitri, banyak lowongan kerja di Indonesia memiliki tuntutan tinggi, tetapi gaji yang ditawarkan tidak sebanding, bahkan cenderung underpaid.
Juldan juga mengalami kesulitan saat melamar magang. Ia pernah melamar ke sebuah perusahaan dengan modal pengalaman freelance di bidang yang sama. Harapannya, pengalaman tersebut bisa menjadi nilai tambah. Namun, usaha itu belum membuahkan hasil. Penolakan demi penolakan membuat Juldan mempertanyakan sistem rekrutmen yang ada, terutama bagi fresh graduate yang berasal dari jalur nonformal seperti freelance.
Berbeda dengan Fitri dan Juldan yang melamar secara digital, Ipe menghadapi tantangan lain. Berdomisili di Madura, ia masih menghadapi sistem konvensional dalam proses melamar kerja, seperti menitipkan amplop cokelat berisi CV dan surat lamaran. Menurut Ipe, mencari kerja di daerahnya jauh dari kata mudah. Pengalaman kerja menjadi syarat utama. Selain itu, penampilan fisik seperti tinggi badan, berat badan, hingga wajah juga ikut dinilai. Diskriminasi umur masih sering terjadi.
Ipe sempat bekerja di sebuah warung makan dengan upah harian yang jauh dari kata layak. “Aku pernah kerja di warung makan, gajinya sekitar 15–30 ribu per hari,” katanya. Ia juga menjelaskan bahwa di daerahnya, gaji tertinggi sekitar Rp1,5 juta dengan jam kerja penuh, sementara ada pekerjaan lain yang hanya dibayar Rp700 ribu per bulan. Status pernikahan juga menjadi pertimbangan. Pencari kerja yang masih lajang lebih diutamakan, sementara dirinya yang sudah berkeluarga justru semakin sulit mendapat kesempatan.
Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman, satu benang merah terlihat jelas, yakni sistem rekrutmen kerja di Indonesia masih menyisakan banyak masalah. Mulai dari persyaratan yang tidak realistis, diskriminasi usia dan penampilan, jobdesc yang menumpuk tanpa kejelasan, hingga gaji yang tidak transparan. Hal-hal mendasar seperti BPJS, cuti, dan uang lembur masih disebut sebagai “benefit”, padahal itu adalah hak pekerja.
Proses rekrutmen yang bertele-tele, ketidakjelasan hasil seleksi, masa probation yang bisa diperpanjang sepihak, hingga sistem magang yang kerap dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah turut menambah panjang daftar persoalan.
Meski begitu, kami tetap menyimpan harapan. Kami berharap kondisi ekonomi membaik agar perusahaan bisa membuka lebih banyak lapangan kerja yang layak dan memberi kesempatan lebih besar bagi Gen Z. Kesempatan untuk dinilai dari skill dan kemauan belajar, bukan dari usia, penampilan, atau latar belakang kampus.
Untuk sesama Gen Z yang masih berjuang, jangan merasa sendirian dan jangan menyerah. Job market memang sedang ketat, bukan berarti kamu kurang usaha. Terus upgrade skill, jaga kesehatan mental, dan cari jalan yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing baik lewat pekerjaan, maupun mencoba peluang lain seperti berwirausaha.
Cari kerja memang melelahkan, tapi selama masih mau mencoba, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalannya. Katanya Gen-Z nggak suka baca, apalagi soal masalah yang rumit. Lewat artikel ini, coba bikin kamu paham dengan bahasa yang mudah.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











