My WordPress Blog

Dias Rizki, Anak Penjual Sate Jadi Wisudawan Terbaik Untidar Magelang

Kisah Dias Rizki, Wisudawan Terbaik dari Keluarga Sederhana

Dias Rizki (22) berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Universitas Tidar (Untidar) 2025 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87. Ia menjadi salah satu dari 425 wisudawan yang resmi menyandang gelar akademik dalam prosesi wisuda Periode ke-72 Tahun 2025 di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr HR Suparsono, Untidar.

Prosesi wisuda tersebut menampilkan ratusan mahasiswa dari berbagai program studi dan fakultas. Dias, lulusan tercepat dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Biologi, menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 9 bulan. Ia juga menjadi perwakilan wisudawan dalam penyampaian sambutan di acara tersebut.

Perjuangan Anak Penjual Sate

Dias lahir dari keluarga sederhana asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Ayahnya, Hanudin (43), bekerja sebagai penjual sate keliling dan tidak menamatkan pendidikan dasar. Sementara ibunya, Nani Pujiatun (40), lulusan SMP, bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan. Kehadiran ibunya di acara wisuda menjadi momen bersejarah bagi keluarga Dias.

Nani bahkan pulang ke Tanah Air khusus untuk menghadiri wisuda anak sulungnya. Momen tersebut membuat kedua orangtua Dias tak kuasa menahan haru. Hanudin dan Nani Pujiatun terus menyeka air mata saat menyaksikan Dias berdiri di mimbar menyampaikan sambutan mewakili ratusan wisudawan.

Keinginan untuk Berkuliah

Dias mengungkapkan bahwa keinginannya untuk berkuliah sempat terbentur keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, ibunya nekat berangkat bekerja ke Taiwan demi mewujudkan cita-citanya. “Sebetulnya ibu dulu punya keinginan supaya saya kuliah. Tapi, dengan keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga sebetulnya kurang memungkinan untuk bisa kuliah,” kata Dias.

“Akhirnya, ibu saya nekat untuk pergi ke Taiwan sebagai TKW sejak saya kelas 11. Kemudian, selama saya kuliah juga bapak maupun ibu mempersamai selalu mulai dari mendaftar hingga saat ini (wisuda),” tambahnya.

Beasiswa dan Kesempatan

Dias telah menyelesaikan sidang skripsi pada Selasa (27/5/2025). Ia sebenarnya berkesempatan mengikuti wisuda periode ke-70 dan ke-71, namun memilih menundanya karena mengikuti program beasiswa kewirausahaan. “Alhamdulillah dapat beasiswa kewirausahaan di Cimahi, tepatnya di Bandung. Jadi, saya menunda untuk wisuda periode tersebut. Dan baru bisa dilakukan di periode sekarang,” ujarnya.

Dias juga mengaku belum pernah menerima beasiswa KIP-Kuliah meski sempat mendaftar saat menjadi mahasiswa baru. “Namun belum lolos sehingga dari semester 1 sampai semester 8 tidak dapat beasiswa. Tapi, setelah sidang (skripsi) mendaftar beasiswa wirausaha dari PT Pegadaian bekerja sama dengan Young Entrepreneur Academy (YEA). Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa,” katanya.

Kehidupan di Sekolah Dasar

Selama menempuh pendidikan di Untidar, Dias tumbuh besar bersama kakeknya dan menjadi anggota keluarga pertama yang berhasil meraih gelar sarjana. Ia juga mengaku telah bekerja sebagai pengajar freelance di sejumlah bimbingan belajar sejak semester 3.

“Sebenarnya dari orangtua tidak ada kekurangan (uang saku), tapi saya mendapatkan uang lebih supaya bisa ditabung. Jadi, saya memutuskan untuk freelance. Seringnya ibu (kirim uang saku),” ujarnya.

Inspirasi dari Guru SMA

Terkait pilihan jurusan Pendidikan Biologi, Dias mengaku terinspirasi oleh guru semasa SMA yang membuatnya jatuh cinta pada bidang tersebut. “Ini berawal ketika saya kelas 10 (SMA). Di kelas 10 ada satu guru biologi yang sangat menginspirasi mulai dari cara mengajar, mengelola kelas, saya sangat tertarik. Namanya, Bu Kasmitem, beliau yang sangat menginspirasi saya dan mengidolakan serta suka belajar biologi,” ujarnya.

Dukungan dari Orang Tua

Ibu Dias, Nani Pujiatun, mengaku bersyukur atas pencapaian anaknya meski harus menjalani peran sebagai orangtua jarak jauh selama bertahun-tahun. “Nggak nyangka berhasil sampai saat ini. Jauh dari orangtua, mungkin saya bisa dikatakan jauh, nggak pernah dampingi Dias secara dekat begini. Hanya bisa lewat telepon, komunikasi lewat telepon. Alhamdulillah sukses buat anak saya bisa sampai saat ini,” kata Nani.

Ia mengungkapkan, keberangkatannya ke Taiwan didorong oleh keinginannya agar sang anak bisa meraih cita-cita yang tak sempat ia wujudkan. “Saya berangkat (Taiwan), dia kelas 1 atau kelas 10 SMA. Niatnya ya karena bapaknya Dias nggak sekolah, saya sendiri sekolah cuma sampai SMP. Cita-cita saya pengen jadi guru, ya saya mengusahakan biar anak saya jadi guru. Jangan seperti saya, cuma hanya cita-cita saja,” ujarnya.

Apresiasi dari Rektor

Rektor Untidar Prof Sugiyarto mengatakan, wisuda kali ini merupakan momentum untuk mengapresiasi dedikasi para lulusan. “Hari ini berkumpul bukan untuk selebrasi, tapi untuk merayakan dedikasi 425 wisudawan yang telah upgrade diri dari mahasiswa menjadi alumni kebanggaan,” kata Sugiyarto.

Ia menambahkan, wisuda tersebut merupakan yang keempat sepanjang tahun 2025, seiring proses peralihan sistem pelaksanaan wisuda di Untidar. “Wisuda kali ini yang keempat untuk tahun 2025. Jadi, Alhamdulillah untuk Untidar sudah 2025 sudah setahun empat kali wisuda. Namun, karena baru proses peralihan volumenya berbeda-beda. Mudah-mudahan tahun depan sudah mulai merata tiap periode,” lanjutnya.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *