My WordPress Blog

Ahli UGM: Kerusakan Hutan Pemicu Banjir di Sumatera Naik 80 Persen



Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera pada akhir November 2025 menjadi peringatan keras dari alam. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan hulu telah mencapai titik di mana daya dukung lingkungan tidak lagi mampu menahan tekanan eksternal. Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., menjelaskan bahwa cuaca ekstrem hanyalah pemicu utama bencana, sementara kerusakan lingkungan adalah akar masalah utama.

Bentang Alam yang Rentan dan Kerusakan Lingkungan

Sumatera memiliki bentang alam dengan iklim tropis basah yang secara alami rentan terhadap curah hujan tinggi. Namun, kerusakan lingkungan seperti pembukaan hutan di kawasan pegunungan dan penyempitan sungai memperparah risiko bencana. Menurut Hatma, wilayah tersebut kini berada dalam kondisi “bom waktu” yang bisa meledak kapan saja jika tidak segera diperbaiki.

Fungsi Hutan sebagai Spons Raksasa

Hutan di daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) disebut oleh Hatma sebagai “spons raksasa” yang berfungsi sebagai penyangga hidrologis. Vegetasi hutan yang rimbun mampu menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung mengalir ke sungai. Dalam penelitian yang dilakukan, hutan tropis yang utuh memiliki kemampuan luar biasa dalam mengendalikan siklus air:

  • Intersepsi: Kemampuan menahan air di tajuk pohon mencapai 15-35 persen dari total hujan.
  • Infiltrasi: Permukaan tanah hutan yang tidak terganggu mampu menyerap air ke dalam tanah hingga 55 persen dari hujan.
  • Limpasan Permukaan: Air yang langsung mengalir ke sungai hanya tersisa 10-20 persen.

Ketika hutan hulu rusak atau gundul, siklus hidrologi alami itu terganggu. Air hujan yang deras tidak lagi banyak terserap karena lapisan tanah kehilangan porositas akibat hilangnya jaringan akar. Akibatnya, mayoritas hujan menjadi limpasan permukaan yang langsung mengalir deras ke hilir, memicu erosi masif, longsoran, dan banjir bandang.

Ancaman Banjir Bandang dan Pendangkalan Sungai

Kerusakan hutan hulu juga menyebabkan material longsor seperti tanah, batu, dan batang pohon menimbun badan sungai, membentuk bendungan alami. Ketika bendungan alami ini jebol akibat volume air yang besar, terjadi banjir bandang. Selain itu, tanah yang tidak lagi dipertahankan akar sangat mudah tererosi.

Pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimen memperbesar risiko luapan banjir. Dengan kata lain, hutan hulu yang hilang berarti hilangnya sabuk pengaman alami bagi kawasan di bawahnya.

Solusi Harga Mati: Konservasi Sebagai Prioritas Utama

Untuk menghindari bencana serupa di masa depan, Hatma menegaskan bahwa upaya mitigasi bencana harus menyeimbangkan antara pendekatan struktural (infrastruktur teknis) dan pendekatan ekologis. Alam memiliki kapasitas daya dukung dan daya tampung yang terbatas untuk menahan gempuran cuaca ekstrem, dan kapasitas itu sangat bergantung pada kelestarian lingkungannya.

Solusi yang harus dianggap sebagai “harga mati” meliputi:

  • Prioritas Ekologis: Perlindungan hutan dan konservasi DAS harus menjadi prioritas utama, bukan pelengkap infrastruktur.
  • Penegakan Tata Ruang: Pemerintah perlu menegakkan aturan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan menghentikan laju deforestasi secara tegas.
  • Pertahankan Hutan Kritis: Sisa hutan di hulu-hulu kritis, seperti Ekosistem Leuser di Aceh dan hutan Batang Toru di Sumut harus dipertahankan sebagai “harga mati” mengingat fungsinya yang tak tergantikan dalam mencegah banjir bandang.

Tragedi bencana hidrometeorologi ini, menurut Hatma, hendaknya menjadi titik balik untuk bergerak menuju keseimbangan baru, di mana pembangunan ekonomi tidak boleh mengabaikan daya dukung lingkungan.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *