Tantangan Ekonomi yang Menghadang Generasi Milenial dan Gen-Z
Generasi Milenial dan Gen-Z kini menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang sangat berat. Mulai dari kesulitan mendapatkan pekerjaan, kenaikan harga barang dan properti, hingga masalah utang konsumtif akibat kemudahan mencicil dan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Fenomena ini semakin memperparah situasi keuangan generasi muda.
Penggunaan PayLater yang marak dan gaya hidup serba ingin senang tanpa memenuhi kebutuhan pokok menjadi ancaman serius bagi masa depan finansial mereka. Lantas, bagaimana cara generasi muda keluar dari “jebakan” ini dan mempersiapkan masa depan yang lebih mapan?
Rifdhan Annasrullah, Staff (BEI) Sumatera Utara, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, solusinya ada pada satu kata kunci: “Investasi”. Investasi adalah mengelola aset atau harta sehingga aset tersebut dapat memberikan hasil di kemudian hari. Ia menekankan bahwa langkah pertama adalah mengenali betul perbedaan antara kebutuhan (Needs) dan keinginan (Wants). Kebutuhan adalah hal yang diperlukan agar hidup dengan baik, sementara Keinginan adalah hal yang membuat hidup terasa senang.
Sayangnya, banyak anak muda kini lebih fokus mengejar Wants daripada Needs, didorong oleh tren dan tekanan sosial. Jika kita tidak bijak, godaan untuk terus menerus mencicil dan keinginan untuk selalu mengikuti tren (FOMO) akan menghancurkan pondasi finansial di masa depan.
Apakah Menabung Saja Cukup?
Bagi sebagian orang, menabung di bank sudah dianggap cukup untuk mengamankan uang. Namun, Rifdhan Annasrullah, Staff Wilayah BEI Sumatera Utara, memiliki peringatan bawasannya: Menabung saja tidak akan pernah cukup untuk menghadapi musuh terbesar kekayaan Anda, yaitu Inflasi.
Inflasi didefinisikan sebagai proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus, atau dengan kata lain, proses menurunnya nilai uang secara terus menerus. Rifdhan memberikan ilustrasi yang mencengangkan:
“Pada tahun 1998, harga satu porsi makanan misal bakso mungkin berada di rentang Rp1000-2000 . Namun, di tahun sekarang, harga makanan yang sama bisa mencapai Rp10.000-15.000. Ini adalah bukti nyata bagaimana inflasi menggerogoti nilai uang kita,” jelasnya.
Perbedaan Menabung dan Investasi
Menurut Rifdhan, tujuan utama berinvestasi adalah mengalahkan inflasi dan mempersiapkan masa depan. Investasi sangat krusial dalam menyambut berbagai fase kehidupan, mulai dari mempersiapkan biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, hingga yang paling penting: dana pensiun.
Berikut adalah contoh alokasi pemasukan bulanan yang bisa dijadikan panduan:
- 50% untuk Kebutuhan (Uang makan, transport, paket internet, dll.)
- 20% untuk Tabungan dan Investasi
- 10% untuk Sosial (Sedekah, Zakat, Sumbangan)
- 20% untuk Keinginan (Nongkrong, Jajan, Makan Enak, dll.)
Dengan menerapkan alokasi ini, setiap generasi muda dapat memastikan ada porsi penghasilan yang bekerja keras untuk masa depan mereka, bukan hanya habis untuk pengeluaran konsumtif.
Tips Berinvestasi yang Cerdas
Setelah memahami apa itu investasi dan perbedaan fundamentalnya dengan menabung, langkah selanjutnya adalah memahami bagaimana cara menjadi investor yang cerdas, terutama di pasar modal.
“Setiap investasi terdapat keuntungan dan risiko,” kata Rifdhan Annasrullah. Ia pun memberikan beberapa tips agar generasi muda bisa menjadi investor yang cerdas dan meminimalisir risiko kerugian:
-
Alokasikan Dana dengan Tepat dan Sesuaikan dengan Profil Risiko
Mulailah investasi menggunakan dana khusus investasi, bukan dana kebutuhan pokok atau dana darurat. Tentukan tujuan keuangan, kenali toleransi risiko Anda (konservatif, moderat, atau agresif), serta pahami risiko dan potensi imbal hasil dari setiap instrumen investasi. -
Pelajari Bisnis dan Kondisi Keuangan Investasi yang Dipilih
Hindari keputusan berdasarkan tren atau ikut-ikutan. Pastikan Anda memahami model bisnis, prospek, dan kesehatan keuangan aset atau perusahaan yang menjadi target investasi. -
Terapkan Diversifikasi untuk Meminimalkan Risiko
Sebarkan investasi di berbagai instrumen, sektor, atau aset agar kerugian pada satu instrumen tidak berdampak besar pada keseluruhan portofolio. -
Fokus pada Investasi Jangka Panjang, Bukan Hasil Instan
Investasi membutuhkan waktu dan konsistensi. Hindari sikap ingin cepat kaya dan lakukan investasi secara disiplin serta teratur. -
Lakukan Pemantauan dan Manfaatkan Momentum
Pantau perkembangan ekonomi, berita, serta performa aset secara berkala. Gunakan momen pasar untuk mengambil keputusan beli atau jual secara strategis.
“Ingat, pasar modal itu dinamis,” tutup Rifdhan Annasrullah. Dengan memulai berinvestasi sedini mungkin, memahami risiko, dan berpegang pada prinsip jangka panjang, generasi muda dapat mengubah kebiasaan fomo dan PayLater menjadi kebiasaan terstukstur dan memahami apa kebutuhan yang penting untuk masa depan mereka.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











