Peran Pemuda dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Peran pemuda, khususnya mahasiswa, sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Hal ini menjadi fokus utama dari seminar yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sriwijaya (Unsri). Seminar dengan tema “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional” diadakan bekerja sama dengan Pemuda Inspirasi Nusantara.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan deklarasi pemuda mahasiswa yang menunjukkan komitmen untuk mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan. Dalam acara tersebut, hadir tiga narasumber yang berkompeten di bidang masing-masing, yaitu Dr. Rizky Tirta Adhiguna, S.TP., M.Si., dosen Fakultas Pertanian Unsri; Muhammad, praktisi pertanian di Ogan Ilir; serta M. Yoga Prasetyo, S.H., Ketua Forum Suara Mahasiswa Sumatera Selatan.
Tantangan dalam Ketahanan Pangan Indonesia
Dalam paparannya, Dr. Rizky menjelaskan bahwa meskipun Indonesia sebagai negara agraris terus berkembang dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, tingkat ketahanan pangan masih belum termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data Indeks Ketahanan Pangan Global tahun 2021, Indonesia berada di urutan keenam dari delapan negara yang didata. Negara-negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina lebih unggul dibandingkan Indonesia.
Rizky mengungkapkan beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya indeks ketahanan pangan di Indonesia, antara lain produksi yang belum mencukupi kebutuhan nasional, ketergantungan tinggi terhadap impor pangan, serta kebijakan pemerintah yang dinilai kurang konsisten dan efektif. Selain itu, ada kerentanan terhadap harga dan kebijakan global, serta masalah struktural terkait lahan, produktivitas, dan distribusi. Akses masyarakat terhadap pangan yang tidak merata juga menjadi tantangan besar.
Menurut Rizky, perlu adanya solusi berbasis riset kerakyatan yang bersifat kolaboratif sebagai dasar kebijakan pangan nasional. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, dan petani harus dibangun untuk melakukan inovasi riset, mengembangkan potensi pangan lokal, serta mengoptimalkan teknologi dalam pertanian modern yang berkelanjutan.
Masalah Petani dalam Mendapatkan Pupuk
Muhammad, seorang praktisi pertanian di Ogan Ilir, menyampaikan fakta lapangan bahwa banyak petani kesulitan mendapatkan pupuk, terutama pupuk subsidi. Dalam dua tahun terakhir, masih ada petani yang kesulitan mendapatkan pupuk karena ketersediaannya tidak sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai alternatif, Muhammad bersama para petani lain yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) berinisiatif memproduksi pupuk organik. Ia berharap mahasiswa dapat mendukung petani dalam upaya menjaga ketahanan pangan.
Kebijakan Pemerintah dalam Distribusi Pupuk
Yoga, Ketua Forum Suara Mahasiswa Sumatera Selatan, menjelaskan bahwa pemerintah melalui Pupuk Indonesia menetapkan alokasi pupuk bersubsidi sebesar 9,55 juta ton pada tahun 2025. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Data Pupuk Indonesia per 26 November 2025 menunjukkan ketersediaan pupuk secara nasional mencapai 1,16 juta ton, terdiri atas 715.687 ton pupuk bersubsidi dan 449.308 ton pupuk non-subsidi.
Di wilayah Sumatera Selatan, ketersediaan stok pupuk per 26 November 2025 mencapai 14.135 ton pupuk bersubsidi. Pemerintah juga menerapkan kebijakan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang berlaku sejak 22 Oktober 2025.
Meski begitu, Yoga tidak memungkiri adanya mafia pupuk yang masih aktif. Namun, ia menilai pemerintah sudah mulai serius dalam meningkatkan ketahanan pangan. Proses mendapatkan pupuk semakin mudah dan cepat, dengan petani bisa mengakses pupuk subsidi melalui penyuluh kecamatan.
Tantangan dan Solusi bagi Mahasiswa
Yoga menyampaikan bahwa mahasiswa juga menghadapi tantangan dalam berperan dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan, terutama terkait kurangnya pemahaman, akses yang terbatas, serta faktor ekonomi. Namun, tantangan ini dapat diatasi melalui pendidikan, inovasi, dan kolaborasi pentahelix.
Mahasiswa, sebagai agen perubahan dan intelektual muda, dapat berkontribusi dalam solusi permasalahan kedaulatan pangan. Contohnya, isu pupuk yang menjadi bagian dari proses menuju kedaulatan pangan.
Penutup
Seminar ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, kemudian ditutup dengan deklarasi pemuda mahasiswa untuk mendukung upaya ketahanan pangan nasional, serta penyerahan cinderamata kepada para narasumber. Acara ini menjadi wadah penting untuk membangun kesadaran dan kolaborasi antara pemuda, petani, dan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











