Kondisi Infrastruktur Pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya Memprihatinkan
Di tengah kondisi yang memprihatinkan, sebuah peristiwa buruk terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kubangsari, yang berada di Kampung Kubangsari, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju. Atap salah satu ruang kelas ambruk, mengganggu aktivitas belajar mengajar bagi 263 murid. Meskipun tidak ada korban jiwa, kejadian ini menjadi alarm bahwa infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut sangat memperihatinkan.
Peristiwa ini diduga disebabkan oleh kombinasi antara usia bangunan yang sudah tua dan intensitas hujan tinggi yang terjadi beberapa waktu terakhir. Beruntung, kejadian ini terjadi di luar jam KBM, sehingga para siswa dan guru tidak terkena bahaya.
Kepala SDN Kubangsari, Yeti Setiawati, menjelaskan bahwa ruang kelas yang ambruk merupakan bagian dari dua ruangan yang dibangun melalui program PNM sekitar tahun 2009. Ruangan tersebut awalnya digunakan untuk Kelas IA dan IB. Saat ini, ruang kelas I yang ambruk telah menyatu dengan ruang kelas lainnya. Karena khawatir akan terjadi ambruk susulan, pihak sekolah terpaksa mengosongkan ruangan di sebelahnya.
Ruangan Kelas IB sendiri sudah tidak digunakan untuk KBM sejak tahun 2022 karena kondisinya tidak layak. Ruangan tersebut hanya difungsikan sebagai gudang. Pihak sekolah sudah sering kali mengajukan permohonan perbaikan kepada dinas pendidikan, namun hingga saat ini belum mendapatkan bantuan.
Dengan jumlah siswa sebanyak 263 orang, peristiwa ini memaksa pihak sekolah untuk mencari solusi sementara dalam mengatur jadwal dan lokasi belajar agar KBM tetap berjalan.
Masalah Infrastruktur Pendidikan Meluas
Peristiwa di SDN Kubangsari bukanlah kasus tunggal. Ketua PGRI Kecamatan Taraju, Relin Dodi Permana, S.Pd., mengonfirmasi bahwa kerusakan infrastruktur pendidikan di wilayahnya sudah menjadi masalah yang meluas dan mendesak. Selain SDN Kubangsari, beberapa sekolah lain di Kecamatan Taraju juga menghadapi kondisi serupa. Beberapa di antaranya adalah SDN Sundapura di Desa Banyuasih dan SDN Jayanugraha di Desa Singasari.
Beberapa sekolah ini telah mengosongkan sebagian ruang kelasnya karena ancaman ambruk. Hal ini menunjukkan bahwa masalah infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut tidak bisa diabaikan lagi.
Langkah Cepat Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan komitmen serius dalam mengatasi masalah infrastruktur pendidikan yang rusak. Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, secara langsung meminta dukungan dan doa masyarakat serta bergerak cepat dengan menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti untuk mengamankan anggaran revitalisasi sekolah pada tahun 2026.
Pertemuan strategis ini terjadi selama acara Rapat Koordinasi Kepala Daerah tentang Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran yang digelar di ICE BSD Hall 3, Banten. Momentum ini menjadi penting sebagai lobi langsung pemerintah daerah kepada kementerian terkait.
“Kami memohon doanya. Untuk sekolah-sekolah yang masih rusak, kami akan ajukan kembali untuk revitalisasi pada tahun anggaran 2026,” ujar Cecep.
Sebelumnya, Bupati Cecep telah menekankan bahwa program revitalisasi dari Kemendikdasmen mencakup target awal sebanyak 54 sekolah dasar di Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah ini menunjukkan bahwa puluhan sekolah di berbagai pelosok Tasikmalaya sangat membutuhkan perbaikan agar dapat memberikan fasilitas belajar yang layak.
Program revitalisasi sekolah ini menjadi fokus utama Pemkab Tasikmalaya. Tujuannya adalah meningkatkan mutu pendidikan, sarana prasarana, serta kenyamanan belajar bagi ribuan siswa di seluruh wilayah kabupaten.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











